Ketika Tahun Baru Disambut Dengan KeMaksiatan

lelah-2.jpg

Ketika Tahun Baru Disambut Dengan KeMaksiatan

Tahun baru masehi 2020 hampir tiba. Gegap gempita manusia untuk menyambutnya sedemikian nyata terlihat oleh padangan mata. Namun, sayang, sambutan itu berupa kemaksiatan kepada Rabb semesta alam Dzat yang mempergantikan malam dan siang itu kepada kita. Sungguh, aneh tapi nyata. Semoga Allah menyelamatkan kita darinya.

Sungguh banyak kita dapati pergi dan datangnya tahun baru masehi disambut atau diramaikan dengan pelanggaran kepada ilahi yang justru akan menjauhkan seseorang dari ridha ilahi, mendekatkan seseorang kepada murka ilahi. Yang mana hal-hal seperti ini tidak sepatutnya seorang hamba Allah yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim dan muslimah ikut ambil bagian di dalamnya.

Petasan dan Kembang Api

Di antara bentuk kemaksiatan yang kerap kali kita dapati hal itu menyambut datangnya tahun baru masehi adalah berlomba-lombanya manusia untuk membeli kembang api dan petasan untuk dinyalakan nantinya di malam hari. Mereka membelinya dengan hartanya yang merupakan karunia ilahi. Tindakan seperti ini hakikatnya merupakan tindakan pemubaziran dan menyia-nyiakan harta yang sangat dilarang dan tidak disukai oleh Rabb semesta alam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Sunguh, Allah tidak menyukai bagi kalian tiga hal; banyak cakap (yang tidak berguna), menyia-nyiakan harta dan banyak bertanya. (HR. al-Bukhari, no. 1477)

Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla befirman secara tegas melarang tindakan pemubaziran,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

Dan berikanlah haknya kepada kerabat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu berbuat mubazir. (Qs. al-Isra: 26)

Yakni, janganlah kamu membelanjakan (harta) di luar ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, atau dengan cara pemborosan dan menghambur- hamburkan. (at-Tafsir al- Muyassar, 5/20)

Membelanjakan harta untuk membeli kembang api dan petasan merupakan sebuah pemborosan, penghamburan harta dan pemubaziran. Dan, tindakan tersebut tentu tidak lebih baik daripada menggunakannya untuk membantu kerabat, orang-orang miskin dan orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan bentuk kebaikan yang lainnya.

Bandingkanlah !

Saudaraku…Jika Anda seorang yang berakal, maka saya ingin mengajak Anda untuk memebandingkan dua hal yang sangat jelas perbedaaannya berikut ini.

Bila akal sehat Anda membandingkan antara (A) “menggunakan uang untuk membeli petasan dan kembang api“ dengan (B) “menggunakannya untuk membantu saudara atau kerabat yang membutuhkan atau untuk membantu orang-orang miskin, atau untuk membantu orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan, niscaya diperoleh hasil  yang sangat berbeda,

Jika anda membeli petasan dan kembang api, lalu nantinya di tengah malam Anda nyalakan, sementara kebnyakan orang tengah istirahat, maka itu dipastikan bakal mengganggu kenenangan. Uang lenyap tanpa faedah yang berkesinambungan. Berdosa karena dua hal, pertama, Anda mengganggu orang, kedua, Anda melakukan perkara yang terlarang yaitu ‘pemboran, menyia-nyakan harta dan pemubadziran.

Sedangkan jika Anda menggunakan harta tersebut untuk membeli makanan, atau uang diberikan kepada kerabat atau kepada orang-orang miskin atau kepada orang yang kehabisan bekal di perjalanan, niscaya Anda dengan itu, memberikan rasa kegembiraan dalam hati-sebagaimana telah dimaklumi-, mendapatkan faedah berkesinambungan di dunia dan akhirat. Anda memperoleh pahala yang besar, bahkan berlipatganda. Dan, Anda bakal mendapatkan kecintaan Rabb Anda karena dengan apa yang Anda lakukan tersebut Anda termasuk orang-orang yang berbuat baik dengan harta Anda yang merupakan karunia dari Allah ta’ala Tuhan Anda.  Cobalah Anda baca dan renungkan firman-Nya ini !

وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuatbaiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(Qs. Al-Baqarah : 195)

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ -٢٦١

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Qs. Al-Baqarah : 261)

Saudaraku… jika perbedaan itu sudah jelas. Maka, sudah seharusnya Anda memilih yang terbaik untuk Anda dan meninggalkan perkara yang boleh jadi justru akan membinasakan Anda. Maka, mendayagunakan harta untuk di jalan Allah itulah pilahan terbaik yang harus Anda pilih.

Jika Anda Seorang Muslim

Jika Anda Seorang Muslim, maka Anda tentunya tidak layak untuk mengganggu orang lain, baik dengan lisannya ataupun dengan tangan Anda. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim itu adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya (HR. al-Bukhari, no. 9)

Begitu pula Anda tidaklah layak mengganngu tetangga Anda, baik muslim ataupun non-muslim, karena hal itu dapat menciderai keimanan Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، واللَّهِ لا يُؤْمِنُ، قِيلَ: مَنْ يا رسولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذي لا يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ

Demi Allah, tidak beriman, demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “siapa, wahai Rasulullah? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena perbuatannya (HR. al-Bukhari, no. 6016).

Anda pun semestinya terdorong untuk memberikan rasa gembira kepada orang lain, karena hal tersebut merupakan amal yang utama, dalam hadist disebutkan,

مِنْ أَفْضَلِ الْعَمَلِ إِدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى الْمُؤْمِنِ: تقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، تقْضِي لَهُ حَاجَةً، تنَفِّسُ عَنْهُ كُرْبَةً

Termasuk amal yang paling utama adalah memasukkan kegembiraan terhadap orang mukmin, membantunya untuk melunasi hutangnya, membantunya untuk memenuhi kebutuhanya, membantunya untuk mengentaskan kesusahannya (HR. al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, no. 7679)

Anda pun hendaknya waspada dari mendayagunakan harta Anda untuk perkara yang tidak mendatangkan faedah. Anda takut kepada siksa Allah ‘Azza wa Jalla, karena nantinya Anda dimintai pertanggungan jawab di hadapan pengadilan Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اِكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan beranjak telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia belanjakan, dan tentang jasadnya dalam hal apa ia gunakan (HR. at-Tirmidzi, no. 2417)

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

 175 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: