Keutamaan Bersyukur Kepada Allah

Alhamdulilah.jpg

Betapa banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita; nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, nikmat harta, nikmat tempat tinggal, nikmat memandang, nikmat menedengar, nikmat dapat berbicara dan lain sebagainya. Saking banyaknya nikmat yang Allah karuniakan kepada kita tersebut sampai-sampai kita tidak dapat menghitung berapa jumlahnya. Allah menegaskan,

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Kami telah memberikan kepadamu setiap apa yang kalian memintanya. Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kalian tak akan mampu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat berlaku zhalim dan mengingkari (nikmat).” (QS. Ibrahim : 34)

Demikianlah kita, banyak menzhalimi diri dan tak jarang berbuat zhalim kepada makhluk Allah yang lain, baik dari kalangan manusia ataupun kalangan yang lainnya. Demikian pula kita seringkali mengingkari nikmat yang Allah berikan, baik dengan menganggap bahwa semua yang kita dapatkan adalah bukan karunia dariNya, itu semua diperoleh karena jerih payah usaya yang kita lakukan. Atau, dengan kita mendayagunakan kenikmatan yang Allah karuniakan tersebut bukan dijalan yang benar , di jalan yang diridhai Allah ta’ala. Sungguh kedua hal tersebut (yakni, zhalim dan Mengingkari Nikmat) terlarang.

Zhalim Terlarang

Adapun terlarangnya kezhaliman, Allah ta’ala berfirman, di dalam hadits Qudsi,

يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“Wahai hamba-hambaku, sungguh Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diriKu, dan Aku telah menjadikan kezhaliman tersebut haram (dilakukan) di antara kalian. Oleh karena itu janganlah kalian saling menzhalami satu sama lain.” (HR. Muslim, no. 6737)

Maka, siappun yang melakuakn kezhaliman sungguh ia telah melanggar larangan Allah Dzat yang maha Dahsyat siksaNya, orang tersebut berdosa. Oleh karenanya, hendaklah ia kembali ke jalan yang benar, yakni, jalan Allah ta’ala dengan mengakui kezhaliman tersebut, meninggalkan kezhaliman yang pernah dilakukannya tersebut, berusaha sekuat tenaga dan bertekad bulat untuk tidak kembali mengulangi hal yang sama, bertaubat kepada Allah, memohon ampun kepada Allah Dzat yang Mahapengampun. Alangkah baiknya apa yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya yang mulia Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang sekaligus adalalah mertuanya sendiri karena putrinya yang bernama ‘Aisyah adalah salah seorang istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عن أبي بكر الصديق أنه قال لرسول الله صلى الله عليه و سلم علمني دعاء به في صلاتي : قال (قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ).

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ajarilah aku suatu doa untuk aku berdoa dengan doa tersebut di dalam Shalatku!, Beliau bersabda, “Ucapkanlah, ‘Ya Allah sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak sementara tak ada yang dapat mengaampuni dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, berilah ampunan kepadaku, pengampunan dari sisiMu serta kasihsayangilah aku, sesungguhnya Engkau Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (HR. Ibnu Majah, no. 3835 dan yang lainnya)

Mengingkari Nikmat juga Terlarang

Pembaca yang budiman, mengingkari nikmat juga terlarang. Maka, kita tidak boleh menisbatkan kenikmatan yang kita dapatkan kepada diri kita sendiri, misanya, kita mengatakan “Saya mendapatkan kesemuanya ini karena kepandaianku untuk mendapatkannya”. Ungkapan seperti ini tidak boleh, hal demikian karena pengucapnya menisbatkan kenikmatan tersebut kepada dirinya, ia meniadakan Dzat yang sesungguhnya menganugerahkan kenikmatan tersebut kepadanya. Padahal sesungguhnya Allahlah yang mengaruniakan segala bentuk kenikmatan kepadanya. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman di dalam kitabNya,

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Dan nikmat apa saja yang ada pada kalian itu adalah dari Allah (datangnya).” (QS. An-Nahl : 53)

Maka, jika seseorang menisbatkan kenikmatan kepada selain Allah, ini terlarang dan ia tak jauh beda dengan perilaku dan sikap Qorun yang telah diberikan kepadanya kekayaan yang luar biasa namun ia mengatakan,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

“Sesungguhnya aku diberi itu semunya atas ilmu yang aku miliki.” (QS. Al-Qashash : 78)

Ia mengingkari nikmat Allah dengan menisbatkan kenikmatan tersebut kepada selain Allah Dzat yang hakikatnya dialah yang telah mengaruniakan segala nikmat.

Seharusnya, ia menisbatkan kenikmatan tersebut kepada Allah seperti halnya yang diucapkan Nabiyullah Sulaiman yang Allah telah mengaruniakan kepadanya berbagai nikmat, Sulaiman berkata,

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“Ini kesemuanya dari karunia rabbku untuk menguji diriku apakah aku akan bersyukur ataukah aku akan mengkufurinya.” (QS. An-Naml : 40)

Sungguh ungkapan Sulaiman menceritakan pengakuan yang benar lagi tulus bahwa kenikmatan yang ia dapatkan semata-mata karunia dari Allah ‘azza wajalla. Dan, sesungguhnya ini merupakan bentuk kesyukuran kepada Allah atas nikmatnya, karena di dalamnya terkandung pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wajalla. Lalu, apakah Sulaiman mendayagunakan nikmat yang Allah karuniakan kepadanya tersebut untuk perkara yang diridhai Allah ataukah sebaliknya? Jawabannya adalah yang pertama. Ini berarti bahwa Sulaiman membuktikan kebenaran kesyukurannya tersebut kepada Allah ta’ala. Maka, dia termasuk orang-orang yang benar-benar bersyukur kepadaNya, ia tidak termasuk orang yang mengingkari kenikmatanNya. Maka, demikian inilah semestinya yang kita lakukan, yaitu bersyukur kepadaNya atas segala nikmat yang dikaruniakanNya, karena Allah memerintahkan kita seperti itu sebagaimana dalam firmanNya,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah Aku nisaca Aku ingat padamu dan bersyukurlah kepadaKu dan jangan engkau mengkufuriKu.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Keutamaan Bersyukur

Bila seorang hamba bersyukur kepada Allah ta’ala atas segala nikmatnya sungguh kesyukurannya tersebut kemaslahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Allah Dzat yang Maha kaya, tidak membutuhkan makhluknya berfirman,

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

“Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengkufurinya, maka sesungguhnya rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml : 40). Dia juga berfirman,

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengkufuri maka sesungguhnya Allah Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Lukman: 12)


Di antara bentuk kemaslahatan yang akan kembali kepada orang yang bersyukur kepada Allah atas karunia yang Allah berikan kepadanya adalah bahwa Allah akan memberikan tambahan kenikmatan kepadanya. Bukankah Allah telah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah tatkala Rabb kalian memaklumkan bahwasanya jika kalian bersyukur niscaya akan Aku tambahkan (nikamatKu) kepada kalian, dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Bisa jadi, tambahan nikmat yang Allah berikan tersebut bentuknya sama dengan kenikmatan yang pernah diterima hanya berambah kuantitas atau jumlahnya atau kadarnya atau intensitasnya. Bias jadi pulah, tambahan nikmat yang akan Allah berikan tersebut lain bentuknya hanya lebih utama nilainya dari nikamat yang pernah didapatkan. Maka, sungguh ini adalah bagian dari keutamaan bersyukur kepada Allah ta’ala atas segala nikmatnya. Maka, semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk bersyukur kepadaNya sehingga kita akan mendulang seabreg keutamaannya. Aamiin. Wallahu a’lam.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.


Penyusun : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

1,630 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: