Keutamaan Malam Kemuliaan

Keutamaan-Malam-Kemuliaan.jpg

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhoinya- bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mencara pahala, niscaya diampunilah dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari, no. 4/225 dan Muslim, no. 957)

* * *

Hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan akan keutmaan malam kemuliaan dan melakukan shalat ketika itu. Malam tersebut adalah malam yang agung yang Allah memuliakannya, Allah menjadikan malam tersebut lebih baik daripada 1000 bulan dalam hal keberkahannya dan keberkahan amal shaleh yang dilakukan pada waktu tersebut. Amal shaleh yang dilakukan pada waktu itu adalah lebih utama daripada ibadah yang dilakukan selama 1000 bulan, yang kurang lebih adalah 83 tahun 4 bulan. Dan, barangsiapa yang melakukan shalat pada saat itu kerena iman dan mengharapkan pahala dari Allah niscaya dosa-dosa diampuni. Dan, Allah menurunkan dalam hal keutamaan ini beberapa ayat yang dibaca. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan : 3-4)
Maka malam itu adalah malam yang diberkati, banyak kebaikan di dalamnya karena keutamaannya dan keagungan pahala yang diperoleh orang-orang yang beramal shalat pada waktu itu. Dan di anatara keberkahannya adalah Allah ta’ala menurunkan Al-Qur’an pada malam tersebut. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad-Dukhan : 3-4)

Maka malam itu adalah malam yang diberkati, banyak kebaikan di dalamnya karena keutamaannya dan keagungan pahala yang diperoleh orang-orang yang beramal shalat pada waktu itu. Dan di anatara keberkahannya adalah Allah ta’ala menurunkan Al-Qur’an pada malam tersebut. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul Qadar. Tahukah engkau apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar : 1-5)

Ibnu Katsir -semoga Allah merahmatinya- berkata, firmanNya, (artinya), pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya, yakni, banyak para malaikat yang turun pada malam tersebut karena banyaknya kebaikannya, para malaikan turur besamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat; seperti mereka turun ketika dibacanya Al-Qur’an , mengelilingi perkumpulan orang yang melakukan dzikir, mereka mengepakkan sayapnya dengan sebenarnya untuk penuntut ilmu sebagai bentuk pengagungan kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/465)

Lailatul Qadar, tentu saja terdapat pada bulan Ramadhan, karena Allah menurunkan Al-Qur’an pada bulan tersebut. Allah subhanahu wata’ala telah mengkhabarkan bahwa turunnya Al-Qur’an itu pada bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman, إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada lailatul qadar),) شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran) (QS. Al-Baqarah : 185), yakni, diturunkan keseluruhannya ke langit dunia dan merupakan turunnya ke dunia. (Al-Mursyid Al-Wajiz, hal. 115, 129, Abu Syamah dan At-Tidzkaar, hal 23, Al-Qurthubi)

Dan firmanNya, لَيْلَةِ الْقَدْرِ dengan huruf dal disukun, bisa jadi berasal dari “syaraf” (kemuliaan) dan Al-Maqam (kedudukan), seperti dikatakan, Fulan memiliki kedudukan yang agung. Sehingga penyandaran malam kepadanya masuk ke dalam bab penyandaran sesuatu kepada sifatnya, maknanya, malam yang mulia. Bisa juga berasal dari التقدير والتدبير (penentuan dan pengaturan), maka penyandarannya masuk ke dalam bab penyandaran zharaf kepada sesuatu yang tercakup di dalamnya, maknanya menjadi, malam yang di dalamnya ditentukan segala hal yang akan terjadi pada tahun tersebut. Sebagaimana firmanNya فيها يفرق كل أمر حكيم (pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah) (QS. Ad-Dukhan : 4)

Qatadah mengatakan : pada malam itu dijelaskan segala urusan tahun tersebut. (HR. ath-Thabari di dalam Tafsirnya, 25/65, al-Baihaqi di dalam “Fadha-il al-Auqaat, hal. 216, dan isnadnya shahih). Ibnu al-Qayyim mengatakan dan inilah yang shahih (Syifa-u al-‘Alil, Ibnul Qayyim, hal. 42) Selesai perkataan beliau. Yang Nampak tidak masalah kedua makna ini. Wallahu a’lam

Sabda beliau, إِيمَانًا yakni, karena iman kepada Allah dan iman terhadap apa yang Allah telah siapkan bagi orang yang qiyamullail pada malam yang agung ini berupa pahala, adapaun makna, احْتِسَابًا yakni, untuk memperoleh pahala dan mencari pahala.

Maka, malam ini adalah malam yang agung Allah memilihnya sebagai waktu untuk memulai turunnya Al-Qur’an. Oleh sebab itu, selayaknya seorang muslim mengetahui kedudukannya dan tentunya menghidupkannya karena iman dan tamak terhadap pahala Allah ta’ala, barangkali Allah azza wajalla mengampuni dosanya yang telah lalu. Dan, sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti agar tidak melalaikan malam ini, jangan pula menyepelekannya dengan tidak menghidupkannya, hal tersebut dilakukan oleh nabi agar seorang muslim tidak diharamkan dari memperoleh kebaikannya,

Abu Hurairah meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian bulan yang diberkati. Allah azza wajalla mewajibkan puasa kepada kalian puasa (di siang harinya). Pada bulan tersebut pintu-pintu langit dibuka. Bulan itu pintu-pintu neraka ditutup, para dedengkot setan dibelenggu. Pada bulan itu Allah memiliki sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa diharamkan dari mendapatkan kebaikannya, sungguh ia telah diharamkan mendapatkan kebaikan yang banyak.”

Dan, hendaknya seseorang memberanyak doa pada malam-amlam yang diharapkan di dalamnya terdapat lailatul qadar, berdoa dengan doa yang ditunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummul Mukminin ‘Aisyah ketika ia berkata, wahai Rasulullah apa pendapat Anda jika aku mengetahui lailatul qadar, apa yang hendaknya aku ucapkan, beliau bersabda, ucapkanlah olehmu,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Anniy.

Ya Allah, sesungguhnya engkau pemberi maaf, menyukai pemberian maaf. Maka, beri maaflah aku.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3513, Ibnu Majah, no. 3850, Ahmad, 6/171, 182, 183, 208, dan an-Nasa-I di dalam “Amalul Yaumi wal Lailati, hal. 499. At-Tirmidzi berkata : ini hadis hasan shahih)

Ibnu Katsir berkata, dan dianjurkan untuk memperbanyak doa pada seluruh waktu. Dan pada bulan Ramadhan hendaklah diperbanyak frekuensinya dan pada sepuluh malam terakhir dari bulan ramadhan, kemudian pada malam-malam ganjilnya hendaklah lebih banyak lagi intensitasnya. Dan dianjurkan untuk memperbanyak doa ini. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/472)

Sumber :

Ahaadiitsu Ash-Shiyam; Ahkaamun wa Aadaabun, (Pasal Kesepuluh: Fii al-‘Asyrah al-Awakhir Min ramadhan, Hadis Ketiga : Fii Fadhli Lailatil Qadri karya : Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, Dosen di Al-Imam Muhammad bin Sa’ud Islamic University, Cabang Qosim, KSA.

Penyusun : Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

410 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: