Connect with us

baru

Keutamaan Sepertiga Akhir Bulan Ramadhan

Published

on

Saudara-saudaraku sekalian, telah tiba sepertiga akhir bulan Ramadhan, di dalamnya terdapat berbagai kebaikan, keutamaan, kekhususan, dan pahala yang melimpah.

Di antara kekhususannya, Nabi ﷺ dahulu bersungguh-sungguh menghidupkannya dengan berbagai amalan, melebihi waktu-waktu lainnya. Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, ia berkata

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Rasulullah ﷺ sungguh-sungguh pada sepertiga akhir bulan Ramadhan, melebihi kesungguhannya di waktu yang lain.

Disebutkan pula dalam Ash Shahihain, juga dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, ia berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Jika Nabi ﷺ memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

Disebutkan dalam Al Musnad, masih dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, ia berkata

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وَنَوْمٍ فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَر

Rasulullah ﷺ mencampur antara shalat dan tidur selama dua puluh hari (pertama bulan Ramadhan). Ketika memasuki sepertiga akhir (bulan Ramadhan), beliau menyingsingkan lengan bajunya dan mengencangkan sarungnya.

Hadis-hadis ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan sepertiga akhir bulan Ramadhan. Nabi ﷺ dahulu beramal dengan sungguh-sungguh di dalamnya, lebih dari waktu yang lain. Ini mencakup kesungguhan beliau dalam segala jenis ibadah, baik shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah, ataupun lainnya.

Maksud dari mengencangkan sarungnya adalah belau menjauhi istri-istrinya (dari berjima’) untuk berkonsentrasi dalam shalat dan dzikir. Beliau menghidupkan malam dengan shalat malam, membaca Al Qur’an, serta dzikir, baik dengan hati, lisan, dan anggota tubuh beliau. Ini disebabkan oleh kemuliaan malam-malam tersebut, serta untuk mencari malam Lailatul Qadar, di mana orang yang melaksanakan shalat malam di dalamnya dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Zhahir (lahiriyah) hadis tadi menunjukkan bahwa beliau ﷺ menghidupkan seluruh malamnya dengan beribadah kepada Rabbnya, baik dengan dzikir, membaca Al Qur’an, shalat, mempersiapkan sahur, dan sebagainya. Dengan pernyataan ini, terjadi kompromi antara hadis di atas dan hadis yang disebutkan dalam shahih muslim, dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا, ia berkata :

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَامَ لَيْلَةً حَتَّى الصَّبَاحِ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melakukan shalat semalam suntuk hingga datangnya pagi.

Sebab, maksud dari menghidupkan malam pada sepertiga akhir Ramadhan adalah bukan hanya dengan melakukan shalat, akan tetapi juga disertai dengan ibadah-ibadah yang lain. Dan yang dinafikan oleh ‘Aisyah hanyalah pelaksanaan shalat semalam suntuk. Wallahu A’lam.

Perkara lain yang menunjukkan keutamaan sepertiga akhir Ramadhan adalah Nabi ﷺ membangunkan keluarganya untuk melaksanakan dzikir dan shalat di waktu-waktu ini, disebabkan semangat beliau untuk memanfaatkan malam-malam yang penuh berkah dengan ibadah-ibadah yang pantas. Ini adalah kesempatan emas sekaligus harta yang berharga bagi orang-orang yang diberi taufiq oleh Allah ﷻ. Tidak selayaknya seorang mukmin yang berakal membiarkan diri dan keluarganya terlewatkan saat yang berharga ini. Ia tidak lain hanyalah merupakan malam-malam yang berbilang, di mana seseorang mengharap anugerah Allah yang mengantarkannya meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sungguh banyak dari kaum Muslimin yang tertimpa kerugian yang sangat besar tatkala mereka melewatkan waktu-waktu berharga ini dalam berbagai perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka menghabiskan sebagian besar malamnya dengan permainan yang batil, namun ketika datang waktu shalat, mereka tertidur. Mereka membiarkan diri mereka melewatkan kebaikan yang banyak yang bisa jadi tidak akan mereka jumpai lagi setelah tahun ini untuk selamanya. Mereka terjerat tipu daya dan permainan setan yang bermaksud untuk mencegah serta menyimpangkan mereka dari jalan Allah.

Allah ﷻ berfirman

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.” (Qs. Al Hijr : 42)

Hanya orang yang berakal yang tidak mau mengangkat setan menjadi walinya, sebagai pengganti Allah, karena dia mengetahui bahwa setan itu memusuhinya. Tentu saja ini bertentangan dengan akal dan iman.

Allah ﷻ berfirman

أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada Ku, sedang mereka adalah musuhmu ? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim (Qs. Al Kahfi : 50)

Allah ﷻ berfirman

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala (Qs. Fathir : 6)

Di antara kekhususan sepertiga akhir Ramadhan adalah Nabi ﷺ dahulu melaksanakan I’tikaf pada saat tersebut. I’tikaf adalah berdiam di masjid untuk mengonsentrasikan diri dalam melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ. Ini merupakan perkara yang sunnah, tercantum dalam Kitabullah dan hadis Nabi ﷺ.

Allah ﷻ berfirman

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu ber’itikaf dalam masjid … (Qs. Al Baqarah : 187)

Nabi ﷺ telah melaksanakan I’tikaf (sebagai realisasi dari ayat tersebut). Demikian pula para sahabat, baik ketika Nabi ﷺ masih hidup maupun setelah beliau wafat. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudriy رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepertiga awal Ramadhan, lalu beliau beri’tikaf pada sepertiga kedua dari Ramadhan, kemudian beliau bersabda

إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ

Sesungguhnya aku beri’tikaf pada sepertiga awal (Ramadhan) untuk mencari malam ini (Lailatul Qadar), kemudian aku beri’tikaf pada sepertiga kedua. Setelah itu ada yang mendatangiku dan berkata : Sesungguhnya Lailatul Qadar itu berada pada sepertiga akhir, barang siapa di antara kalian yang ingin melakukan I’tikaf, maka hendaklah ia lakukan. (HR. Muslim)

Disebutkan dalam Ash Shahihain, dari ‘Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Bahwa Nabi ﷺ melakukan I’tikaf pada sepertiga akhir Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Dan para istri beliau melakukan I’tikaf sepeninggal beliau.

Disebutkan pula dalam shahih Al Bukhari, juga dari ‘Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Nabi ﷺ beri’tikaf selama sepuluh hari untuk tiap Ramadhan. Namun beliau ber’itikaf selama dua puluh hari pada tahun wafatnya beliau.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ عَامًا فَلَمَّا كَانَ فِي الْعَامِ المْقُبْلِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ

Nabi beri’tikaf pada sepertiga akhir Ramadhan. Beliau pernah tidak beri’tikaf selama setahun, dan pada tahun berikutnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Ahmad dan At Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa jika Nabi ingin beri’tikaf, beliau melakukan shalat Subuh, kemudian beliau memasuki tempat I’tikafnya. Setelah itu ‘Aisyah meminta izin kepada beliau untuk beri’tikaf, dan beliau mengizinkan. ‘Aisyah kemudian mendirikan kemah. Demikian juga dengan Hafshah. Ketika Zaenab melihat hal itu, dia juga meminta untuk dibuatkan kemah. Sewaktu Nabi melihat beberapa kemah, beliau bersabda, “Apa ini ?” Para sahabat menjawab, “Kemah ‘Aisyah, Hafshah, dan Zaenab.” Beliau melanjutkan “Apakah mereka menginginkan kebaikan dengannya ? Bongkarlah kemah-kemah tersebut agar aku tidak melihatnya.” Akhirnya kemah-kemah tersebut dibongkar dan Nabi tidak jadi melakukan I’tikaf pada bulan Ramadhan tersebut. Beliau menundanya hingga sepertiga awal dari bulan Syawal. (Kisah ini diambil dari Al Bukhari dan Muslim dari beberapa riwayat)

Imam Ahmad berkata : “Saya tidak mengetahui adanya perselisihan di kalangan ulama tentang sunnahnya I’tikaf.”

Maksud dari I’tikaf adalah putusnya hubungan seseorang dari manusia lainnya untuk berkosentrasi melakukan ketaatan kepada Allah dalam salah satu masjidnya dengan tujuan mencari pahalanya, karunianya, serta Lailatul Qadar. Oleh sebab itu, seharusnya orang yang melakukan I’tikaf tersibukan dengan dzikir, membaca Al Qur’an, shalat, serta berbagai ibadah lainnya. dia seharusnya menjauhi perkara-perkara yang tidak bermanfaat untuknya, seperti membicarakan dunia. Namun ia boleh melakukan sedikit pembicaraan yang dibolehkan, baik dengan keluarga, ataupun selainnya untuk suatu kemaslahatan.

Disebutkan dalam hadis Ummul Mukminin, Shafiyyah, ia berkata, “Nabi dulu melakukan I’tikaf, kemudian aku mendatangi beliau di malam hari untuk membicarakan sesuatu dengan beliau. Lalu aku berdiri untuk pulang ke rumahku, dan Nabi berdiri bersamaku (Muttafaq ‘Alaih)

Diharamkan bagi orang yang beri’tikaf untuk melakukan jima’ atau hal hal yang mengantarkan kepadanya seperti ciuman, dan rabaan dengan syahwat.

Allah ﷻ berfirman

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid … (Qs. Al Baqarah : 187)

Adapun tentang keluarnya dia dari masjid, jika yang keluar hanyalah sebagian badannya, maka hal ini tidak mengapa. Diriwayatkan dari hadis ‘Aisyah, ia berkata

Nabi pernah mengeluarkan kepalanya dari masjid padahal beliau dalam keadaan beri’tikaf, lalu aku mencuci kepala beliau, meskipun aku sedang haid. (HR. Al Bukhari)

Di dalam riwayat lain disebutkan

“Aisyah menyisir rambut Nabi, padahal ia dalam keadaan haid dan Nabi dalam keadaan beri’tikaf di masjid. Nabi menyodorkan kepalanya kepada ‘Aisyah yang tetap berada di kamarnya.”

Dan jika dia keluar dengan seluruh badannya dari masjid, maka terdapat tiga bentuk dalam perkara ini :

Pertama, Dia keluar untuk suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, baik secara tabiat atau pun syariat, seperti buang air besar dan buang air kecil, wudhu, mandi wajib, makan, minum dan lain sebagainya. Jika hal hal itu memang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, maka dia diperbolehkan keluar masjid. Adapun jika bisa dilakukan di dalam masjid, maka dia tidak boleh keluar. Misalnya, dia beri’tikaf di suatu masjid yang di dalamnya terdapat kamar mandi sehingga ia bisa buang hajat dan mandi di sana, atau ada yang selalu mengantarkan makanan.

Kedua, Dia keluar untuk suatu ketaatan yang tidak wajib dilakukan, seperti menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah, dan semisalnya. Dalam kondisi ini, hendaklah dia tetap tidak keluar dari masjid (karena itu akan merusak I’tikafnya). Kecuali jika keluarnya tersebut telah disyaratkan sejak awal I’tikafnya. Misalnya, ada orang sakit yang ia khawatirkan wafatnya atau harus senantiasa ia kunjungi. Jika ia mensyaratkan hal itu sejak awal I’tikafnya, maka tidak mengapa.

Ketiga, Dia keluar untuk suatu perkara yang membatalkan I’tikaf, seperti jual beli, jima’ dengan istri, dan semisalnya. Semua itu tidak boleh dilakukan, baik dengan syarat atau tidak, karena hal itu menafikan dan membatalkan maksud dari i’tikaf.

Di antara kekhususan lain sepertiga akhir dari Ramadhan adalah di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka sadarilah keutamaan sepertiga akhir bulan ini, dan janganlah kalian menyia-nyiakannya, semoga Allah merahmati kalian. Waktunya demikian berharga dan kebaikan-kebaikannya tampak dengan nyata.

Ya, Allah, berilah taufiq kepada kami untuk mengerjakan perkara-perkara yang baik bagi agama dan dunia kami, baguskanlah hasil akhir dari perbuatan kami, muliakanlah tempat kembali kami, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh kaum Muslimin dengan rahmat Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya.

 

Sumber :
Majalis Syahri Ramadhan, Muhammad bin Shalih Al Utsaimin (hal. 154-158)

Amar Abdullah bin Syakir

 

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

 

Yuk Donasi Paket Berbuka Puasa Bersama
Ramadhan 1442 H / 2021 M

TARGET 5000 PORSI
ANGGARAN 1 Porsi Rp 20.000

Salurkan Donasi Terbaik Anda Melalui

Bank Mandiri Syariah
Kode Bank 451
No Rek 711-330-720-4
A.N : Yayasan Al-Hisbah Bogor
Konfirmasi Transfer via Whatsapp : wa.me/6285798104136

Info Lebih Lanjut Klik Disini

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aqidah

Syiar Ahli Tauhid

Published

on

Talbiyah merupakan syi’ar para jama’ah haji semenjak Nabi-عَلَيْهِ السَّلَامُ-berseru di tengah-tengah manusia agar menunaikan haji sebagai bentuk dari melaksanakan firman Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-,

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ [الحج : 27]

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh (al-Hajj : 27)
Dulu, orang-orang Arab di zaman Jahiliyah, mereka berhaji dan bertalbiyah. Akan tetapi, mereka memoles haji mereka dan talbiyah mereka dengan sesuatu yang biasa mereka lakukan berupa kesyirikan terhadap Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-, seraya mengatakan :

«لَيَّبْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، إِلَّا شَرِيْكًا هُوَ لَكَ تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ»

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang merupakan milik-Mu, Engkau menguasainya dan apa yang dia kuasai.
Datanglah Nabi penutup-صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ –untuk menampakkan tauhid dengan terang-terangan dan menghancurkan bangunan-bangunan kesyirikan. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ –bertalbiyah dengan tauhid :

«لَبَّيْكَ اَللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمًلْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ»

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya pujian dan kenikmatan adalah milik-Mu, dan, kerajaan itu (juga milik-Mu), tidak ada sekutu bagi-Mu.
Dan dulu, manusia (yakni, sebagian kalangan sahabat Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-) , menambahkan atas talbiyah Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-namun beliau tidak mengingkari tindakan mereka tersebut selagi mereka berada di atas tauhid. Akan tetapi, beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- melazimi talbiyah yang dibacanya tersebut, tidak menambahkan redaksinya. Maka, di dalam talbiyah tersebut terdapat pentauhidan/pengesaan terhadap Allah- عَزَّ وَجَلَّ-dan penafian adanya kesyirikan terhadap-Nya. Juga, penetapan pujian, kenikmatan dan kerajaan adalah milik Allah- عَزَّ وَجَلَّ- semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Telah valid riwayat dari Ibnu Umar- رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-bahwa ia bertalbiyah dengan talbiyah yang dibaca Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan ia menambahkan ungkapan ini :

«لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ» رواه مسلم

«لَبَّيْكَ مَرْغُوْبًا وَمَرْهُوْبًا إِلَيْكَ، ذَا النَّعْمَاءِ وَالْفَضْلِ الْحَسَنِ» ابن أبي شيبة،

Seperti disebutkan oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari.
Dan diriwayatkan dari Anas (bahwa ia menambahkan talbiyahnya dengan ungkapan :

«لَبَّيْكَ حَجًّا حَقًا تَعَبُّدًا ورقًا»

Talbiyah dimulai semenjak telah berihram dan terus berlanjut hingga seorang yang umrah melihat Ka’bah. Ketika itu, ia menghentikan talbiyah dan memulai tawaf. Sedangkan orang yang menunaikan haji, talbiyah dimulai semenjak telah berihram dan terus berlanjut hingga ia melempar Jumrah Aqabah pada hari Nahar (hari penyembelihan, tanggal 10 Dzulhijjah)
Disunnahkan mengeraskan suara untuk bertalbiyah. Karena, haji yang paling utama adalah al-‘Ajju dan ats-Tsajju. al-‘Ajju, yaitu, mengeraskan suara dengan talbiyah. Sedangkan ats-Tsajju adalah menumpahkan darah pada hari Nahar, yakni, menyembelih hadyu dan kurban (pada tanggal 10 Dzulhijjah)
Dan di dalam hadis, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

«أتاني جبريل فقال يا محمد، مُر أصحابك أن يرفعوا أصواتهم بالتلبية فإنها من شعائر الحج»

Jibril pernah mendatangiku, lalu ia mengatakan, ‘Wahai Muhammad ! Perintahkanlah sahabat-sahabat-Mu agar mereka mengeraskan suara mereka ketika bertalbiyah. Karena sesungguhnya talbiyah itu termasuk syiar haji. (HR. al-Hakim, dan dia menshahihkannya, dan adz-Dzahabi menyetujuinya.)
Dan, pengulangan talbiyah dan pengulangan lafazh ‘Labbaika’ (Aku penuhi panggilan-Mu) memberikan faedah berkelanjutannya pemenuhan panggilan, yakni, panggilan-Nya dipenuhi setelah panggilan-Nya dipenuhi. Ada yang mengatakan, kata tabliyah berasal dari kata ‘al-Luzum’ dan ‘al-Iqomah’, maknanya, ‘Aku berdiri di depan pintu-Mu, setelah (sebelumnya) aku berdiri di depan pintu-Mu dan aku penuhi panggilan-Mu berulang-ulang. Dan aku melazimi berdiri di atas ketaatan terhadap-Mu.
Dulu, para sahabat, mereka memenuhi seruan ketika Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –memanggil mereka. Maka, salah seorang di antara mereka mengatakan : لبيك رسول الله وسعديك (Aku penuhi panggilanmu ya Rasulullah…). talbiyah (memenuhi seruan) terhadap seruan Rasulullah maknanya mengikuti petunjukkannya dan sunnahnya. Adapun talbiyah (memenuhi seruan) terhadap seruan Allah adalah mentauhidkan-Nya dan mentaati-Nya. Dan, seorang muslim tak akan terlepaskan dirinya dari talbiyah dan pemenuhan seruan sampai ia berjumpa Allah- عَزَّ وَجَلَّ – , dan barang siapa suka bertemu Allah niscaya Allah suka untuk bertemu dengannya, dan para Malaikat pun memberikan kabar gembira kepadanya dengan keridhaan-Nya, maka bergembiralah !. Namun, barang siapa tidak suka untuk berjumpa Allah, niscaya Allah (pun) tidak suka berjumpa dengannya.
Dan, balasan bagi orang-orang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya adalah Surga. Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

لِلَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمُ الْحُسْنَى وَالَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُ لَوْ أَنَّ لَهُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَمِثْلَهُ مَعَهُ لَافْتَدَوْا بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ سُوءُ الْحِسَابِ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ [الرعد : 18]

Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhan, mereka (disediakan) balasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan-Nya, sekiranya mereka memiliki semua yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak itu lagi, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu. Orang-orang itu mendapat hisab (perhitungan) yang buruk dan tempat kediaman mereka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman (ar-Ra’d : 18)
Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :
At-Talbiyah Syi’ar al-Mukminin al-Muwahhidin, Dr. Jamal al-Murakibiy

Continue Reading

baru

Tauhid Syiar Haji

Published

on

By

Pertanyaan :

Haji merupakan salah satu bentuk ibadah dari ibadah ummat ini. Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –  mewajibkannya atas para hamba-Nya dan Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengajarkannya kepada ummatnya seraya bersabda,

« خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ»

Ambilah dariku manasik-manasik kalian

Dan tujuan dari ibadah nan agung ini adalah pendeklarasian pengesaan seorang hamba kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى- dan menegakkan dzikir, dzikrullah (mengingat dan menyebut Allah)- عَزَّ وَجَلَّ – , mempersembahkan peribadahan kepada-Nya- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -.

Barangkali Anda-semoga Allah menjaga Anda-, di awal perjumpaan ini, berkenan untuk berbicara melalui program acara ini, tentang beberapa tampilan pentauhidan kepada Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -di dalam ibadah haji ?



Jawaban :

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وأصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،

Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta segenap keluarganya dan para sahabatnya semuanya.

Amma ba’du,

Sesungguhnya Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – telah mensyariatkan haji ke rumah-Nya al-Haram, ketika berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْ الْعَالَمِينَ)،

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. (Ali Imran : 97)

Maka, berhaji ke Baitullah setiap tahun merupakan fardhu kifayah ; haruslah baitullah dikunjungi setiap tahun. Maka, bila ada orang yang cukup melakukannya, gugurlah dosa dari orang-orang yang lainnya. Adapun terkait dengan masing-masing individu, sesungguhnya Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – mewajibkannya satu kali seumur hidup atas orang yang mampu. Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى – berfirman,

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً)

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.

Dan, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

(Mendengar sabda beliau ini) maka berkatalah seorang lelaki, ‘Ya Rasulullah ! Apakah setiap tahun  ?

Namun, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-diam (tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut). Kemudian, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

Lalu, berkatalah kembali lelaki tersebut, ‘Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah ?

Namun, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-diam (tidak menjawab pertanyaan lelaki tersebut). Kemudian, beliau -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

« أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا »

Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian berhaji. Maka, berhajilah kalian.

Berkatalah kembali lelaki itu, ‘‘Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah ? ‘ maka, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-menjawab,

لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ

Seandainya aku katakan ‘Iya’, niscaya wajib (setiap tahun), sedangkan kalian tidak mampu melakukannya.

Jadi, haji (merupakan kewajiban) sekali seumur hidup atas orang yang mampu, karena haji itu dilakukan dari tempat yang jauh. Untuk melakukannya terdapat beban dan kerepotan. Dan haji termasuk jihad di jalan Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –  . Dan termasuk karunia dan kemudahan yang diberikan oleh Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –    adalah menjadikannya sekali dalam seumur hidup atas orang yang mampu. Ini terkait kewajiban secara individu. Adapun terkait dengan kewajiban atas seluruh kaum Muslimin maka haji wajib ditunaikan setiap tahun.

(وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً)

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.



Dan (yang dimaksud dengan) mampu mengadakan perjalanan ke sana, yaitu, adanya bekal dan kendaraan yang layak bagi seseorang yang mencukupinya untuk pergi dan kembali, dan cukup pula di belakangnya bagi orang-orang dibawah tanggungannya, disertai dengan keaman jalan. Maka, bila syarat-syarat ini terpenuhi wajiblah atas seorang muslim untuk menunaikan haji sekali dalam seumur hidup. Adapun melakukannya lebih dari satu kali, maka hal tersebut merupakan sunnah. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

« تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ؛ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ»

Tunaikanlah haji dan umrah silih berganti. Karena sesungguhnya keduanya akan dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa, sebagaimana halnya alat tiup pandai besi dapat menghilangkan karat besi, emas dan perak.

Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga bersabda,

« مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ».

Barang siapa mendatangi rumah ini, sedangkan ia tidak berbuat rafats dan tidak pula berbuat kefasikan/kemaksiatan, niscaya ia kembali dalam keadaan seperti keadaan ia dilahirkan oleh ibunya.

Dan tidak diragukan bahwa syi’ar haji ; syi’ar seorang yang tengah ihram adalah bertalbiyah dengan (ungkapan yang mengandung) pentauhidan (pengesaan) terhadap Allah- سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى -,

« لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»

Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu.

Maka, pentauhidan/pengesaan kepada Allah- عَزَّ وَجَلَّ –  dinyatakan atau dideklarasikan, sebagaimana Allah – جَلَّ وَعَلاَ –berfirman,

(وَإِذْ بَوَّأْنَا لإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِي لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ)

Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud. (al-Hajj : 26)

Maka, rumah ini, ia dibangun di atas tauhid ; dan mengesakan Allah – جَلَّ وَعَلاَ –   dengan ibadah, wajib disucikan dari kesyirikan, dari kebid’ahan, dan perkara-perkara baru yang diada-adakan, dan disiapkan untuk kaum Muslimin. Di zaman kita, Allah telah menyiapkan  untuk rumah ini pemerintahan yang terbimbing yang mengurusi perkara orang-orang yang menunaikan haji dan umrah. Dan pemerintah telah mediakan berbagai macam fasilitas. Ini tentunya termasuk karunia Allah – سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى –   kepada kita dan kepada manusia semuanya. Ini merupakan kenikmatan yang besar yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berikan kepada Negeri yang diberkahi ini. Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan Negeri ini dan Dia-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-menundukkan untuk Negeri ini sesuatu yang dengannya Negeri ini dapat menegakkan rukun yang agung dari rukun-rukun Islam dan menjamin keamanan bagi para jamaah haji. Memberikan kepada mereka berbagai bentuk rizki. Memberikan kepada mereka kenyamanan. Kesemuanya ini merupakan bagian dari kemudahan yang Allah- عَزَّ وَجَلَّ –  berikan kepada masyarakat muslim yang datang ke negeri ini. Sebagaimana Allah – عَزَّ وَجَلَّ –  berfirman,

(أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَماً آمِناً يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا)

Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) sebagai rezki (bagimu) dari sisi Kami ? (al-Qashash : 57)

Dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا  [آل عمران : 97]

Barang siapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. (Ali Imran : 97)

Yakni, ia merasa aman dan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan orang untuk memberikan keamanan terhadap para jamaah haji dan orang-orang yang menunaikan umrah. Segala puji hanya bagi Allah.

Dan pada setiap masa Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-memudahkan untuk rumah ini orang yang akan  mengurusinya dan mengurusi urusan pada jamaah haji dan orang-orang yang menunaikan umrah. Ini termasuk karunia Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan kemudahan dari-Nya.

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Mazhahir at-Tauhid Fi al-Hajj, Syaikh Shaleh bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan-حَفِظَهُ اللهُ-.

Continue Reading

Aqidah

Hukum Seputar 10 Hari Dzulhijjah dan Hari-hari Tasyri’

Published

on

Soal :

Dari saudari pendengar dengan inisial A. A. S. dari kota Jedah, menyampaikan surat yang berisikan suatu masalah, ia mengatan :

Aku pernah mendengar dari seorang guru agama di sekolahku bahwa termasuk disunnahkan puasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah dan bahwa amal shaleh pada sepuluh hari ini merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Bilamana hal ini benar, padahal dimaklumi bahwa hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah yang jatuh setelah hari Arafah dan hari setelahnya  yang merupakan awal hari-hari Tasyriq merupakan hari raya bagi kaum Muslimin, bagi para Jamaah haji dan yang lainnya. Dan termasuk hal yang saya ketahui bahwasanya tidak boleh berpuasa pada hari-hari ied. Maka, apa penjelasan Anda tentang hal tersebut. Jika diharamkan puasanya sementara ia termasuk sepuluh hari pertama ?

Dan apa ganti untuk hari kesepuluhnya jika pada hari tersebut tidak dilakukan puasa ? dan apakah bila aku berpuasa hari-hari ini wajib atasku untuk berpuasa seluruh hari-harinya ? Perlu diketahui bahwa aku berpuasa pada hari ke-6, ke-7, ke-8, ke-9 dan aku tidak berpuasa pada hari ke-10-nya. Mohon juga dijelaskan tentang jumlah hari Idul Fithri, Iedul Adha, apakah ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut ?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.



Jawab :

‘Sepuluh hari’ yang disebutkan, dimutlakkan maknanya ‘Sembilan hari’. Hari iednya tidak dihitung sebagai 10 hari bulan Dzulhijjah. Dikatakan, ’10 hari bulan Dzulhijjah’, yang dimaksudkan adalah ‘9 hari bulan Dzulhijjah’ yang terkait dengan puasa. Dan hari ied tidak untuk puasa, dengan kesepakatan kaum Muslimin, dengan kesepakatan para ulama. Maka, jika dikatakan puasa sepuluh hari, yakni, maknanya, sembilan hari, hari terakhir untuk berpuasa adalah tanggal 9-nya, yang merupakan hari Arafah. Puasa pada hari-hari itu disunnahkan dan merupakan qurbah (pendekatan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-). Dan diriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau berpuasa pada hari-hari tersebut, dan beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga mengatakan tentang hari-hari tersebut : Sesungguhnya amal yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dari pada amal yang dilakukan pada sisa hari-hari yang lainnya. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.”

Maka, di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini disunahkan untuk dzikir, takbir, membaca al-Qur’an, sedekah, termasuk pada hari kesepuluhnya.

Adapun puasa (pada hari kesepuluhnya) maka tidak dilakukan. Puasa khusus pada hari Arafah dan hari-hari sebelumnya. Karena sesungguhnya di hari Ied tidak dilakukan puasa menurut semua ulama. Akan tetapi, pada hari-hari tersebut kaitannya dengan Dzikir, Doa, dan sedekah adalah termasuk ke dalam amal yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepuluh hari Dzulhijjah dan hari raya.

Dan hari-hari ied ada tiga, selain hari ied. Yaitu, tanggal 11, 12, 13. Jadi, jumlah seluruhnya adalah empat hari, yaitu, hari ied (tanggal 10) dan tiga hari tasyriq. Inilah pendapat yang benar menurut para ulama. Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum, serta berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah azza wa jalla.



Jadi, hari-hari itu ada 4 hari untuk bulan Dzulhijjah; yaitu, hari Nahr (penyembelihan), dan tiga hari tasyriq.

Adapun terkait bulan Ramadhan, maka hari raya itu hanya satu hari saja. yaitu, hari pertama dari bulan Syawwal. Inilah dia ied. Adapun selainnya maka bukanlah ied. Seseorang boleh berpuasa pada hari kedua dari bulan Syawal. Karena, ied itu khusus pada hari pertama dalam bulan Syawal saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan (semoga Allah memberikan balasan kepada Anda dengan kebaikan). Lalu, terkait dengan idul adha ? (bagaimana ?) Jazakumullahu khairan.

Syaikh menjawab :

Ada empat, seperti telah disebutkan, yaitu, hari ke-10, hari ke-11, hari ke-12, dan hari ke-13. Semua hari-hari ini merupakan hari-hari ied, tidak dilakukan puasa pada hari-hari tersebut. Kecuali hari-hari tasyriq bisa dilakukan puasa pada hari-hari tersebut bagi orang yang tidak mampu untuk menyembelih hadyu ; hadyu orang yang berhaji tamattu’ dan hadyu orang yang berhaji qiran. Sebagai rukhshah (keringanan) khusus bagi orang yang tidak mampu menyembelih hadyu; hadyu tamattu’ dan hadyu qiran, ia boleh berpuasa tiga hari yang merupakan hari-hari tasyriq, yaitu, hari ke-11, hari ke-12, hari ke-13, kemudian ia berpuasa tujuh hari di tempat keluarganya, di antara keluarganya. Adapun hari ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Bukan karena ketidakmampuan seseorang untuk menyembelih hadyu, tidak pula karena hal yang lainnya, berdasarkan ijmak (konsensus) kaum Muslimin.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Adapun iedul fithri, maka satu hari saja ?

Syaikh menjawab :

Ya, satu hari saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Ingat ya syaikh, bahwa wanita ini (si penanya) tersebut menyebutkan bahwa ia berpuasa sebagian dari hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, ia menyebutkan bahwa ia misalnya berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9, apa arahan Anda dalam kondisi apa yang disebutkan ini.

Syaikh berkata : Coba ulangi !

Pembawa acara :

Kita katakan bahwa si penanya berpuasa pada sebagian hari-hari dari sepuluh dari pertama bulan Dzulhijjah.

Syaikh menjawab :

Tidak mengapa. Apabila ia berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9 ; tidak mengapa. Atau pun ia berpuasa lebih banyak dari itu. Yang menjadi maksud adalah bahwa hari-hari tersebut merupakan hari-hari untuk berdzikir dan hari-hari untuk berpuasa. Maka, apabila ia berpuasa sembilan hari seluruhnya (dari tanggal 1 sampai tanggal 9-nya), maka ini baik. Dan apabila ia berpuasa sebagian hari-harinya, maka semuanya baik. Dan apabila hanya berpuasa Arafah saja (yaitu, tanggal 9) (maka tidak mengapa pula), di mana puasa hari tersebut merupakan puasa yang paling utama dari sepuluh hari pertama ini. Tentang puasa hari Arafah Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, ‘Puasa Arafah, saya berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.’

Hari Arafah merupakan hari nan agung. Disunnahkan puasa pada hari tersebut bagi segenap penduduk kota dan desa seluruhnya. Kecuali, bagi orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji. Mereka tidak berpuasa pada hari Arafah.

Begitu pula sisa hari yang lainnya, sedari hari pertama bulan Dzulhijjah sampai hari Arafah. Disunahkan puasanya sembilan hari. Akan tetapi yang paling utama adalah puasa pada hari Arafah. Puasa ini merupakan puasa sunnah. Adapun pada hari Ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Baik saat tengah menunaikan ibadah haji atau pun tidak.

Orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji tidak berpuasa pada hari Arafah. Yang sunnah adalah orang yang tengah berhaji tidak berpuasa pada hari Arafah. Hendaknya ia berbuka sebagaimana halnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berbuka pada hari Arafah.

Pembawa acara :

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ba’dhu Ahkam ‘Asyr Dzi al-Hijjah Wa Ayyami at-Tasyriq, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz-رَحِمَهُ اللهُ-.

Continue Reading

Trending