Kewajiban Beretika Ketika Mendakwahi Orangtua

Kewajiban Beretika Ketika Mendakwahi Orangtua

آداب عند القيام بالنهي عن المنكر على الوالدين

Berdakwah adalah jalan para Nabi dan Rasul, dan menjadi sebuah kewajiban bagi seseorang yang berilmu untuk mengajak orang lain kepada yang makruf atau melarang dari yang munkar, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS Yusuf: 108)

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).
Namun, jika yang didakwahi adalah orangtua, maka caranya bukan seperti mendakwahi orang lain, karena orangtua memiliki hak khusus atas anaknya, yaitu bakti dan berbuat baik, Allah Ta’ala berfirman:

 

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23).
Namun, memang terkadang terjadi, dimana orangtua kedapatan menyuruh atau meminta anaknya untuk melakukan suatu kemungkaran, seperti kemaksiatan atau lebih parahnya kesyirikan, maka pada saat itu hak Allah adalah segala-galanya, dan kewajiban mentaati perintah orangtua gugur pada permintaannya tersebut, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqman: 15)

Maka, yang terjadi pada saat itu adalah saat anak yang berkewajiban untuk mendakwahi orangtuanya, dan itulah merupakan bakti yang sebenarnya, karena ia tidak rela melihat orangtuanya masih melakukan kemungkaran. Namun seperti yang sudah disebutkan diatas, dengan cara yang berbeda, yaitu lebih mengutamakan kelembutan dan kesabaran, bukan dengan berbantah-bantahan dengan lisan apalagi menggunakan kekerasan dengan tangan, karena Allah Ta’ala tetap memerintahkan untuk mempergauli keduanya dengan baik.

Jadi, jalan yang ditempuh adalah kelemah-lembutan dalam menasehati, dan sabar dalam menanti hasil. Dan juga perlu dilakukan adalah dengan menunjukkan sikap yang baik, menjadi suri tauladan dalam keluarga, karena kebanyak orang awaam terketuk hatinya dengan apa yang dia lihat, bukan dengan apa yang dia dengar, karena mereka tidak suka merasa digurui.
Maka janganlah sampai, menyuruh orangtua kepada sesuatu, namun engkaupun tidak melaksanakannya, atau mengecam orangtua dari suatu perbuatan haram, namun engkau juga menikmati hal haram lainnya. Allah Ta’ala berfirman:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Qur’an)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS Albaqarah: 44)

Terakhir, dan yang utama, adalah berdoa kepada Allah Ta’ala semoga menetapkan hidayah kepada orangtua kita, karena sesungguhnya hidayah adalah dari Allah Ta’ala, bukan dengan kehendak kita.
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ٨:٥٦

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. [Al Qashash/28 : 56]

Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kita bersama orangtua kita dan seluruh orang-orang yang kita cintai di dalam surga-Nya kelak.

Muhammad Hadrami,LC

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Youtube HisbahTv,
Follow Instagram Kami Hisbahnet dan alhisbahbogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *