Khamar

Khamar adalah minuman yang memabukkan terbuat dari perasan anggur yang telah difermentasikan, atau dari air apa saja yang memabukkan.

Para ulama sepakat bahwa khamar haram diminum, namun mereka berbeda pendapat tentang hukum kesucian zatnya, apakah termasuk najis ataukah tidak ?

Pendapat pertama :

Semua para ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali menghukumi khamar adalah najis. Mereka berdalil dengan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [المائدة : 90]

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijs termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah : 90)

Allah menamakan khamar dengan rijs yang berarti kotoran, dan Allah juga memerintahkan untuk menghindari khamar tersebut, dan sesuatu yang kotor yang diperintahkan untuk dihindari adalah najis [1]

Dan juga berdalil dengan firman Allah,

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا [الإنسان : 21]

Dan Allah memberikan kepada mereka minuman yang suci (Al-Insan : 21)

Allah mengatakan  bahwa minuman penduduk Surga itu suci, sedangkan minuman mereka adalah khamar, ini berarti bahwa khamar di dunia hukumnya adalah najis, karena hukum khamar di dunia berbeda dengan hukum khamar di Surga, di dunia khamar diharamkan dan di Surga khamar dibolehkan, maka bila hukum khamar di Surga adalah suci, tentu hukum khamar di dunia adalah najis [2]

Pedapat kedua :

Sebagian ulama di antaranya Al Muzani, Daud Zahiri, Syaukani dan beberapa ulama kontenporer, seperti Ahmad Syakir, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin dan Al-Albani berpendapat bahwa khamar tidak najis [3]

Di antara dalil pegangan para ulama ini :

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang menghadiahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam segentong arak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah mengharamkan arak ?

Laki-laki itu berkata, “Tidak”.

Lalu laki-laki itu berbisik kepada teman didekatnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang engkau bisikkan kepada temanmu ?

Ia menjawab, “Aku perintahkan ia untuk menjualnya.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan menjual khamar”. Lalu laki-laki itu membuka tutup gentong dan menumpahkan khamar ke tanah.(HR.Muslim)

Saat orang tersebut menumpahkan khamarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya diam dan tidak menganjurkannya untuk menumpahkannya ke tempat yang agak jauh dan juga tidak memerintahkan para sahabat untuk membersihkannya, sebagaimana beliau memerintahkan para sahabat untuk membersihkan lantai saat seorang Arab Badui kencing di dalam mesjid[4]. Sikap nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut menunjukkan bahwa khamar tidaklah najis[5]

Para ulama ini menanggapi dalil ulama yang menganggap khamar adalah najis bahwa tidak semua yang diharamkan dan diperintahkan untuk dihindari berarti najis, seperti berhala.

Adapun maksud  khamar yang menjadi minuman penduduk Surga adalah suci bukanlah lawan dari najis akan tetapi tafsir makna suci di sini, yaitu : bahwa bila diminum tidak menyebabkan orang yang meminumnya untuk kencing.

 

Wallahu A’lam

Sumber :

Harta Haram Muamalat Kontenporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA, BMI Publishing, Cetakan Keempat, April 2013, hal 73-75

 

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

 

[1]  Dr. Hasan Al Fakky, Ahkamul adwiyyah, hal 282

[2]  Ibid.

[3]  Al Qarafi, An Nawazil fitthaharah, jilid I, hal 436

[4] Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Saat kami bersama rasulullah di dalam masjid, tiba-tiba seorang Arab Badui yang sedang duduk, berdiri dan kencing di salah satu sudut masjid, maka para sahabat yang hadir menghardik, memakinya dan sebagian berdiri hendak memukulnya, maka Nabi bersabda, “Biarkan dia”, setelah Badui itu selesai, Nabi memanggilnya, seraya bersabda, “Ini adalah masjid, tidak pantas kencing dan buang kotoran disini, masjid dibangun untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca al-Qur’an”, lalu Nabi memerintahkan sebagian sahabat membersihkan najis dengan menuangkan di atas bekas kencing. (HR. Bukhari dan Muslim, lafaznya berasal dari Muslim). Dalam riwayat Bukhari, Nabi bersabda kepada para sahabat yang menghardik badui tersebut,”Sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan urusan manusia dan bukan untuk menyusahkan manusia”. Dan dalam riwayat Abu Daud : badui itu berdoa, ” Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan rahmati seorangpun selain kami berdua! Maka nabi bersabda kepada badui,”Sungguh engkau telah mempersempit rahmat Allah yang luas.”

[5] Dr. Hasan Al Fakky, Ahkamul adwiyyah, hal 282

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *