Kiat Menyongsong Musim yang Penuh Berkah

jembatan.jpg

Di antara bentuk kenikmatan yang besar yang Allah ta’ala karuniakan kepada kita adalah disampaikannya kita kepada bulan yang utama ini, bulan sya’ban. Dan kenikmatan yang tidak kalah besar bila mana Allah ta’ala mengaruniakan taufiq-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengisi hari-hari yang kita lewati dengan amal sholeh yang dibangun di atas keimanan yang benar kepada Allah ta’ala. Karena, bulan ini, sebagaimana dikhabarkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa bulan ini banyak manusia lalai darinya.

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَب وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعُ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ

“Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang manusia lalai darinya. Dan ia adalah bulan yang padanya segala amalan akan diangkat kepada Rabbul ‘Alamin. Maka saya senang amalanku diangkat sementara saya sedang berpuasa.” (HR. Ahmad dan lainnya)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah ta’ala berkata, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عنه “Itu adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang manusia lalai darinya”.

Maka, tatkala seorang hamba mendapatkan taufiq dari rabbNya sehingga ia terhindar dari kelalain di bulan ini, ia dapat memanfaatkan dengan sebaik-baiknya setiap detik kesempatan untuk beramal sholeh, maka sungguh ini adalah nikmat yang besar pula. Maka, kita memohon kepada Allah ta’ala agar Dia memberikan karunia kepada kita berupa taufiq-Nya. Wahai Dzat yang mengabulkan permohonan hambaNya, kabulkanlah permohonan kami.

Kaum muslimin, rahimakumullah.

Sebagian ulama telah memberikan beberapa kiat dalam menyongsong musim yang penuh dengan limpahan kebaikan ini. Di antaranya:

Pertama : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengingatkan, dalam menyambut datangnya musim-musim ibadah, seorang hamba sangat memerlukan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah. Caranya, (yaitu) dengan bertawakkal kepada Allah.

Beliau (Syaikhul Islam) menambahkan, dalam melaksanakan suatu ibadah, seorang muslim berkepentingan dengan beberapa poin (berikut) yang harus diperhatikan menjelang, saat berlangsung dan pasca pelaksanaannya.

1). Mengenai hal yang dibutuhkan sebelum beramal ialah, menunjukkan sikap tawakkal kepada Allah dan semata-mata berharap kepadaNya, agar Dia senantiasa membantu dan meluruskan amalannya.

Ibnu Qayyim menyatakan, para ahlul ilmi telah bersepakat, bahwa salah satu indikasi taufiq Allah kepada hambaNya adalah pertolonganNya kepada hamba. Dan (sebaliknya), salah satu ciri dari kenistaan seorang hamba, yaitu orang yang hanya bermodalkan pada kepercayaan dan kemampuan dirinya semata.

2). Saat penyelesaian ibadah, maka yang perlu diperhatikan seorang hamba ialah ikhlas dalam beramal dan ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3). Usai pelaksanaan ibadah, yang harus dikerjakan ialah memperbanyak istighfar (meminta ampun) atas kekhilafan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Disamping itu, juga harus memperbanyak pujian kepada Allah yang telah memberikan taufiq. Apabila seorang insan bisa memadukan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh Allah.

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Kedua : Sebelum Ramadhan tiba, hal lain yang harus dilakukan seorang hamba ialah bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Banyak dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat. Diantaranya firman Allah azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim : 8).

Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang arti takwa. Takwa ialah, melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram, jawab beliau.

Para ulama menegaskan: “Inilah takwa yang sebenarnya. Adapun mencampur-adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, ini tidak termasuk dalam bingkai takwa, meskipun dibarengi dengan amalan-amalan sunnah”.

Ibnu Rajab Al Hambali menyatakan: “Kewajiban seorang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan larangan agama. Mengekang diri dari makanan, minuman, jima`, sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal yang dibolehkan. Sementara itu, ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar, baik pada bulan Ramadhan maupun bulan lainnya. Pada bulan suci, larangan tersebut tentunya menjadi lebih tegas”.


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

2,917 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: