Kiat Meramu Keharmonisan Rumah Tangga (bag. 2)

Kiat-Meramu-Keharmonisan-Rumah-Tangga-bag-3.jpg

Pembaca yang budiman,

Pada bagian pertama tulisan ini, telah disebutkan dua kiat meramu kehormonisan rumah tangga, yaitu :

1. Legowo (Lapang Dada) dan Saling Memaafkan

2. Lupakan Kesalahan (Terbangkan Kesalahan Dengan Angin Kebaikan)

Berikut adalah kita yang lainnya,

3. Mengetahui Hak Pasangan Hidup Kita

Salah satu faktor dalam menggapai keutuhan dan keharmonisan sebuah rumah tangga ialah dengan mengetahui hak pasangan hidup kita. Jika masing-masing pasangan hidup telah benar-benar menunaikan hak pasangannya dengan baik, tentu keharmonisan di dalam rumah tangga bisa dicapai, sedangkan jika masing-masing pasangan hidup acuh tak acuh dengan hak pasangannya, maka yang ada hanyalah pertikaian dan perang batin.

Hak seorang suami terhadap istrinya ialah supaya istrinya menjaga kehormatan rumah tangganya, mendidik anak-anak, melayani suaminya, dan taat terhadapnya. Hak seorang istri terhadap suami ialah supaya seorang suami memberi nafkah lahir dan batin, menyediakan pakaian dan tempat tinggal, serta menakhodai bahtera rumah tangga dengan arif dan bijak. Apabila masing-masing pasangan telah menunaikan kewajibannya masing-masing, dan memberikan hak kepada pasangannya, niscaya rumah tangga yang harmonis akan tercipta.

4. Kompak Dalam Satu Tim dan Saling Bersinergi

Ketahuilah bahwasanya kehidupan berumah tangga mengalami pasang dan surut,  sesuai dengan roda kehidupan, kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Kadang alur kehidupan berumah tangga datar tanpa masalah, dan kadang bergelombang dengan masalah pelik yang dihadapi, pada saat tersebut janganlah setiap pasangan hobi mencari kambing hitam permasalahan. Jangan suka melemparkan kesalahan pada pasangan, namun katakanlah bahwa kesalahan pasangan adalah tanggung jawab pasangannya, kesalahan suami adalah tanggung jawab istri, dan kesalahan istri adalah tanggung jawab suami, sehingga sebuah rumah tangga diibaratkan seperti sebuah tim yang bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Maka,  dinamika dalam kehidupan berumah tangga sejatinya adalah tanggung jawab semua anggota tim, bukan salah satu dari anggota tim, semakin baik dan kompak sebuah tim bersinergi, bekerjasama maka semakin baik pula dalam menyelesaikan segala problematika hidup dengan arif dan bijak. Sebaliknya pun demikian, semakin egois salah satu anggota tim dan tidak mau bekerja sama, maka hasilnya pun akan semakin ruwet dan runyam.

Allah berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (QS. at-Tahrim (66) : 6)

Allah menjelaskan di dalam ayat tersebut bahwa kesalahan sebuah anggota keluarga adalah tanggung jawab kepala keluarga, kesalahan daripada seorang istri sejatinya adalah tanggung jawab suami, maka jika seorang istri melakukan sebuah kesalahan maka tidak selayaknya seorang suami kemudian menambah keruh suasana dengan ikut menyalahkan istri, namun hendaknya seorang suami introspeksi diri dan mengatakan “Kemana saya selama ini dari mendidik keluarga?.” Demikian pula seorang istri pun harus merasa bahwa dia adalah satu tim dengan suaminya, kapan pun ia berbuat salah maka ia pun juga akan merugikan suaminya, dan kapan pun sebuah rumah tangga merasa bertanggung jawab dengan kesalahan yang terjadi di dalam rumah tangga tersebut, maka rumah tangga akan mendapatkan keharmonisan dan ketenteraman.

Apa kiat yang lainnya ? simak pembahasannya pada bagian ketiga tulisan ini, insya Allah.

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Bulletin an-Nuur, Yayasan al-Sofwa, Jakarta,  edisi : Th. XVIII No. 1122/Jum`at II/Sya’ban 1438 H/12 Mei 2017 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: