Kisah Nyata Tentang Hijab (bag.3)

63.jpg

Selanjutnya…

Ia berkata, “Mungkin aku masih teringat sedikit, apa sebenarnya yang kamu inginkan?” Saya berkata, “Aku ingin mengatakan kepadamu; saya sangat khawatir bila saat sekarang ada orang yang membuat rencana busuk untuk merobek harga dirimu seperti kamu saat sekarang membuat rencana kotor untuk mengganggu harga diri orang lain.” Ia berkata, “Wanita mulia akan tetap mampu menjaga kesucian dan harga dirinya dengan baik tanpa harus tersentuh tangan-tangan jahil sedikitpun meskipun hidup berbaur dengan kaum laki-laki.” Maka aku pun sudah tidak mampu menahan perasaan emosi dalam diriku sambil menarik nafas panjang aku berkata, “Itu adalah tipuan syaithan terhadap dirimu wahai orang yang lemah iman dan karena adanya kelainan pada kepalamu lalu mempengaruhi kesehatan akal dan pikiranmu sehingga merusak pribadimu. Jiwa manusia laksana kubangan air yang menggenang, akan terus bersih selagi tidak kejatuhan batu hingga menjadi keruh. Kehormatan adalah corak jiwa manusia bukan elemen inti, jarang sekali corak dan warna bungkus itu bisa dipertahankan dan mudah sekali luntur oleh sinar matahari.” 

Ia berkata, “Apakah kamu mengingkari kemampuan orang untuk menjaga kehormatannya? 

Saya berkata, “Saya tidak mengingkarinya karena saya melihat bukti masih ada, akan tetapi saya tidak percaya kemampuan itu ada pada laki-laki beringas dan penipu kehormatan. Begitu pula saya tidak percaya kemampuan itu ada pada wanita jalang dan penjaja kehormatan. Masihkah mereka memiliki sisa kehormatan tatkala keduanya melepas batas hijab dan masing-masing bebas menikmati wajah temannya?” 

Di dunia manakah dari negerimu ini, kamu ingin membuat kelinci percobaan kebebasan bergaul antara wanita dan laki-laki. Apakah di dunia orang-orang yang terdidik? Di antara mereka ada yang ditanya: Kenapa kamu tidak menikah? Maka ia menjawab: Semua wanita di negeri ini adalah wanitaku! Ataukah di kalangan mahasiswa? Padahal di antara mereka banyak yang mundur sambil tersipu malu dari teman laki-laki kuliah bila mereka melihat foto sang pacar atau kekasih atau surat cinta dan bunga-bunga asmaranya tersimpan dalam dompetnya? Ataukah di lingkungan orang-orang pandir lagi bodoh yang kebanyakan dari mereka masuk rumah menjadi pembantu terhina setelah keluar menjadi menantu terhormat?” 

Demikianlah kalian (orang-orang kafir barat) sangat tinggi perhatian terhadap masalah wanita dan penuh antusias tatkala berbicara tentang seluk-beluk dirinya. Kenapa begitu serius membahas masalah hijab wanita, tabarruj-nya dan kebebasan wanita Seakan-akan dengan itu semua kalian telah menuntaskan seluruh hak-hak umat yang wajib di pundak kalian dan seakan tidak ada lagi sesuatu yang bisa kamu berikan kepada umat selain itu?! 

Didiklah kaum laki-laki dengan baik sebelum mendidik kaum wanita sebab bila kalian tidak mampu mengarahkan kaum laki-laki maka untuk mengarahkan dan mendidik kaum wanita lebih tidak mampu lagi! 

Masih banyak sekali pintu-pintu kebaikan yang bisa dibanggakan di negeri ini. Kamu masih bisa memilih sesuka hatimu dan biarkan pintu yang satu ini jangan diketuk, sebab bila kalian mencoba untuk membukanya berarti kalian telah membuka pintu bencana yang hebat dan kesengsaraan yang panjang. 

Tunjukkan satu saja bila memang ada seorang laki-laki yang bisa mengendalikan hawa nafsunya tatkala jatuh ke dalam pelukan wanita yang dikaguminya! Dan ucapkan dengan jujur apakah benar wanita mampu menghasung nafsunya bila hatinya telah tertambat dalam pangkuan laki-laki yang dicintainya? 

Kalian telah membebankan sesuatu kepada wanita yang kalian sendiri tidak mampu melaksanakannya dan kalian menghendaki sesuatu yang tidak dikenal oleh dunia wanita. Kalian berusaha menjerumuskan wanita dalam kehidupan yang penuh bahaya, yang kalian sendiri tidak mampu menyelamatkan mereka bahkan sungguh aku menyangka kalian termasuk orang-orang yang merugi. 

Tidak ada seorang pun wanita yang datang mengeluh kepada kalian karena teraniaya (karena berpegang teguh kepada aturan Islam) dan tidak ada yang melapor kepada kalian agar kalian melepas tali belenggu yang mengikatnya, lalu bagaimana mungkin kamu sibuk mengurusi mereka? Kenapa siang dan malam hidupmu kalian penuhi dengan cerita tentang kisah penderitaan kaum wanita? 

Mereka tidak pernah mengeluh kecuali dari kecerobohan dan kepandiranmu serta tidak pernah mengerang kesakitan kecuali dari celotehan dan cercaanmu di majalah-majalah mereka atau di mana saja kau berjalan sehingga merasa jagat raya menyempit akibat ulahmu. 

Dia tidak akan menjadi ahli warismu akan tetapi kamulah ahli waris bagi dirimu sendiri. Janganlah kalian menangisi mereka tapi tangisilah hari-hari yang telah kamu habiskan di suatu negeri yang penuh dengan tabarruj dan kebebasan, yang sarat dengan perbuatan keji dan mesum lalu kamu berusaha dengan paksa mencangkok tanaman pahit itu di negeri yang penuh dengan nilai suci dan bermartabat. 

Bersambung…

Sumber :

Dinukil dari buku berjudulKisah Nyata Tentang Hijab “, karya : Musthafa Luthfi al-Manfaluthi

Amar Abdullah bin Syakir

42 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: