Kisah Nyata Tentang Hijab (bagian.4)

Kisah-Nyata-Tentang-Hijab-4.jpg

Selanjutnya…

Semenjak dahulu kita hidup di negeri yang menjunjung tinggi kehormatan dan kesucian. Kantong kesucian masih terus dalam keadaan terikat dengan kuat, lalu kalian senantiasa berusaha dari hari ke hari mencoba untuk merobek-robek kantong dan melepas tali kehormatan sehingga membuat air kesucian tumpah dan menjadi kering kerontang. Tidak cukup sampai di situ, bahkan kalian datang hari ini ingin mencoba menguras seluruh kehormatan hingga tidak tersisa setetespun. 

Dalam kurun waktu yang cukup lama kaum wanita hidup penuh dalam ketenangan dan kedamaian di rumah mereka. Mereka rela dengan kondisi diri dan kehidupannya, berbahagia dalam menunaikan kewajiban mereka, bersahaja dalam bermunajat di hadapan Tuhan mereka, penuh kasih sayang terhadap anak-anak mereka, senang bercengkrama dengan tetangga, bersenandung tentang masalah keluarga dan rahasia membina rumah tangga serta untuk menumpahkan isi hati. Mereka memandang bahwa kehidupan yang paling mulia hanya patuh kepada orang tua dan tunduk kepada perintah sang suami serta mencari keridhaan mereka. Wanita muslimah di negeri ini sangat paham makna cinta tetapi tidak pernah mengenal kamus asmara, ia mencintai sang suami demi memenuhi hak suami dan mencintai anak demi memenuhi kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Bila wanita lain memandang bahwa cinta sebagai asas pernikahan maka wanita muslimah memandang bahwa pernikahan sebagai asas membangun istana cinta dan kasih sayang. 

Kalian berceloteh kepada wanita muslimah, “Sesungguhnya kerabatmu yang sewenang-wenang terhadap urusanmu tidak lebih pandai dibanding dirimu, bahkan tidak pernah dia mengerti dan faham keinginan dan tuntutan hidupmu sebagaimana kamu mengerti dirimu sendiri. Sebenarnya mereka tidak punya hak untuk campur tangan dalam urusanmu sejauh itu.” Akhirnya celotehanmu itu membuat sebagian wanita muslimah meremehkan orang tuanya dan merendahkan suaminya sehingga rumah tangga yang dahulu hidup bagaikan pengantin yang penuh dengan tawa riang berubah menjadi duka nestapa yang tidak pernah padam apinya dan tidak pernah reda semburan panasnya. 

Kalian membual kepada wanita muslimah, “Kamu harus memilih sendiri pasangan hidupmu supaya keluargamu tidak menipumu yang membuat kamu kecewa dan rusak masa depanmu.” Sehingga wanita muslimah itu memilih calon suami yang lebih jelek dari pilihan orang tuanya sehingga kebahagiaan hidupnya hanya seumur jagung tidak lebih dari satu hari lalu menghabiskan waktu hidup tersiksa dan sengsara untuk selama-lamanya. 

Kalian membisiki wanita muslimah, “Cinta merupakan asas pernikahan.” Sehingga dia sibuk berkelana keliling dunia membolak-balikkan pandangan untuk mencari pasangan untuk membangun jalinan cinta sehingga mata terpejam dari pernikahan karena terlena dengan romantika bercinta. 

Kalian merayu wanita bahwa kebahagiaan rumah tangga hanya bisa tercapai bila sang suami adalah pacar atau teman gaulnya padahal sebelumnya mereka tidak pernah mengerti pacaran sehingga dia setiap hari hanya berganti-ganti pasangan dan mencari pacar baru untuk menghidupkan kembali bara cinta yang dipadamkan oleh pacar yang lama, padahal pacar lama tidak memberi sentuhan cinta sedikitpun dan pacar baru tidak memberi manfaat apa-apa. 

Kamu berkata kepada wanita, “Kita tidak menikah kecuali dengan wanita yang kita cintai dan sayangi serta memiliki kesamaan hobi dan naluri perasaan.” Sehingga dia terpaksa mengenal hawa nafsu dan kesenangan mata keranjang kalian yang membuat wanita tersebut berhias dan berdandan. Dia mulai membolak-balik lembaran kehidupanmu, selembar demi selembar dan ia menemukan nama-nama wanita seronok dan jalang yang senang bersenda gurau serta perempuan yang gila sanjungan dan haus akan pujian atas kecerdasan dan kemampuannya. Setelah itu ia mau melakukan apa saja sesuai dengan keinginan nafsumu dan bertekuk lutut dalam pelukanmu. Kemudian dia berjalan menuju pangkuanmu dengan pakaian tipis dan tembus pandang menjajakkan dirinya kepadamu seperti sang budak menjajakkan dirinya di pasar budak lalu kamu berpaling dan gampang untuk menerimanya. 

Kalian berkilah kepada wanita, “Kita tidak menikah dengan wanita penjaja kehormatan”, seakan kalian tidak peduli bila semua wanita Islam rusak dan jatuh harga diri mereka, yang penting wanita kalian selamat. Semua merasa kecewa dan merana hingga laki-laki murahanpun menghindar darinya apalagi laki-laki pemalu dan mulia, akhirnya tiada jalan lain baginya selain masuk dalam jurang kehancuran. 

Itukah tangisan kalian terhadap wanita wahai sang penyayang wanita? Itukah kepedihan dan bentuk kasih sayangmu terhadap kaum wanita? 

Kami sangat tahu sebagaimana kalianpun mengetahui bahwa wanita sangat butuh terhadap ilmu, maka biarlah orang tua atau saudaranya yang membinanya karena ilmu yang disertai pembinaan lebih bermanfaat baginya dan serahkan kepada mereka dalam memilih jodoh yang terbaik buat putera-puteri mereka. Biarkan orang tuanya bebas memilihkan jodoh untuk puterinya sebaik mungkin sehingga para suami akan mampu berbuat baik dan bertindak adil. Maka kehidupan akan penuh dengan hidayah dan cahaya serta rumah tangga akan dihiasi dengan kebahagiaan dan kesentosaan. Silahkan para wali wanita menentukan yang terbaik buat putera-puterinya dan hendaklah selalu mengawasi serta memantau kepergiannya baik pagi atau sore hari seperti penggembala mengawasi kambingnya dari terkaman serigala. Apabila saudara, orang tua atau suami sudah tidak mampu mengawasi mereka maka marilah seluruh umat baik laki-laki atau perempuan menyingsingkan lengan baju untuk membenahi mereka karena wanita tidak lebih mampu membina dirinya sendiri daripada kaum laki-laki. 

Bersambung…

Sumber :

Dinukil dari buku berjudul “ Kisah Nyata Tentang Hijab, karya : Musthafa Luthfi al-Manfaluthi

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: