Kisah Nyata Tentang Hijab (Bagian.5)

Kisah-Nyata-Tentang-Hijab-bagian-5.jpg

Sangat aneh dan mengherankan kalian mampu menguasai segala sesuatu kecuali satu yang tidak mampu kamu kuasai yang sebetulnya sangat mudah kamu cerna sebelum kalian menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan, yaitu bahwa di setiap tanah ada tanaman yang tumbuh di sana dan setiap tanaman mempunyai masa pertumbuhan yang tidak sama. 

Ilmuwan Eropa lebih banyak disibukkan oleh ilmu pengetahuan sekunder, sementara mereka meninggalkan ilmu-ilmu primer. Dan kamu sekarang sibuk menggiring kondisi itu ke tengah umat yang sebagian besar masih perlu banyak belajar mengeja huruf. 

Kalian meraup ilmu filsafat yang penuh dengan sumber kekafiran, yang berkembang biak di kandang atheisme, yang tidak bermanfaat untuk akal dan etika apalagi keimanan. Lalu kalian berusaha dengan paksa untuk menebarkan benihnya di kalangan umat yang tidak mampu menyuburkan keimanan mereka bila memang terbukti. 

Kalian terbiasa menyaksikan lelaki Eropa hidup bebas dan melakukan apa saja sesuka hatinya lalu kalian menelan mentah-mentah gaya hidup mereka di atas batu yang sangat licin, Bila terpeleset sekali saja maka kalian terjungkal dan terperosok jurang yang sangat dalam dan tiada seonggok rumputpun yang bisa dijadikan pegangan. 

Kalian telah menyaksikan drama kehidupan seorang suami yang pernah hidup di Eropa yang telah padam rasa cemburunya dan lenyap ketegasan serta kepemimpinannya tatkala melihat sang isteri berbicara dengan mesra bersama laki-laki mana saja, berteman dengan laki-laki mana saja dan berdua-duaan dengan laki-laki mana saja. Sang suami menyaksikan drama itu dengan perasaan dingin dan biasa-biasa saja lalu kalian menginginkan laki-laki bangsa timur yang penuh dengan perasaan cemburu agar bersikap dan berprinsip sebagaimana sikap dan prinsip laki-laki Eropa?. 

Setiap tanaman yang ditanam di suatu tanah yang tidak sesuai dengan habitatnya, atau bukan pada musim tanamnya, pastilah tanah tersebut menolak sehingga tanaman tidak bisa tumbuh atau bisa tumbuh dalam keadaan tidak sempurna. 

Kami memohon kepada kalian agar membiarkan wanita dari umat ini yang masih tersisa agar hidup tenang di dalam rumah-rumah mereka dan jangan sekali-kali kalian mengganggu mimpi-mimpi indah mereka dan cita-cita mereka sebagaimana kalian telah menabur kesengsaraan kepada kaum wanita sebelum mereka. Setiap luka umat bisa terbalut kecuali luka kehormatan. Bila kalian tidak percaya dan bersikeras maka silahkan tunggu barang sebentar saja maka pada suatu hari rasa kecemburuan yang kalian warisi dari nenek moyang kalian akan menipis dan masihkah tersisa dalam kehidupan kalian saat itu perasaan aman dan tenteram? 

Untaian kata indah yang penuh hikmah dan nasehat di atas ternyata membuat sang pemuda tadi tertawa lebar penuh dengan kesinisan dan ejekan dan berkata: “Karena kedunguan dan kepandiran itulah aku datang ke negeri ini untuk menyembuhkan dan meluruskan, maka kita tunggu saja sampai waktunya hingga Allah menentukan siapa di antara kita yang paling berpihak pada kesuksesan dan kemenangan.” 

Saya katakan kepadanya, “Silahkan anda menjadikan dirimu dan keluargamu sebagai kelinci percobaan sesuka hatimu dan izinkan aku mengatakan sesuatu kepadamu, semenjak hari ini aku tidak mampu lagi berkunjung ke rumahmu demi untuk menjaga keutuhan perjuanganmu dan keteguhan aqidahku, karena saya tahu bahwa saat-saat yang paling bersahaja buatku di rumahmu adalah tatkala masih ada hijab pembatas yang jauh dari tatapan wajah isterimu sehingga rasa malu masih tetap terpelihara.” 

Kemudian saya mohon pamit dan mulai saat itu terjadilah perpisahan di antara kami. 

Beberapa hari kemudian banyak orang berbicara tentang peristiwa keji di sebuah rumah bahwa antara laki-laki dan perempuan melakukan hubungan mesum dan rumahnya dirundung kesedihan. Setelah mendengar berita itu mataku meneteskan air mata, entah kenapa aku tidak tahu apakah air mata kecemburuan atas hilangnya kehormatannya ataukah air mata kesedihan atas kehilangan teman karib. 

Semenjak tiga tahun dari peristiwa itu di antara kami sudah tidak saling berkunjung dan tidak saling bertemu hanya terkadang bertemu di tengah jalan aku pun hanya memberi salam bagaikan salamnya orang asing kepada perantau. Semua ikatan masa lalu terputus dan aku pun meniti perjalanan hidup sesuai dengan keyakinanku. 

Suatu malam saya pulang ke rumah, saat itu sudah tengah malam, saya melihat dia keluar dari rumahnya berjalan seperti jalannya orang yang bingung dan bimbang. Di sebelah kanan kirinya dikawal ketat oleh polisi. Perasaan ingin tahuku yang menggebu-gebu membuatku mendekatinya dan aku bertanya tentang keadaannya, maka ia menjawab, “Aku tidak tahu tiba-tiba polisi mengetuk pintuku dan mengajakku ke kantor polisi, aku tidak tahu mengapa ada panggilan pada waktu seperti ini tanpa suatu sebab! Padahal aku bukan orang yang bersalah dan bukan orang yang mencurigakan. Wahai, temanku bisakah aku meminta bantuanmu untuk menemaniku pada malam ini mungkin nanti aku menghadapi suatu perkara yang memerlukan bantuanmu?” Saya katakan kepadanya, “Tiada sesuatu yang lebih saya senangi daripada itu”. 

Saya berjalan bersama dia dengan sikap diam seribu bahasa tanpa ada perkataan sepatah katapun antara aku dengan dia, tapi hatiku merasa ada suatu kalimat yang ingin disampaikannya kepadaku tetapi perasaan tidak enak bercampur malu menyelimuti dirinya akhirnya aku beranikan untuk memulai membuka perbincangan dengan aku katakan kepadanya, “Tahukah kamu kenapa dipanggil polisi?” Dia memandangku dengan penuh kebingungan dan berkata, “Sesuatu yang paling aku takutkan bila malam ini terjadi apa-apa pada diri isteriku, saya merasa gamang dengan urusannya karena hingga saat ini isteri saya belum pulang dan hal ini tidak biasa dia lakukan.” 

Saya bertanya, “Bukankah ada orang yang menemaninya?” 

Ia menjawab, “Tidak”. 

Saya bertanya, “Bukankah kamu tahu ke mana dia pergi?” 

Ia menjawab, “Tidak.” 

Saya bertanya, “Terus apa yang kamu takutkan?” 

Ia menjawab, “Saya tidak merasa takut kecuali hanya satu hal, saya tahu bahwa isteri saya pencemburu dan ceroboh, mungkin saja ada orang yang mengganggu di tengah jalan lalu isteriku berlaku kasar terhadap orang tersebut sehingga terjadi perkelahian yang berlanjut ke kantor polisi.” 

Setelah sampai di kantor polisi kami disambut oleh prajurit dan digiring menuju ruang pemeriksaan, kami berdiri di depan prajurit tersebut lalu dia memberi isyarat kepada prajurit lain yang berada di depannya dengan sebuah isyarat yang tidak bisa kami pahami. Kemudian sang pemuda yang juga temanku disuruh mendekat kepada salah seorang polisi dan bapak polisi berkata kepadanya, “Serasa berat bagiku untuk mengutarakan kejadian ini kepadamu wahai tuanku, bahwa pada malam ini di tempat yang remang-remang petugas keamanan menangkap seorang wanita dan seorang lelaki sedang melakukan perbuatan yang tidak terpuji, maka para petugas membawa keduanya ke kantor ini sedangkan wanita tersebut mengaku mempunyai hubungan denganmu, sehingga kami memanggilmu agar kamu bisa memberi keterangan kepada kami tentang sesuatu yang berhubungan dengan identitas wanita tersebut. Bila dia adalah teman mu maka akan saya lepas dan pulang bersama tuan sebagai rasa hormat kami kepada tuan dan demi menjaga harga diri tuan, bila bukan berarti dia adalah wanita pelacur yang harus mendapatkan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Adapun kedua orang tersebut ada di belakang, silahkan tuan melihatnya. 

Bersambung…

Sumber :

Dinukil dari buku berjudul “ Kisah Nyata Tentang Hijab, karya : Musthafa Luthfi al-Manfaluthi

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: