Kisah Nyata Tentang Hijab (bagian.6)

Kisah-Nyata-Tentang-Hijab-bagian-6.jpg

Selanjutnya…

Seorang prajurit menggiring kedua orang tersebut dari salah satu ruang pos polisi, maka tatkala dia menoleh ke belakang ternyata wanita itu adalah isterinya dan lelaki itu adalah salah satu temannya. Maka dia pun berteriak keras sekali menggoncangkan seisi kantor polisi sehingga secara serempak semua orang baik dari arah jendela maupun pintu kantor polisi mengarahkan pandangan dan perhatian ke arahnya.

Seketika itu dia jatuh pingsan di tempat itu. Saya memohon kepada komandan polisi agar si wanita ini diantarkan ke rumah orang tuanya, dan permintaan itu dikabulkan bahkan lelaki tersebut juga dilepaskan. Kemudian kami membawa pemuda tadi dengan kendaraan umum menuju rumahnya dan kami panggilkan dokter. Setelah diperiksa, dokter menyimpulkan bahwa dia terkena radang otak yang sangat berat.

Dokter tersebut semalam suntuk berada di sisinya untuk mengontrol perkembangan kesehatannya hingga hampir Subuh, kemudian sang dokter pulang namun dia siap dipanggil kapan saja bila diperlukan. Dokter berpesan kepadaku agar selalu berada di sampingnya, sambil menunggu putusan Allah atas dirinya. Aku tertegun dan larut dalam kesedihan maka tiba-tiba aku menyaksikan tubuhnya menggeliat di atas pembaringan kemudian dia mencoba membuka kedua matanya pelan-pelan untuk melihatku, dengan mata yang sayup dia menatap wajahku sejenak seakan ada sesuatu yang ingin disampaikan tetapi tidak mampu untuk menyampaikannya.

Aku pun mendekatinya lalu aku katakan kepadanya, “Adakah sesuatu yang bisa saya bantu wahai tuanku?” Dengan suara lirih ia menjawab, Saya memohon agar tidak seorangpun masuk ke rumahku.” 

Saya berkata, “Tidak akan saya masukkan ke rumah ini kecuali orang yang kamu izinkan.” 

Kemudian dia tertunduk sejenak lalu mengangkat kepala menerawang ke atas dan tampak air mata meleleh membasahi pipinya, maka aku berkata kepadanya: “Kenapa kamu menangis wahai tuanku?” 

Dia berkata, “Di mana isteriku sekarang?” 

Saya berkata, “Apa yang kamu inginkan darinya?” 

Dia berkata, “Tidak ada sesuatu hanya saya ingin katakan bahwa saya telah memaafkannya.” 

Saya berkata: “Dia berada di rumah orangtuanya.” 

Dia berkata: Kasihan dia dan orang tuanya sebelum bertemu denganku mereka hidup dengan penuh kesucian dan kemuliaan namun setelah kenal denganku saya sarungkan pakaian kehinaan dalam kehidupan mereka yang tidak bisa terhapus oleh putaran roda zaman. 

“Adakah orang yang mau membantuku untuk menyampaikan kabar kepada keluarga isteriku bahwa sekarang aku dalam keadaan sakit parah dan saya khawatir bila Allah memanggilku aku masih mempunyai tanggungan dosa terhadap mereka. Saya memohon dengan sangat agar mereka mau memberi maaf dan pengampunan atas seluruh kesalahanku sebelum ajal menjemputku.” 

“Dahulu aku pernah bersumpah di hadapan orang tuanya pada saat aku meminangnya untuk menjaga kehormatan anak gadisnya seperti aku menjaga kehidupanku dan aku telah berjanji untuk melindunginya sebagaimana aku melindungi diriku, ternyata sekarang aku melanggar janji itu.” 

“Benar dia telah membunuhku, tetapi akulah orang yang memberi pedangnya untuk menghunuskan ke dadaku, maka jangan salahkan dia karena dosaku. Rumah itu adalah rumahku, perempuan itu adalah isteriku dan laki-laki itu adalah temanku maka akulah yang membukakan pintu untuk temanku kepada isteriku. Maka tiada seorangpun yang berdosa dalam hal ini kecuali hanya aku.” 

Lalu ia berhenti sejenak tidak berbicara. Aku melihat kabut hitam mulai tampak di keningnya sedikit demi sedikit hingga menyelimuti seluruh wajahnya dan tidak lama kabut itu menutupi hatinya kemudian dia mulai berbicara kembali: 

“Aduh kenapa pandanganku menjadi gelap gulita! Dunia serasa sangat sempit di wajahku. Di kamar ini dan di tempat duduk ini aku melihat keduanya sedang duduk bersanding dengan mesra sehingga membuat hatiku tergores antara perasaan iri dan bahagia. Saya bersyukur kepada Allah karena aku dikaruniai seorang teman setia yang mampu menghibur kesepian isteriku di kala sedang sendiri dan dikaruniai seorang isteri yang mengerti dan murah hati dalam menyambut temanku dengan sambutan yang sangat hangat pada saat berada jauh dariku.

Katakan kepada semua orang bahwa orang yang dahulu mengaku paling cerdik dan pintar sekarang telah berubah menjadi orang yang paling dungu dan pandir sedunia. Betapa bahagianya bila ibuku tidak melahirkanku dan ayahku seorang mandul yang tidak dikaruniai putera-puteri.” 

“Mungkin orang-orang mengerti masalah yang aku tidak ketahui! Boleh jadi dahulu orang-orang mengejek dan mencerca kedunguanku atau memelototkan pandangan ke wajahku tatkala aku lewat di depan mereka untuk melihat kepandiran yang tampak di wajah orang yang pandir dan kedunguan yang tergores di wajah orang yang dungu ini.” 

“Boleh jadi orang-orang atau teman-temanku yang bersahabat dan dekat denganku hanya karena ingin mendapat bagian kelezatan dari isteriku, bukan karena ingin berteman denganku. Bisa jadi mereka menyebutku sebagai germo dan isteriku sebagai pelacur serta rumahku sebagai tempat penjaja sex dan pengobral kehormatan sementara aku menyangka pada saat itu bahwa aku orang yang paling mulia dan terhormat di antara mereka.” 

“Masihkah rahmat berpihak kepadaku sehingga masih ada kesempatan hidup barang sesaat dan betapa ngerinya hidup sendirian di pojok liang lahat yang sangat seram menghimpitku bersama kehinaan dan rasa maluku.” 

Kemudian ia memejamkan kedua matanya dan kembali tidak sadarkan diri serta tenggelam dalam jerat kematian. 

Bersambung…

Sumber :

Dinukil dari buku berjudul “ Kisah Nyata Tentang Hijab, karya : Musthafa Luthfi al-Manfaluthi

Amar Abdullah bin Syakir

91 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: