Kitab Sihir yang Banyak Beredar (bag.1)

1. Kitab Syamsu al-Ma’arif al-Kubra karya al-Buni

Ini adalah kitab sihir yang paling banyak beredar di dunia arab dan Islam, banyak percetakan yang mencetak dan mendistribusikannya. Hal yang pertama kali tampak dari kitab ini adalah kesalahan-kesalahan ilmiah karena pengarang menganggap sesuatu sebagai bintang, padahal sebenarnya bukan. Ia juga meyakini bahwa matahari adalah bintang terbesar dan ini juga tidak benar.

Begitu pula penulis kitab ini menyakini bahwa bintang gemintang itu adalah arwah mulia, ia mengatur semua urusan manusia. Menurut mereka, bintang matahari sebagai pengatur semua urusan pada hari Ahad (Minggu), begitulah keyakinan sebagian besar filusuf yang anti Tuhan dan zindiq. Orang ini juga ikut andil dalam merusak aqidah umat ketika mengajarkan kepada mereka cara-cara salah berhubungan dengan jin, cara-cara mempekerjakan mereka serta meminta pertolongan kepada mereka. Bukanklah hanya Allah semata yang berhak untuk dimintai pertolongan dan dukungan ? Bukankah Allah ta’ala telah mengatakan bahwa berhubungan dengan jin serta meminta bantuan kepada mereka bisa menimbulkan dosa dan kesempitan ?!

Al-Buni mengatakan, “Jika kamu ingin mencari teman dan sahabat dari bangsa jin mukmin untuk membantumu, mengobati orang-orang yang sakit di antaramu, maka mulailah dengan puasa pada hari Rabu hingga Sabtu dari minggu keempat. Setelah engkau mencuci baju dan badan bacalah surat al-Ikhlash setiap hari sebanyak 1000 kali, surat Yasin sekali, dan surat ad-Dukhan…”

Akan tetapi, harus diketahui bahwa jin jika mau hadir, maka sesungguhnya yang hadir adalah jin fasik atau penipu, karena jin mukmin yang shaleh tidak akan mau menjadi hamba bagi siapa pun selain Allah ta’ala.

Orang ini juga membagi-bagi waktu pada siang hari menjadi 12 jam. Pada setiap jamnya, ada yang mengaturnya berupa bintang tertentu dan ada satu jenis pekerjaan yang bisa dilakukan. Yang sangat mengherankan pada diri penulis buku ini adalah, tidak sekalipun ia menunjukkan bahwa ada satu jam atau saat-saat pada siang hari yang cocok untuk berdoa, shalat, zakat, atau amar makruf dan nahi munkar. Sebaliknya ia menjadikan semua waktu-waktu itu cocok dan layak untuk melakukan perkerjaan dunia semata serta menjadikan manusia lupa dengan akhirat dan amal kebaikan lainnya.

Pada hari Senin misalnya, waktu-waktu pada hari ini hanya terbatas pada saat yang tepat untuk berbicara dan menarik hati manusia, bepergian, menikah, gugat menggugat serta pekerjaan batil, bisa digunakan sebagai sebab sakitnya manusia dan kebinasaannya, untuk melakukan sihir, memisahkan antara suami dan istri  atau teman dan sahabat, menamkan kebencian antara manusia serta saat yang tepat untuk pertumpahan darah.

Al-Buni mengatakan berkaitan dengan itu semua :

“Hari senin; jam pertama adalah bulan cocok untuk mahabbah (pelet), berbicara dan menarik hati manusia. Jam kedua cocok untuk bepergian serta memenuhi semua kebutuhan. Jam ketiga cocok untuk melangsungkan akad nikah, menulis, gugat menggugat, membuat orang sakit, dan sejenisnya. Jam keempat adalah matahari, cocok untuk melaksanakan kebutuhan, berbicara, dan menarik hati manusia. Jam keenam adalah bintang zuhrah (Venus) cocok untuk membuat rajah-rajah dan lainnya. Jam ketujuh adalah bintang utharid (Mercurius) cocok untuk melaksanakan hajat, berbicara dan menarik hati manusia. Jam kedelapan adalah bulan cocok untuk melaksanakan akad nikah, perjanjian damai (konsolidasi) antara dua orang yang berseteru. Jam kesembilan adalah bintang zuhal (Saturnus) cocok untuk mencerai beraikan dan memisahkan serta menanamkan kebencian dan sejenisnya. Jam kesepuluh adalah musytari (Jupiter) saat yang sangat menggembirakan, cocok sekali untuk melaksanakan segala sesuatu. Jam kesebelas adalah bintang mirrikh (Mars) pada saat ini cocok untuk menanam permusuhan, kebencian, dan pertumpahan darah. Jam kedua belas adalah matahari cocok untuk melatih bicara.”(Syamsu al-Ma’arif al-Kkubra, 1/32)

Begitulah, apa yang ia katakan tentang hari Senin juga ia katakan tentang hari-hari yang lain dalam seminggu.

Kita kembali ke tema, jika kita tanyakan kepadanya, “Darimana ia mendapatkan keterangan tentang pembagian dan penentuan yang sangat aneh ini ?  Lantas kemanakah sisa waktu dalam sehari dan cocok untuk pekerjaan apa ? “

Sebagaimana orang ini juga berbuat lancang kepada para Malaikat yang mulia karena ia membatasi untuk tiap Malaikat memiliki hari tertentu untuk mengatur segala sesuatu di dalamnya ! Alasan pembatasan ini adalah-seperti yang diyakini oleh al-Buni-adalah karakter hari-hari dari sisi tingkat panas, kelembapan, dingin, dan keringnya hari.

Al-Buni mengatakan :

“Empat hari, pada tiap harinya terdapat Malaikat khusus yang mengaturnya, Jibril ‘Alaihissalam mengatur hari Senin karena karakter hari ini dingin dan lembab. Sedangkan Kamis adalah harinya Israfil ’Alaissalam karena karakter hari ini panas lembab. Sabtu hari milik Izra’il karena hari ini dingin lembab, karakternya berdebu, kematian dan kebinasaan. Sedangkan Mika’il ‘Alaihissalam mengatur hari Rabu karena karakternya yang merupakan gabungan dari semua karakter empat hari (  .”(Syamsu al-Ma’arif al-Kkubra, 1/35)

Anggaplah apa yang dikatakan al-Buni benar, itu berarti bahwa Jibril ‘Alaihissalam tidak turun untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah, secuali hari Senin saja. Malaikat yang mulia ini –seperti yang disangka oleh al-Buni- mengatur segala urusan pada hari Senin, padahal turunnya Jibril ‘Alaihissalam seperti yang diberitakan dalam banyak riwayat tidak hanya terjadi pada hari Senin. Maka dengan demikian klaim dan pengakuan al-Buni tersebut adalah dusta. Apa yang dikatakannya tentang Jibril ‘Alaihissalam juga berlau bagi para Malaikat mulia lainnya. Orang ini juga menjadikan rumus atau gambar bagi tiap-tiap Malaikat yang empat tadi yang diklaim sebagai wafaq (tulisan atau huruf Arab (symbol) yang dituliskan di atas kertas atau kulit binatang seperti kulit harimau, kijang atau rusa atau media lainnya yang berfungsi sebagai azimat-ed)) yang digunakan untuk mengundang atau menarik Malaikat tersebut. Ia tidak mengetahui atau pura-pura tidak tahu bahwa Malaikat tidak tunduk kepada perintah manusia, mereka juga tidak akan turun ke dunia melainkan atas kehendak Allah yang Maha Pengasih. Allah berfirman,

{وَمَا نَتَنَزَّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا } [مريم: 64]

“Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali atas perintah Tuhanmu. Milik-Nya segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita dan segala yang ada di antara keduanya, dan Tuhanmu tidak lupa.” (Qs. Maryam: 64)

Wallahu A’lam

Sumber :

“As-Sihru wa As-Sahrah min Minzhar al-Qur’an wa AsSunnah”, Dr. Ibrahim Kamal Adham, ei, hal. 273-275


Amar Abdullah bin Syakir

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *