Larangan Keras Meninggalkan Shalat Dengan Sengaja

Allah ﷻ berfirman

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Qs. Maryam : 59)

Allah ﷻ juga berfirman

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (Qs. al-Ma’un : 4-7)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata. Rasulullah ﷺ bersabda

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Batas pemisah antara seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Buraidah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda.

اَلْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir (HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq رَحِمَهُ اللهُ ia berkata, “Menurut para sahabat رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ, tidak ada amal yang membuat kafir orang yang meninggalkan amal itu selain Shalat (Atsar Shahih, dikeluarkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibnu Nashr dalam Ta’zhim Qadrish Shalah dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Kandungan Bab :

Al-baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (II/179-180) : “Ahli Ilmu berbeda pendapat tentang hukuman kafir terhadap orang yang sengaja meninggalkan shalat wajib…”

Asy-Syaukani berkata di dalam Nailul Authar (I/369) : “Hadis ini menunjukkkan bahwa meninggalkan shalat merupakan perkara yang dapat membuat pelakunya kafir. Kaum muslimin menyepakati hukum kafir atas siapa saja yang meninggalkan shalat karena mengingkari hukum wajibnya, kecuali orang yang baru saja masuk Islam atau orang yang tidak hidup di tengah kaum Muslimin yang menyampaikan kepadanya tentang kewajiban shalat. Jika ia meninggalkannya karena malas, namun masih meyakini hukum wajibnya, seperti keadaan mayoritas kaum Muslimin, maka dalam hal ini para ulama berbeda pendapat…”

Dari uraian di atas jelaslah :

  1. Para ulama sepakat atas kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari hukum wajibnya dan mengolok-oloknya.
  2. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas tanpa mengingkari hukum wajibnya, atau karena menganggapnya tidak penting, atau kareka menganggap beleh meninggalkannya.
  3. Jumhur ahli ilmu berpendapat, orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak jatuh kafir.
  4. Mereka mengartikan kata kufur dalam hadis-hadis tersebut sebagai peringatan dan ancaman keras. Dalilnya adalah hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh ‘Ubadah bin Shamit رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

Shalat lima waktu yang telah Allah wajibkan atas manusia, barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya karena meremehkannya, maka baginya perjanjian di sisi Allah, yakni, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga. Barang siapa tidak mengerjakannya, maka tidak ada perjanjian baginya di sisi Allah. Jika mau, Allah akan mengazabnya, dan jika mau, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Surga (HR. Abu Dawud dan yang lainnya)

 

Nash-nash berisi ancaman seluruhnya masih termasuk kategori perkara yang berada di bawah kehendak Allah ﷻ. Di antaranya adalah nash tentang ancaman atas orang yang meninggalkan shalat, seperti yang Anda lihat sendiri. Kembali kepada kehendak Allah, apakah Dia akan mengampuninya atau mengazabnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadis marfu’ yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ :

مَنْ وَعَدَهُ اللهُ عَلَى عَمَلٍ ثَوَابًا فَهُوَ مُنْجِزٌ لَهُ, وَمَنْ وَعَدَهُ عَلَى عَمَلٍ عِقَابًا فَهُوَ فِيْهِ بِالْخِيَارِ

Barangsiapa yang Allah janjikan baginya pahala atas sebuah amalan, maka Allah pasti memberikan pahala itu kepadanya. Barangsiapa yang Allah beri ancaman berupa siksa atau sebuah dosa, maka keputusannya kembali kepada kehendak-Nya (Hadis Hasan Lighairi, diriwayatkan oleh Abu Ya’la (3316) dan Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah (960)…)

Itulah yang ditegaskan oleh Imam Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal, dalam wasiatnya kepada Musaddad bin Musarhad yang disebutkan dalam kitab Thabaqaatul Hanabilah (I/343) : “Tidak ada perkara yang dapat mengeluarkan seorang muslim dari keislamannya kecuali syirik kepada Allah atau mengingkari kewajiban yang Allah tetapkan. Jika ia meninggalkan kewajiban tersebut karena malas atau menganggapnya remeh, maka keputusannya terserah pada kehendak Allah, apakah Dia akan mengazabnya atau mengampuninya.”

Putra beliau, yakni, Abdullah, telah bertanya kepada beliau dalam Masa-ilnya (191 dan 192) tentang orang yang sengaja meninggalkan shalat. Beliau menjawab : “Diriwayatkan dari Rasulullahﷺ, bahwa beliau bersabda,

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

(Pemisah) antara seorang hamba dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.

Ayahku berkata : “Orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengerjakannya atau orang yang mengerjakannya di luar waktunya, maka setelah ia ke pengadilan. Jika ia tetap tidak mau mengerjakannya, maka penggallah lehernya. Menurutku, kedudukannya adalah Murtad setelah diminta agar ia bertaubat sebanyak tiga kali. Jika ia tidak mau bertaubat, maka bunuhlah ia berdasarkan hadis Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang sengaja meninggalkan shalat Ashar hingga terbenam matahari. Beliau ﷺ berkata, “Perintahkan dia shalat, jika setelah diperintahkan sebanyak tiga kali tidak mau juga, maka penggallah lehernya.”

Abdullah bin Ahmad berkata dalam Masail-nya (195) : “Aku bertanya kepada ayahku tentang orang yang melalaikan shalat selama dua bulan. Beliau berkata : “Dia harus mengganti shalat-shalat tersebut pada waktunya masing-masing. Hendaklah ia kerjakan qadha shalat yang ia tinggalkan tersebut hingga akhir waktunya. Ia harus mengganti shalat-shalat yang dikhawatirkan terluput itu. Dan janganlah ia melalaikannya di lain waktu.

Kemudian ia kembali mengerjakan qadha shalat yang belum terqadha kecuali ia harus mencari nafkah dan tidak mampu mengerjakan qadha shalat tersebut. Jikalau demikian, maka hendakah ia mencari orang untuk mencukupi nafkahnya sehingga ia bisa mengganti shalat-shalat yang terluput itu. Dan tidak sah shalatnya selama masih ada shalat terdahulu yang belum diqadha. Jika demikia, ia harus mengulanginya kapan ia teringat, walaupun ia sedengan mengerjakan shalat.”

Ini merupakan nash yang dapat dipertanggung jawabkan dari imam Ahmad, menurut beliau orang yang meninggalkan shalat tanpa sebab tidak dapat dihukumi kafir. Namun, bila ia menolak mengerjakannya setalah ia mengetahui hujjahnya, maka ia boleh dihukum mati. Yaitu setelah ia diseret ke pengadilan. Dan yang menyeretnya ke pengadilan adalah amir atau wakilnya sebagaimana dikatakan oleh Mardawiy di dalam kitab al-InshafFii Ma’rifatir Rajihi Minal Khilaf ‘Alaa Madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal (I/402), beliau berkata : Orang yang menyeretnya ke pengadilan adalah amir atau wakilnya. Sekiranya ia meninggalkan banyak shalat sebelum diseret ke pengadilan, maka tidaklah boleh membunuhnya dan tidak boleh dihukumi kafir menurut pendapat yang benar dalam madzhab (yakni, madzhab Hanbali). Pendapat itulah yang dipilih oleh mayoritas rekan kami. Bahkan, sebagian besar dari mereka menegaskan pendapat tersebut.

Oleh sebab itu al-Majd bin Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ menegaskan dalam kitab al-Muharrar fil Fiqhi al-Hanbali (halaman 62) : “Barang siapa melalaikan shalat karena malas, bukan karena mengingkari kewajibannya, maka ia harus dipaksa mengerjakannya. Jika setelah dipaksa ia tidak mau juga hingga keluar waktunya, maka ia boleh dihukum mati.”

Ia tidak dihukumi kafir karena melalaikannya hingga keluar waktu, namun ia dihukum mati kerena sikap bersikerasnya yang menunjukkan ia mengingkari kewajibannya, sedang ia mengetahuinya dan ia tetap tidak mau mengerjakannya. Sebabnya adalah, ia lebih memilih dihukum mati daripada mengerjakan shalat. Maka dalam kondisi seperti itu tidak mungkin lagi dikatakan ia malas atau melalaikannya, namun ia termasuk orang yang mengingkari kewajibannya dan lebih memilih kekufuran dan kemunafikan. Karena itu, ia berhak dihukum mati sebagai balasan yang setimpal.”

Inilah pendapat yang dipilih oleh ulama ahli tahqiq madzhab hanbali, seperti Ibnu Qudamah, ia berkata : Jika ia meninggalkan shalat satu dari shalat fardhu karena malas, maka ia belum dapat dihukumi kafir.”

Demikian pula dalam kitab al-Mughniy. Dalam kitab al-Mughniy (II/298-302) masalah ini diulas panjang lebar, di akhir pembahasan, penulis menyimpulkan : “Dan juga karena ijma’ kaum muslimin dalam masalah ini; Belum kami ketahui, dahulu sampai sekarang, seorang pun yang menolak memandikan dan menshalatkan jenazah orang yang meninggalkan shalat serta menguburkannya di pekuburan kaum Muslimin. Tidak seorang pun yang menghalangi ahli warisnya dari mewarisi harta ahli warisnya. Tidak ada seorang pun yang memisahkannya dari istrinya karena ia meninggalkan shalat, padahal banyak sekali orang yang meninggalkan shalat. Sekiranya orang yang meninggalkan shalat dihukumi kafir, tentu hukum-hukum tersebut berlaku atas dirinya. Kami belum mendapati perbedaan pendapat di antara kaum Muslimin bahwa orang yang meninggalkan shalat wajib mengqadhanya. Sekiranya ia dihukumi murtad tentu tidak perlu lagi mengqadha shalat atau puasa.

Bekenaan dengan hadis-hadis di atas, maksudnya adalah peringatan keras agar tidak sama seperti orang-orang kafir, bukan bermaksud bahwa mereka benar-benar kafir. Contohnya sabda Nabi ﷺ:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencela orang muslim adalah perbuatan fasik dan menumpahkan darahnya adalah kekufuran.

Dan hadis-hadis senada dengan itu yang maksudnya adalah peringatan keras. Itulah pendapat yang paling tepat. Wallahu A’lam

 

Sumber :

Mausu’ah al-Manahiy asy-Syar’iyyah Fii Shahihi as-Sunnah an-Nabawiyah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali (ei, hal.321-327)

 

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: HisbahTv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *