Lepaskanlah Tali Ini !

tali.jpg

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah masuk masjid sementara ada tali yang terbentang antara dua tiang. Maka, beliau berkata : apa ini ? mereka (para sahabat) menjawab : milik Zaenab [1] yang digunakannya ketika shalat. Bila ia merasa lesu atau penat, maka ia berpegang pada tali tersebut. Nabi bersabda, “lepaskanlah tali ini”. Kemudian, beliau besabda, “hendaknya salah soerang di antara kalian shalat dengan penuh semangat. Bila mana lesu atau penat hendaknya ia duduk  [2]

  • Ihtisab di dalam Hadis

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

Pertama, berihtisab terhdap orang yang bersandar atau berpegangan pada tali dan sejenisnya ketika shalat saat merasa lesu atau penat.

KeduaKesemangatan seorang muhtasib untuk melakukan shalat-shalat sunnah dan melakukannya dengan penuh semangat pula.

Ketiga, Menghilangkan kemunkaran dengan menggunakan tangan dan lisan

 

@ Penjelasan :

  • Seorang muhtasib hendaknya mengingkari orang yang dilihatnya membebani dirinya untuk melakukan ibadah diluar batas kemampuannya. Karena, sesungguhnya agama ini mudah. Sungguh, Allah ‘azza wajalla telah berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu [3]

Allah ‘azza wajalla juga berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka, bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan kalian  [4]

Sungguh, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengingkari perbuatan Zaenab ketika beliau melihat tali yang terbentang itu di antara dua tiang dan setelah beliau mengetahui bahwa Zaenab bersandar padanya ketika mengalami kelesuan atau kepenatan di dalam shalatnya, beliau memerintahkan para sahabatnya agar melepaskan tali tersebut dan beliau melarang mereka dari melakukan tindakan semisal perbuatan Zaenab tersebut, beliau memerintahkan mereka (para sahabat) agar melaksanakan shalat dengan penuh semangat, bila merasa malas atau lesu atau penat hendaknya mereka melaksanakan shalat (sunnah) sambil duduk. Ibnu Bathal –semoga Allah merahmatinya-mengatakan : di dalam hadis ini terdapat petunjuk akan tidak disukainya tindakan menyandarkan diri atau berpegang pada tali ketika melaksanakan shalat sunnah kala terjadi kelesuan dan kemalasan. [5]

  • Kaum muslimin pada umumnya dan para dai dan orang-orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar secara khusus, hendaknya memiliki perhatian terhadap pelaksanaan shalat-shalat sunnah karena hal tersebut merupakan keuntungan, dengan melaksanakannya akan diperoleh kemenangan dalam beberapa derajat, ini dia Zaenab bintu Jahsy –semoga Allah meridhainya- sedemikian bersemangat melakukan shalat malam. Hanya saja, hendaknya ketika melakukannya dilakukan dengan penuh kesemanatan dan sikap pertengahan, tidak bersikap keras memberat-beratkan diri, tidak pula berlebih-lebihan. Karena tindakan tersebut ketika dilakukan saat ibadah akan melahirkan rasa bosan pada pelakunya. Yang paling utama adalah amal tersebut dilakukan secara berkesinambungan meskipun sedikit jumlahnya.
  • Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam– telah memerintahkan untuk melepas tali tersebut. Ini merupakan bentuk dari mengubah kemungkaran dengan menggunakan tangan. Dan beliau juga mengingkari tindakan Zaenab dengan lisannya. [6]. Maka dari itu, seorang muhtasib hendaknya bertahap di dalam melakukan pengingkarannya terhadap kemunkaran, diiringi dengan sikap bijaksana. Dan hendaknya pula ia memperhatikan tujuan syariat dari hal ini. Demikian juga memperhatikan sarana untuk mewujudkan tujuan ini.

Karena yang menjadi maksud dari perintah untuk mengubah adalah “menghilangkan kemunkaran” bukan “tetapnya kemungkaran” , bukan pula menetapkannya dengan sebab apapun, atau timbulnya kemungkaran yang jauh lebih besar.

Termasuk hal yang maklum adanya bahwa pengubahan kemungkaran dengan menggunakan tangan secara langsung sementara hal itu belum dibutuhkan seringkali menimbulkan fitnah, atau justru tindakan mungkar tersebut terus saja dilakukan oleh pelaku kemungkaran tersebut, ia terus saja menentang orang yang mengingkari kemungkaran yang dilakukannya, atau tindakan ini memunculkan kemungkaran yang jauh lebih besar daripada kemungkaran yang tengah dilakukan oleh orang yang berbuat kemungkaran tersebut [7]

 

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaaemah, Abdul Wahhab bin Muhammad bin Fa-yi’ ‘Usairiy (hal.101-102)

 

[1]  Dia adalah Zaenab bintu Jahsy bintu Robab anak bibi Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-, salah seorang istri Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam. Ummul Mukminin, beliau adalah seorang wanita yang shalehah, gemar berpuasa, gemar shalat malam,seorang yang berbakti (kepada kedua orang tuanya). Pernah dikatakan bahwa ia dijuluki “ummul masaakiin”. Beliau meninggal dunia pada tahun 20 H. Lihat (biografi beliau) di dalam kitab, “Siyar A’lam an-Nubala”, 2/211-218, al-Ishabah, 313-314

[2] Diriwayatkan juga oleh imam al-Bukhari, 3/43, hadis no. 1150 dan imam Muslim, 6/314, hadis no. 1829

[3] Qs. Al-Baqarah : 186

[4] Qs. At-Taghabun : 16

[5] Syarh Shahih al-Bukhari, 3/145. Dan lihat, Fathul Baariy, 3/45

[6] Lihat, Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 3/45

 

[7] Thariquka Ilaa al-Ikhlash Wa al-Fiqhi Fii ad-Diin, Abdullah ar-Ruhailiy, hal. 174

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: