Maksiat Akan Membutakan Mata Hati

Maksiat-Akan-Membutakan-Mata-Hati.jpg

Setiap hal yang Allah haramkan pasti mengandung keburukan dibaliknya, baik dari segi jasmani ataupun rohani. Hanya saja terkadang kita sebagai manusia yang hanya diberikan sedikit ilmu tidak mengetahuinya.

Melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Allah  berarti berbuat maksiat kepadaNya, definisi maksiat adalah ‘tidak taat kepada Allah.’ Sehingga ketika seseorang melanggar aturan Allah  maka dia dikatakan sudah berbuat maksiat.

 

Maksiat ini memiliki dampak-dampak negatif yang bergitu banyak dan sudah banyak kami sebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya yang kami serap dari Kitab ‘Al-Jawabul Kafi’ karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah. Pada artikel kali ini kami ingin melanjutkan kepada dampak berikutnya daripada dampak-dampak buruk perbuatan maksiat, yaitu ‘membutakan hati.’

Ibnul Qayyim berkata, “diantara dampak buruknya maksiat, ia membutakan mata hati, menghilangkan cahaya hati, menghalangi jalan-jalan masuknya ilmu, dan menghalangi datangnya hidayah. Imam Malik rahimahullah berkata kepada Imam Syafii rahimahullah (muridnya) “sesungguhnya Allah telah memberikan cahaya pada hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.”

Perkataan Ibnul Qayyim ini sesuai dengan hadits nabi yang berbunyi:

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”[HR. Tirmidzi]

Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah dosa di atas tumpukan dosa sehingga bisa membuat hati itu gelap dan lama kelamaan pun mati.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Qotadah, Ibnu Zaid dan selainnya. [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir]

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hati itu seperti telapak tangan. Awalnya ia dalam keadaan terbuka dan jika berbuat dosa, maka telapak tangan tersebut akan tergenggam. Jika berbuat dosa, maka jari-jemari perlahan-lahan akan menutup telapak tangan tersebut. Jika ia berbuat dosa lagi, maka jari lainnya akan menutup telapak tangan tadi. Akhirnya seluruh telapak tangan tadi tertutupi oleh jari-jemari.” [Fathul Qodir, Asy Syaukani].

Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Hati mereka tertutupi oleh “ar raan” seperti karat karena maksiat yang mereka perbuat.”[ Tafsir Al Jalalain].

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah melanjutkan, “(jika maksiat terus dilakukan) cahaya hati ini akan terus melemah dan menghilang sedangkan kegelapan maksiat akan terus menguat sehingga hati menjadi gelap pekat seperti gelapnya malam, betapa banyak orang celaka yang terjatuh kedalam kecelakaan sedang ia tidak melihat, seperti orang yang berjalan diwaktu malam menyusuri jalan yang penuh dengan rintangan dan bahaya. Alangkah mulianya keselamatan (dari maksiat) dan alangkah mudahnya seseorang untuk tersungkur.

Setelah itu kegelapan tersebut akan semakin menguat, ia meluah dari hati ke anggota badan, sehingga wajah akan menjadi gelap tergantung kuatnya kegelapan tersebut. Dan ketika kematian tiba, kegelapan tersebut akan tampak di alam barzakh sehingga ia akan memenuhi kuburan dengan kegelapan sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مُمْتَلِئَةٌ عَلَى أَهْلِهَا ظُلْمَةً، وَإِنَّ اللَّهَ يُنَوِّرُهَا بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

Kuburan dipenuhi kegelapan atas penghuninya dan Allah Azza wa Jalla meneranginya dengan shalatku kepada mereka.” (HR. Ahmad).

Ketika masih didunia manusia tidak sadar bahwa hatinya sudah tertutup dengan kegelapan maksiat, namun setelah meninggal nanti barulah ia akan terperanjat melihat akibat dari perbuatan-perbuatannya di dunia. Sungguh mengerikan kuburan yang gelap dengan kegelapan maksiat, dan sungguh indah kuburan yang bersinar dengan sinar amal sholeh.

Marilah kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah  selama jantung masih berdenyut dan nafas masih berhembus, marilah kita bertaubat dari sekarang sebelum waktu terlambat, kita memohon kepada Sang Maha Kuasa agar kita selalu diberi kekuatan dan kesadaran untuk selalu taat dan beribadah kepadanya.

Penyusun: Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

739 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: