Jika Anda Ingin Merasakan Nikmatnya Ramadhan, Maka Ber-I’tikaflah

Untitled-1.jpg

Simaklah perkataan istri tercinta beliau, Aisyah radhiyallohu ‘anha, ia menuturkan,

كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamberi’tikaf pada sepuluh hari terakhir  bulan Ramadhan hingga Allah mematikannya. Kemudian, para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.”  (HR.Muslim)
Pembaca yang budiman…

Demikianlah yang dilakukan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Saudaraku… Waktu itu (10 hari terakhir bulan romadhan) sebentar lagi tiba, insyaa Allah, semoga Allah menyampaikan kita kepada hari itu dan semoga pula Allah memberikan taufiq kepada kita untuk dapat megikuti sunnah nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Amin.

Pembaca yang budiman…

Jika anda hendak beri’tikaf, maka kapan anda memulai masuk ke dalam masjid sebagai tempat I’tikaf anda?

Para ulama madzhab menganjurkan untuk memasuki masjid menjelang matahari tenggelam pada hari ke-20 Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa yang namanya 10 hari yang dimaksudkan adalah jumlah bilangan malam sehingga seharusnya dimulai dari awal malam.

Jika anda telah mulai ber’iftikaf maka hendaknya Anda menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al-Qur’an dan mengkaji hadits. Dan tidak selayaknya anda menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat.  Apalagi anda melakukan hal-hal yang akan menjadikan I’tikaf anda batal.

Hal-hal yang Dapat Membatalkan I’tikaf

1.  Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i dan tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak.
2. Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al-Baqarah ayat 187.

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Ibnul Mundzir telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa yang dimaksud mubasyaroh dalam surat Al-Baqarah ayat 187 adalah jima’ (hubungan intim) Fathul Bari, 4/272.

Hal-hal yang Diperbolehkan Ketika Beri’tikaf

1. Keluar dari masjid disebabkan ada hajat yang mesti ditunaikan seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

2. Melakukan hal-hal mubah seperti mengantarkan orang yang mengunjunginya sampai pintu masjid

3. Bercakap-cakap dengan orang lain.

4. Berdua-duaan dengan istri anda bila ia mengunjungi anda.

5. Mandi dan berwudhu di kamar mandi yang tersedia di masjid.

6. Membawa kasur atau bantal untuk tidur di masjid.

Pembaca yang budiman …
Tahukah kita sejatinya seseorang tidak akan mendapatkan berkahnya ramadhan, dia tidak akan merasakan nikmatnya bertakbir pada saat hari ied, jika dia tidak mengerahkan kemampuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, salah satunya dengan Ber-i’tikaf dimasjid-masjid Allah. maka tidak ada alasan bagi kita untuk memenuhi panggilan ini..

Allahu a’lam.

(Abu Umair)

718 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: