Melanggar Kesepakatan Adalah Ciri Kaum Munafik

Melanggar Kesepakatan Adalah Ciri Kaum Munafik

عدم الوفاء بالعقود علامة المنافقين

Islam datang dengan membawa kebaikan yang universal, budi pekerti yang luhur, kepada siapapun, jika sudah terjadi kesepakatan, harus dijalankan.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاق

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)
Dan Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُود

“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji…” (QS Almaidah: 1)

Bahkan, meski kepada musuh, harus tetap berlaku adil tidak boleh curang! Sesuai dengan firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Almaidah:8)

Maka dari itu, apalagi jika perjanjian atau kesepakatan yang terjadi adalah diantara sesama muslim, maka melanggarnya adalah suatu dosa, bahkan aib, sehingga tak ayal dimasukkan ke dalam ciri-ciri kaum munafik, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ سُفْيَانَ وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ

Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa tertanam dalam dirinya empat hal, maka ia benar-benar seorang munafik sejati, dan barangsiapa dalam dirinya terdapat salah satu dari empat hal, maka dalam dirinya tertanam satu kemunafikan sehingga ia meninggalkannya, (yaitu) (1) Apabila berbicara ia berdusta (2) Apabila membuat kesepakatan ia mengkhianati (3) Apabila berjanji ia mengingkari (4) Apabila berdebat ia tidak jujur.’ Namun di dalam hadits Sufyan disebutkan, ‘Barangsiapa dalam dirinya terdapat salah satu dari empat hal ini maka di dalam dirinya terdapat salah satu ciri kemunafikan.” {Muslim 1/56}

Mari kembali segarkan pengetahuan sejarah, apa sebab terjadinya Fathu Makkah? Bukankah beberapa tahun sebelumnya terjadi kesepakatan diantara kaum muslimin dan musyrikin quraisy? Jawabannya adalah karena kaum quraisy melanggar kesepakatan, maka itulah konsekuensinya.
Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, apalagi yang telah mengikrarkan diri untuk berhijrah ke jalan Allah Ta’ala, hendaklah untuk menjaga betul sikapnya sehari-hari, meski terlihat sepele. Mengapa? Karena seseorang bukan dinilai dari seberapa luas pengetahuan Islamnya, tapi seberapa dia mengamalkan ilmunya.
Bermuamalahlah dengan sesama dengan cara yang baik, jika tidak sanggup jangan mengumbar janji, jika terjadi hal-hal yang diluar prediksi, maka bicarakanlah dengan pihak yang bersangkutan, sehingga tidak sampai melanggar kesepakatan atau janji.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *