Membaca Garis Tangan (Palmistry)

harta-4.jpg

Yaitu memperhatikan garis-garis tangan juga lengkungan-lengkungan yang ada dalam tepak tangan dan jari-jari, dilakukan dalam rangka berusaha menggali informasi tentang masa lampau, masa sekarang, dan masa depan manusia. Manusia yang paling banyak menggunakan cara ini adalah orang India. Sedangkan cara yang digunakan sama sekali tidak berdasarkan logika atau argumentasi ilmiah yang benar karena pembaca garis tangan menghubungkan antara garis-garis tangan dengan perkara yang terjadi pada masa lalu, sekarang, dan yang akan terjadi. Siapa yang mempercayai ramalan ini, berarti ia mengalami kemunduran yang fatal dalam berfikir maupun kemampuan akal dan iman sehingga sama dengan orang Majusi dan para penyembah api.

Sebagaimana yang telah kami sebutkan tentang pembaca cangkir ketika ramalannya tepat pada beberapa hal yang telah lampau atau yang sedang terjadi, maka hal tersebut merupakan hasil membaca pikiran. Begitu pula yang terjadi pada sebagian ahli pembaca garis tangan, ada yang mampu membaca pikiran. Adapun orang yang berusaha membuktikan bahwa al-Qur’an menyatakan kemungkinan bisa membaca garis-garis tangan berdasarkan dua ayat berikut,

حَتَّى إِذَا مَا جَاءُوهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَأَبْصَارُهُمْ وَجُلُودُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan. Dan mereka mengatakan kepada kulit mereka,”Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami ?” Kulit mereka menjawab, “Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kami dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Qs. Fushshilat : 20-21)

Sesungguhnya dua ayat ini menunjukkan bahwa berbicaranya kulit dan tangan memberitahukan apa yang dilakukan manusia, hal itu terjadi pada hari Kiamat, terjadi hanya dengan takdir Allah semata. Tidak ada seorang pun yang mampu menjadikan kulit berbicara setinggi apa pun kedudukan atau sekuat apa pun dirinya.

Wallahu A’lam

Sumber :

“As-Sihru wa As-Sahrah min Minzhar al-Qur’an wa AsSunnah”, Dr. Ibrahim Kamal Adham, ei, hal. 260-261


Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 221 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: