Menanamkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dalam Jiwa Anak

ihtisab-dalam-jiwa-anak.jpg

Masa-masa tarbiyah adalah proses yang sangat berpengaruh dalam hidup manusia, masa ini dapat mencetak seseorang menjadi pribadi yang santun dan lembut, atau kasar dan keras, masa ini juga dapat mencetak seseorang menjadi seorang yang alim dan mencintai ilmu, atau menjadi seorang yang bodoh serta tidak memiliki budi pekerti. Sehingga dengan demikian ia dapat merubah keadaan umat ini menjadi umat yang kuat mulia atau hina dan rendah.

Oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan tarbiyah agar bisa memberikan yg terbaik untuk umat. Sehingga orang yang melaksanakan tarbiyah maka ia sebenarnya mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh para nabi dimana mereka bertugas untuk mendidik umatnya. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)

Anak adalah generasi masa depan suatu umat, merekalah yang akan menjadi penerus yang akan menjadi harapan bagi orang tua, jika amar ma’ruf nahi munkar ingin senantiasa ada di tengah-tengah umat, maka sejak dini amar ma’ruf nahi munkar harus ditanamkan di dalam jiwa anak. Anak harus dididik dengan kecintaan terhadap agama Islam dengan diberikan pendidikan tentang salah dan benar.

Mendidik anak dapat dilaksanakan dengan banyak metode, yaitu:

(1) Menceritakan kepada anak kisah-kisah umat terdahulu baik dari Al-Qur’an maupun sunnah kemudian memberikan nasehat dan pelajaran dari kisah tersebut,

(2) Memberikan teladan yang terbaik kepada anak,

(3) Mengajak anak untuk berdiskusi serta memberinya pertanyaan-pertanyaan,

(4) Memberikan pengarahan dan nasehat,

(5) Memukul anak jika diperlukan sesuai aturan syariat.

Kami akan memberikan satu contoh yang sangat baik untuk menjadi teladan bagi orangtua dan para murobbi dalam mendidik anak. Contoh ini menggunakan metode yang dipilih oleh Al-Qur’an, yaitu nasehat. Contoh ini adalah sebagian dari nasehat Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang Allah ta’ala abadikan di dalam Al-Qur’an di surat Luqman ayat 12-17.

Pertama, perintah menjauhi syirik kepada Allah.

Allah berfirman:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Luqman memulai nasehat dengan melarang anaknya dari perbuatan syirik, karena syirik merupakan dosa terbesar dan perbuatan yang paling membinasakan, sehingga ialah perkara yang paling penting untuk diwaspadai.

Kemudian Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الإنسان بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Banyak ulama mufassirin mengatakan bahwa perintah ini tidak termasuk wasiat Luqman, namun tambahan ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Thobari bahwa ia menjelaskan akan besarnya perkara syirik, sehingga walaupun hak orang tua terhadap anak sangat besar, namun jika keduanya memerintahkan untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. (Tafsir Thobari 6/128).

Sebagian lain berpendapat bahwa ini menunjukkan akan besarnya hak orang tua terhadap anak, sehingga berbakti kepada orang tua derajatnya setelah mengesakan Allah.

Kedua, menjelaskan kekuasaan Allah agar imannya semakin kuat.

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”.” (QS. Luqman: 16)

Setelah Luqman memerintahkan anaknya untuk menjauhi syirik dan berbakti kepada orangtua, ia jelaskan bahwa Allah maha tahu terhadap segala perbuatan hambanya walau hanya seberat biji sawi, sehingga ia akan merasa bahwa Allah selalu mengetahui gerak-geriknya.

Ketiga, mendirikan shalat, dan melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Allah berfirman:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar.” (QS. Luqman: 17)

Setelah Luqman melarang anaknya dari perbuatan syirik yang otomatis menanamkan pengesaan Allah, kemudian memantapkan iman anaknya bahwa Allah maha melihat segala perbuatannya, ia menyuruh anaknya untuk melaksanakan ibadah terpenting dan rukun islam kedua, yaitu shalat, karena shalat adalah amalan yang pertama ditanyakan di hari kiamat.

Setelah Luqman menasehati anaknya tentang hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, ia memerintahkannya untuk memperbaiki orang lain dengan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, setelah sang anak memperbaiki dirinya, ia dididik untuk memperbaiki orang lain.

Inilah tarbiyah yang sempurna, dimana Luqman memulai nasehatnya dari yang paling penting kemudian yang dibawahnya begitulah seterusnya.

Semoga contoh ini bermanfaat bagi kita semua dalam mentarbiyah generasi masa depan kita.

Penyusun : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah.net
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: