Mencari Pahala Syahid Dengan Berdiam Di Rumah Saja Selama Masa Corona

masjid-8.jpg

­Penyebaran Virus Covid-19 semakin masif, banyak korban berjatuhan, dan lebih banyak lagi yang terinfeksi dan menularkan virusnya ke orang lain.

 

­Maka, berangkat dari situasi darurat ini, Pemerintah kita mengeluarkan intruksi kepada seluruh Rakyat Indonesia untuk menjaga jarak dan berdiam diri di rumah selama masa virus, untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Sehingga, tempat-tempat ibadahpun di tutup, pusat-pusat keramaian ditutup, acara-acara yang mengumpulkan massa dibatalkan, sampai kantor-kantor dan sekolah pun di tutup, semua belajar dan bekerja dari rumah masing-masing setidaknya minimal selama dua minggu.

 

­Namun keadaan ini, tentunya semudah yang dikira, yaitu meliburkan diri dengan berdiam di rumah. Justru, masalah lain baru dimulai. Orang-orang yang pusing mengerjakan kerjaannya dari rumah yang suasananya tidak mendukung, kaum ibu yang semakin repot, anak-anak yang terkadang susah diatur, belum lagi para pekerja harian yang menggantungkan rejekinya dari keluar rumah, dan seterusnya.

 

­Maka, wahai kaum muslimin, bersabarlah! saat kondisi tidak normal, memang begitulah keadaannya, dan ini untuk kebaikan semua. Karena tidak ada yang lebih berharga dari kesehatan dan nyawa.

 

­Untuk itu, terdapat satu hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk kita semua, sebagai berikut:

 

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “.

أخرجه البخاري

 

­Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, sesungguhnya beliau berkata:

­Suatu kali aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tentang Penyakit Thaun (Wabah Menular), maka beliau mengabarkan kepadaku: “Sesungguhnya penyakit itu merupakan azab/hukuman bagi yang dikehendaki Allah Ta’ala, namun adalah rahmat bagi kaum mukminin. Maka tidaklah terjadi wabah Thaun, kemudian seseorang itu berdiam diri di rumahnya, seraya bersabar dan mengharapkan pahala, dan yakin bahwa tidaklah ada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala baginya, maka barangsiapa yang melakukan hal tersebut, baginya pahala orang yang syahid “. (HR Bukhari)

 

­Kemudian, Ibnu Hajar Al Asqalani memberikan penjelasan:

 

قال ابن حجر رحمه الله : “اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت “.

[فتح الباري] (194/10)

­“Dan lafaz hadits diatas juga mencakup siapa saja yang melakukannya akan mendapatkan pahala syahid meskipun dia tidak meninggal(karena wabah itu)”.

­(Fathul Baari 194/10)

 

 

­Untuk itu, marilah kita semua bersama-sama saling bahu membahu menanggulangi wabah ini, semua pihak bekerjasama, antara Pemerintah, Ulama dan Rakyat.

­Dan tentunya ini semua untuk kebaikan bersama, karena satu nyawa dalam Islam, lebih berharga dari dunia dan seisinya.

 

­Ya Allah, angkatlah dari kami bala dan wabah ini, sesungguhnya kami lemah, dan engkau Maha Kuat dan Maha Penyayang.

 

 

­Wallahu A’lam.

 

­Muhammad Hadrami

­Alumni Fakultas Syariah LIPIA JAKARTA

 142 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: