Connect with us

Keluarga

Mendidik Anak

Published

on

Bertakwalah kepada Allah dan bersyukurlah pada-Nya atas nikmat berupa anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita.

Anak merupakan cobaan dan ujian bagi hamba-hamba-Nya. Di antara mereka ada yang anaknya menjadi penyejuk mata. Di sisi lain, ada yang anaknya hanya menjadi penyesalan di dunia dan akhirat. Karena, tidak mendidik dan tidak menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai orang tua. ia menyia-nyiakan hak yang telah ditetapkan oleh Allah untuk anak, sehingga anak-anaknya pun menyia-nyiakan hak yang ditetapkan oleh Allah untuk orang tuanya. Tidak ada gunanya si anak bagi orang tuanya di dunia maupun di akhirat. Jadilah dia orang yang rugi.

Perlu diingat bersama, bahwa Allah telah menitipkan anak dan keluarga kepada kita. Allah juga memerintahkan kita untuk menjaga mereka dari berbagai kerusakan, dan mengarahkannya pada kebaikan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang padanya ada para malaikat yang keras lagi kasar yang tak pernah mendurhakai Allah pada segala yang Allah perintahkan pada mereka dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari neraka yang amat mengerikan. Hal ini tidak mungkin dilakukan melainkan dengan menjaga diri dan keluarga dari berbagai kerusakan dan senantiasa melakukan kebaikan. Namun, sudahkah kita mewujudkan semua ini? Sudahkah kita menjaga, mengarahkan, dan mendidik anak-anak semaksimal mungkin? Sudahkah kita tunaikan semua faktor yang mendatangkan kebaikan bagi mereka? Sudahkah kita mengawasi gerak-gerik dan diam mereka? Sudahkah kita memerhatikan seluruh tindak-tanduk, baik ucapan, perbuatan, pulang, maupun pergi mereka? Ataukah kita justru melalaikan semua itu, tenggelam dalam kesibukan mencari serpihan dunia, atau merasa malas mengawasi dan tak pernah memperdulikannya?

Kalau bukan kita yang mengurusi mereka, siapa lagi?

Kalau bukan kita yang mendidik dan memperbaiki akhlak, siapa lagi?

Adakah orang lain yang tidak memiliki hubungan apapun dengan anak, akan melakukan semua itu?, sedangkan kita tidak tahu bagaimana pemikiran dan akhlak mereka.

Allah menitipkan anak-anak kepada kita agar kita benar-benar mendidik dan senantiasa menjaga mereka serta menunaikan amanat ini. Hal ini karena pada umumnya anak-anak itu lemah, membutuhkan uluran tangan. Mereka belum mampu memberikan kebaikan untuk dirinya sendiri. Maka dari itu, takutlah kepada Allah akan tanggungjawab ini, karena kelak Allah akan menanyainya.

Jika kita perhatikan keadaan masyarakat kita, kebanyakan orang mempunyai ambisi terhadap harta lebih besar daripada perhatiannya terhadap keluarga. Dia menyibukkan badan dan pikiran untuk harta, agar dapat menghasilkan harta lebih banyak, mengembangkan, mengelola, dan menjaganya. Adapun keluarga, tidak pernah diperhatikan. Tidak pernah pula ia tanyakan. Ia tidak pernah juga mencari tahu tentang aktivitas dan teman anak-anaknya.

Ini kesalahan besar! Ambisi untuk memperbaiki keluarga lebih wajib dan harus lebih nyata. Memerhatikan anak-anak lebih penting karena kebaikan mereka adalah kebaikan generasi masa depan, sedangkan rusaknya mereka adalah kerusakan generasi mendatang. Apakah kita rela nanti akan tumbuh dari kita generasi-generasi yang melalaikan agama dan akhlak mulia?

Sumber :

Disarikan dari “Ri’ayatul Aulad”,  dalam adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khuthabil Jawami’ hlm. 98—100, karya : Syaikh Muhamamd bin Shalih al-Utsaimin, semoga Allah. Dengan gubahan

Penulis: Amar Abdullah

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Huruf-huruf Bunga

Published

on

أَنْتَ الْغَلَا أَنْتَ الْوَلَهُ * نَادَيْتَنِي قَلْبِي اتَّجَهَ

Kamu sangat berharga, kamu membuatku lupa

Kamu memanggil hatiku dan ia menyambut

Ia berasal dari huruf abjad yang 28, hanya saja ia dengan warna lain, bukan warna yang menjadi kebiasaan para suami.

Bagus bila suami-istri membiasakannya, membiasakan saling memberi dan menerima. Ia adalah ungkapan cinta, kata-kata rayuan dan perasaan yang jujur. Ia berdampak terhadap hati layaknya sihir. Kata-kata ini mengikis apa yang menempel dalam hati berupa tumpukan kesalahan, bekas-bekas kekeliruan, dan kesalahpahaman di antara suami-istri. Seandainya kalian berdua wahai suami istri membaca bait syair rayuan lalu mengungkapkannya kepada pasangannya melalui lisan atau tulisan.

Sanjunglah istrimu di depan anak-anak. Doronglah anak-anak agar mendoakan ibu mereka dengan keselamatan, kesehatan, dan taufik. Ceritakanlah kepada mereka tentang sifat-sifat mulia ibu mereka dan tabiatnya yang baik. Dan kamu wahai istri, lakukanlah hal yang sama. Mungkin sebagian dari kita tidak bisa atau malu untuk mencobanya, hanya karena tidak biasa, memang karena dia belum merasakan buahnya yang manis.






Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

اَلْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (Muttafaq ‘Alaih)




Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 100-101

Continue Reading

Keluarga

Seringnya Terjadi Masalah ***

Published

on

Seringnya Terjadi Masalah

Saat ini banyak kita jumpai rumah tangga yang bermasalah, saat ini setiap suami atau istri pasti mengeluh, suami mengeluhkan istri dan sebaliknya, hingga problem rumah tangga menjadi bahan omongan yang tidak pernah habis di masyarakat, baik kalangan laki-laki maupun kaum wanita.

Ya, setiap rumah tangga pasti mengalami problem, tetapi jangan sampai masalah itu kita biarkan membelenggu kehidupan kita dan merusak keindahan yang ada dalam hidup.

Janji setia…   

Saya mengenal seorang laki-laki, saat dia menikah dia berjanji kepada istrinya untuk tidak membicarakan tentang masalah yang ada antara mereka berdua di kamar tidur, dia mengatakan kepada istrinya, “Kamar tidur harus kita jaga dari segala masalah.”

Dia mengatakan kepada saya, “Saya sering bertengkar dengan istri dan berdebat mengenai banyak masalah, kadang kita bisa berdamai dan kadang tidak. Kadang saya marah dan kadang istri saya marah, namun saat kita masuk ke kamar tidur, sepertinya seluruh pertengkaran itu tidak pernah ada.”

Si suami menceritakan, “Pagi harinya, seluruh masalah telah terlupakan.”

Benar-benar janji yang indah, benar-benar sebuah nasehat terbuat dari emas, mari kita coba barangkali kita bisa meniru perbuatan si suami yang bijak tadi, dan menyelesaikan segala masalah yang ada di depan pintu kamar.

Ada baiknya saat ini kita membahas sebuah permasalahan penting, masalah dan pertengkaran membuat kita menjadi sedih dan khawatir.

Hati-hati…

Penuhilah hidupmu dengan kebahagiaan, hati-hati dengan rasa khawatir yang akan membunuh rumah tanggamu, bahkan membunuh seluruh kehidupanmu.

Buang segala kesedihan di depan pintu rumah jangan biarkan kekhawatiran menguasai hidupmu, Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –selalu meminta dijauhkan dari rasa khwatir setiap hari, beliau membaca :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسلِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-mu dari kesedihan dan kekhawatiran, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas (HR.al-Bukhari)

Seorang bijak pernah ditanya tentang benda yang terkuat di dunia ; dijawabnya : khawatir.

Orang yang membiarkan dirinya diterkam oleh rasa khawatir tidak akan pernah membuat dirinya bahagia selamanya.

Masa sebelum menikah adalah saat-saat yang indah, mengapa ?

Karena baik calon suami maupun calon istri tidak pernah merasa khawatir dan memikirkan masalah yang ada, mereka berdua hanya berpikir tentang hidup bahagia dan kesenangan, memikirkan rumah tangga yang bahagia.

Seseorang bercerita kepada saya :

“Aku melamar seorang perempuan cantik yang kucintai. Kami pun menikah dan merasakan kebahagiaan yang belum pernah kami rasakan. Bahagia menyelimuti saat kami berada di rumah. Kami merasa bahwa seisi dunia merasakan apa yang kami rasakan, semuanya bahagia dan gembira.

Walau pun banyak masalah menimpa, tetapi kami tidak pernah menganggapnya apa-apa. Aku berniat menyewa apartemen dan bekerja siang malam untuk mengumpulkan uang untuk biaya sewa apartemen dan untuk membeli perlengkapan rumah tangga. Calon istriku membantu memampunya, akhirnya kami mampu menyewa apartemen kecil dan membeli beberapa keperluan rumah tangga walaupun harus meminjam uang dari teman-teman.

Hari pernikahan pun tiba, malam pertama adalah saat terindah dalam hidup kami. Namun, selang beberapa hari dari pernikahan segalanya berubah, cahaya bahagia redup dari hati, kami selalu memikirkan bagaimana melunasi hutang yang membebani. Rasa khawatir mulai menyelimuti … apa yang terjadi ? Hutangku tidaklah banyak, dan kami telah mulai mengarungi bahtera rumah tangga, apa yang sebenarnya terjadi ? Apa yang terjadi ?

Inilah pertanyaan yang selalu terngiang dalam benak kami berdua. Kami duduk bersama memikirkan apa yang terjadi. Akhirnya, kami menemukan bahwa penyebab utama dari semua ini adalah rasa khawatir. Ya, rasa khawatir. Kami telah digelayuti rasa khawatir yang menghancurkan segalanya. Padahal saat sebelum menikah, masalah yang ada jauh lebih besar dari yang ada, tetapi tidak pernah kami pikirkan, kami membuang masalah yang ada jauh-jauh. Namun setelah kami menikah masalah menjadi semakin sedikit, tetapi selalu kami pikirkan dalam-dalam. Setelah kami tahu penyebabnya, kami berdua berjanji untuk membuang jauh-jauh rasa khawatir dari hidup kami. Kami berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari rasa khawatir. Akhirnya, Allah memberikan jalan keluar dan kami pun hidup bahagia.”

Belajar membagi waktu…

Jika Anda ingin hidup bahagia dan memperbaharui pernikahan Anda, belajarlah membagi waktu dengan baik.

Bacalah kisah yang indah di bawah ini :

Salman Al-Farisi pergi mengunjungi Abu Darda’, sesampainya di rumahnya dia melihat Ummu Darda’-istri Abu Darda’- sudah lesu dan nampak tidak memperhatikan dirinya sendiri. Salman terkejut dan bertanya, “Mengapa kamu begitu wahai Ummu Darda’ ?” Ummu Darda’ menjawab, “Saudaramu Abu Darda tidak lagi menginginkan diriku.”

Salman pun segera memahami bahwa Abu Darda’ menyia-nyiakan istrinya dan tidak memberikan haknya dengan cukup. Salman masuk dan mendapati Abu Darda’ sedang berpuasa dan sibuk beribadah kepada Allah.

Salman mengatakan kepadanya, “Sungguh, Rabbmu memiliki hak yang harus kau tunaikan, badanmu memiliki hak yang harus kau tunaikan, istrimu juga memiliki hak yang harus kau tunaikan, begitu pula dirimu, tunaikanlah kewajibanmu pada masing-masing dengan cukup.

Abu Darda’ menemui Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –dan menceritakan ucapan Salman, mendengar itu Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda, “Salman telah berkata benar.”

Inilah rahasia sukses, menunaikan kewajiban pada masing-masing pihak, luwes membagi waktu, dan memberikan porsi yang tepat bagi semua sisi kehidupan.

Allah mensyariatkan lembaga perkawinan sebagai tempat ketenangan bagi suami istri, masing-masing senang berada bersama pasangannya, mereka berdua diliputi rahmat dan cinta kasih. Inilah hakikat kehidupan rumah tangga. Jika kehidupan rumah tangga melenceng dari kerangka ini, maka telah melenceng jauh dari jalur yang benar. Orang yang cerdik selalu berusaha agar rumah tangganya bisa langgeng dan hangat.

Jika Anda sedang berada di tempat kerja, maka Anda wajib mencurahkan daya upaya untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin. Begitu juga dalam Ibadah, Anda pun wajib memperbagus ibadah dan ketaatan serta meningkatkan keikhlasan.

Ketika berada di rumah, kewajiban Anda adalah membahagiakan istri, menenangkan jiwa, dan menghilangkan kepenatan. Jadikan rumah tangga sebagai Surga tempat bersenang-senang hingga seluruh masalah dan kesedihan sirna di dalamnya, perbarui rumah tanggamu, lupakan segala masalah dan kesedihan.

***

Wallahu A’lam 

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Jaddid Zawajaka !, Dr. Muhammad Mahmud al-Qadhi, ei, hal. 36-42.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Keluarga

Pengantin Baru Setiap Hari

Published

on

Pengantin Baru 

Untuk menjadi pengantin baru, suami tidak harus meninggalkan istrinya dan mencari istri baru. Tetapi, yang dimaksud adalah memperbaiki problem yang ada dalam rumah tangga sehingga nampak baru dan Indah, inilah metode yang pas untuk memperbaiki rumah tangga.

Kata mengubah memiliki makna berbeda jika dibandingkan dengan kata memperbarui, mengubah sesuatu berarti mengantinya dengan sesuatu yang lain, seperti saya mengubah rumahku, berarti membangunnya dengan bangunan berbeda dari yang dulu.

Yang membuat saya memilih judul ‘perbarui pernikahanmu’ adalah sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-,

جَدِّدُوْا إِيْمَانَكُمْ قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيْمَانَنَا ؟ قَالَ : أَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Perbarui iman kalian ! Ada yang bertanya, Bagaimana cara memperbarui iman ? Nabi menjawab, Perbanyak mengucapkan : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ (Laa ilaaha illallahu, tidak ada sesembahan (yang hak) untuk disembah selain Allah)” (Hadis shahih riwayat Ahmad dan Hakim)

Melalui hadis ini, Nabi -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengajak kita memperbarui iman. Karena iman adalah urusan paling penting dalam kehidupan. Dari hadis ini seorang muslim dapat mengambil pelajaran penting untuk memperbarui seluruh sisi kehidupan. Salah satunya adalah pernikahan, yang merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan kita.

Ada lagi satu hadis yang membicarakan hal ini, yaitu :

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Allah mengutus seseorang bagi umat ini pada setiap seratus tahun untuk memperbarui agama-Nya” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim) [1]

Pembaruan bukanlah satu hal aneh dalam Islam, bahkan menjadi salah satu kelebihan Islam yang memungkinkan syariat Islam untuk berlaku di setiap saat dan di setiap tempat. Seorang muslim harus memperbarui seluruh kehidupannya dalam rangka ketaatan kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dan mencari keridhaan-Nya.

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Jaddid Zawajaka !, Dr. Muhammad Mahmud al-Qadhi, ei, hal. 19-21

 

Catatan :

[1] Syaikh al-Albani menshahihkan hadis ini dalam Shahih Abu Dawud, Ash-Shahihah no. 519, dan Shahih al-Jami’ Ash-Shaghir no. 1874.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: MDH tv (Media Dakwah Hisbah )
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending