Menerawang Hal yang Ghaib

kota-1.jpg

Orang yang merenungkan ayat-ayat al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan bahwasanya tidak ada gunanya sama sekali berupaya untuk menyingkap ilmu ghaib karena ilmu ini termasuk kekhususan Allah ta’ala. Oleh kerena itu, tidak ada cara apa pun untuk bisa mengungkapnya. Allah ta’ala berfirman,

اِنَّ اللهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (Qs. Lukman : 34)

اَفَرَاَيْتَ الَّذِيْ كَفَرَ بِاٰيٰتِنَا وَقَالَ لَاُوْتَيَنَّ مَالًا وَّوَلَدًا ۗ

Lalu apakah engkau telah melihat orang yang mengingkari ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, “Pasti aku akan diberi harta dan anak.”

اَطَّلَعَ الْغَيْبَ اَمِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمٰنِ عَهْدًا ۙ

Adakah dia melihat yang gaib atau dia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih? (Qs. Maryam : 77-78)

Dua ayat ini merupakan dalil pasti yang memutuskan harapan kemungkinan manusia untuk bisa mengetahui sesuatu yang gaib. Akan tetapi, karena sebuah hikmah yang hanya diketahui oleh Allah, terkadang Allah ta’ala memberitahukan sebagian Rasul-Nya untuk mengetahui sebagian ilmu ghaib, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman,

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ

Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu.

اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ

Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.

لِّيَعْلَمَ اَنْ قَدْ اَبْلَغُوْا رِسٰلٰتِ رَبِّهِمْ وَاَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَاَحْصٰى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

Agar Dia mengetahui bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedang (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Qs. Al-Jin : 26-28)

Al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa para Rasul tidak mengetahui perkara yang gaib. Dalam surat al-A’raf disebutkan sebuah perintah dari Allah kepada Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menginformasikan kepada umatnya bahwa beliau tidak memiliki daya kekuatan, kecuali dengan kehendak Allah dan bahwa beliau juga tidak mengetahui perkara gaib. Allah berfirman,

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”(Qs. Al-A’raf : 188)

Jika Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- yang merupakan manusia terbaik saja tidak mengetahui perkara gaib, apalagi manusia lain yang lebih rendah tingkatan, kemuliaan, serta kedudukan daripada beliau ?

Sejak dulu kala, manusia telah berlomba-lomba berusaha mengetahui perkara gaib dan kejadian-kejadian masa mendatang, karenanya mereka menciptakan banyak sarana, yang secara umum semuanya bertolak atau mengandalkan kepada berbagai macam perkiraan dan praduga, membuang-buang waktu serta iseng. Sekalipun banyak orang merasa yakin bahwa mengungkap perkara gaib adalah mustahil, tetapi mereka terus-menurus melanjutkan upaya berdasarkan tabiat dan sifat dasar mereka yang memang selalu penasaran dengan perkara gaib, maka mereka pun terus berusaha dan berupaya demi tersampaikannya keinginan yang mustahil tersebut. Mereka terdorong oleh suatu kekuatan yang bersembunyi dalam diri mereka untuk berusaha menerawang perkara gaib serta kejadian yang akan datang.

Wallahu A’lam

Sumber :


“As-Sihru wa As-Sahrah min Minzhar al-Qur’an wa As-
Sunnah”, Dr. Ibrahim Kamal Adham, ei, hal. 256-257


Amar Abdullah bin Syakir

 186 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: