Connect with us

Keluarga

Meneropong Dosa-dosa Suami (bagian 12)

Published

on

Menyebarkan Rahasia Ranjang

Ada tipe suami yang memutus urat malu dari wajahnya, sebagai gantinya ketidaksopanan tebal menutupi wajahnya. Anda melihatnya membicarakan urusan ranjang dan segala aktivitas seksual yang ia lakukan dengan istrinya. Bahkan, bisa jadi ia bangga memperbincangkannya dan menganggapnya sebagai penyempurna kelaki-lakian dan keperkasaannya.

Demi Allah, yang demikian itu bukan kebanggaan ataupun keperkasaan. Ia adalah indikasi rendahnya cita rasa dan keterpurukan dalam kemesuman. Kebanggaan macam apa yang diharapkan dari menyingkap urusan kemaluan? sedangkan ada ungkapan, “ kemaluan itu disebut ‘kemaluan’ karena manusia malu untuk memperlihatkannya.”

Seorang yang berakal, secara fithrah dan tuntutan akalnya, pasti malu memperlihatkan kemaluannya, selain penegasan dari syariat yang melarang tindakan tersebut. Lantas bagaimana mungkin seseorang memperbicarakan urusan kemaluan itu hingga seakan-akan pendengarnya melihatnya dengan mata kepalanya sendiri? Tindakan tersebut merobek tirai perlindungan Allah, menanggalkan hijab rasa malu, dan membuka pintu keburukan yang besar.

Sesungguhnya Allah Maha pemalu lagi menjaga kehormatan , Dia mencintai sifat malu dan sikap menjaga kehormatan diri. Ranjang itu mempunyai rahasia-rahasia yang mesti dijaga dengan suatu pagar, berupa sikap menyembunyikannya rapat-rapat. Karenanya, menjadi hak masing-masing, suami istri atas pasangannya untuk tidak menyebarkan rahasia ranjang yang terjadi antara mereka berdua. Jika mereka menyebarkannya, maka mereka seperti setan laki-laki dan setan wanita; keduanya bertemu disebuah jalan, lalu setan laki-laki menyetubuhi setan perempuan dengan disaksikan orang-orang.

Perumpamaan ini disebutkan dalam hadis Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-. Diriwayatkan dari Asma binti Yazid –radhiyallahu ‘anha– bahwasanya ia pernah bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam– ketika kaum laki-laki dan kaum perempuan duduk di sisi beliau. Beliau bersabda, “Barangkali ada seorang laki-laki yang mengatakan apa yang ia lakukan terhadap istrinya. Dan, barangkali ada seorang perempuan yang memberitahukan apa yang ia kerjakan besama suaminya.”

Orang-orang terdiam tidak menjawb. Asma’ berkata, “ Benar, wahai Rasulullah, kaum perempuan itu mengatakannya dan kaum laki-laki juga mengatakannya.” Beliau bersabda, “Janganlah kalian melakukannya. Sebab, perumpamaan tindakan itu seperti setan laki-laki yang bertemu setan perempuan di jalan, lalu setan laki-laki menyetubuhi setan perempuan dan orang-orang melihatnya (Diriwayatkan oleh Ahmad, VI : 456 dan ath-Tahbrani dalam al-Kabir, XXXIV : 162)

Dalam hadits ini terdapt larangan yang jelas menyebarkan rahasia ranjang. Sampai-sampai tindakan menyebarluaskan rahasia ranjang tersebut diumpamakan dengan hubungan seksual secara terang-terangan di jalan. Padahal, fitnah setan yang terpampang di jalan-jalan begitu dirindukan oleh jiwa-jiwa pendosa. Bahkan, untuk mendapatkannya, mereka rela mengorbankan banyak harta. Dan, menyiarkan urusan ranjang sama artinya dengan melakukannya secara terang-terangan, menjadi pendorong orang-orang bodoh untuk melakukannya, dan menjadi sebab terlepasnya tirai pelindung berupa sifat malu.

Kemudian, ada bahaya lain yang mengancam, khususnya bagi istri. Sebab, istri mempunyai sifat malu lebih besar daripada suami. Tindakan suami yang membeberkan rahasia istri akan mendorong istri menahan hasrat seksualnya ketika suami tengah menggaulinya agar tidak terlihat darinya sesuatu yang mendorong suami untuk memperbincangkannya di mana-man.  Jadi, yang disyariatkan adalah agar suami menjadi pakaian dan pelindung bagi istri, begitupun sebaliknya dengan istri. Sehingga, keduanya leluasa menyalurkan hasratnya, tanpa dibayang-bayangi rasa takut dan malu. Dengan demikian akan terwujud ketentraman dan kasih sayang. Berbeda jika salah seorang merasa khawatir bila rahasia tempat tidurnya terbongkar (Lihat, Syaikh Abdullah al-Juda’i, Shafhatuz Zaujah ash-Shalihah, hal. 51-53 dan al-Liqa’ bainaz Zaujaini, hal. 75)

Bahkan, terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyebarkan rahasia istrinya, di mana Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– menganggapnya sebagai seburuk-buruk manusia. Dalam Shahih Muslim disebutkan satu hadits dari Abu Sa’id al-Khudriy, ia berkata, Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِى إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِى إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Allah pada hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istri menyetubuhinya, lalu menyebarkan rahasia istrinya (Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1437)

Tatkala menjelaskan hadits tersebut, Imam an-Nawawi berkata, “Dalam hadis ini dijelaskan tentang haramnya seseorang menyebarluaskan urusan seksual yang terjadi antara dia dan istrinya. Haram mendeskripsikan hal tersebut secara detail dan menceritakan antara dia dengan istri berupa ucapan, perbuatan dan lain sebagainya. Adapun sekedar menyebutkan adanya hubungan seksual, jika tidak ada manfaat dan tidak diperlukan, maka hukumnya makruh karena bertentangan dengan kepribadian luhur. Pasalnya, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam– telah bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka hendaknya ia berkata yang baik, atau diam. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 6018 dan Muslim, no. 47)

Namun, jika dibutuhkan, atau ada manfaat yang diharapkan, misalnya untuk menolak keberpalingan suami dari istrinya, atau membantah tuduhan bahwa dirinya lemah syahwat dan lain sebainya, maka tidak makruh untuk menyebutkannya (Shahih Muslim bin Syarhi an-Nawawi, X : 9-10

Hal lain yang juga menjadi dispensasi membicarakan rahasia ranjang adalah bila seseorang membutuhkan fatwa, atau pengobatan, maka ia boleh membicarakan urusan ranjang sebatas keperluan.

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “Min Akhthaa-il Az-Waaj“, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, (Edisi Bahasa Indonesia), hal. 100-103.

Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fiqih

Tauhid Pondasi Keluarga

Published

on

Akidah tauhid merupakan pondasi dan pilar keluarga.
Kita katakan ,iya, akidah tauhid merupakan pondasi dan pilar dalam kehidupan umat seluruhnya, dan juga dalam kehidupan setiap insan. Hal tersebut juga merupakan pondasi kehidupan keluarga.
Akidah tauhid yang jernih yang berdiri di atas pemahaman dan landasan :

لا إله إلا الله محمد رسول الله

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah)
jika apa yang ditunjukannya secara ilmiah dan pengamalan telah kokoh tertancap di dalam kehidupan keluarga niscaya keluaga tersebut akan mengalami perubahan keadaan yang sangat berbeda. Karena konsekuensi dari akidah ini adalah menanggalkan seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah, berupa kesyirikan dan berhala-berhala serta tradisi-tradisi jahiliyah, ketaatan terhadap orang-orang yang menyimpang dan orang-orang fasik dan orang-orang yang gemar melakukan dosa. Menanggalkan diri dari hal-hal tersebut dan menjadi taat kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mentaati rasul-Nya-shallallahu alaihi wasallam-. Karena taat kepada belaiu merupakan ketaatan kepada Allah.
Jadi, pondasi keluarga yang harus di bangun di atasnya adalah akidah tauhid. Akan tetapi kita menyayangkan karena seringkali kita tidak membangun keluarga kita di atas pondasi ini, oleh karenanya kita banyak menjumpai banyak dari keluarga tidak memahami akidah tauhid ini …

Wahai saudaraku sekalian…
Mengapa kita mengosongkan diri dari mendidik keluarga kita di atas pemahaman akidah ini ?
Mengapa kita tidak mendidik keluarga di atas akidah yang berdiri di atas keimanan kepada Allah dan pengingkaran terhadap thaghut-thaghut?
Sesungguhnya ini, mendidik keluarga di atas pondasi ini merupakan hal mendasar. Akan tetapi, mengapa kita kurang perhatian dalam hal ini ?




Sungguh sangat lemah pangaruh akidah ini dalam jiwa kita, dan jiwa keluraga kita serta jiwa pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
Wahai saudara-saudaraku sekalian !
Sesungguhnya ketika akidah ini diajarkan dan ditanamkan dalam keluarga dengan benar, niscaya akan menjadikan seorang ayah sebagai sang pendidik banyak mendapatkan hal yang melegakan dirinya dalam banyak hal dalam kehidupan. Misalnya, ketika keluarga dididik di atas aqidah ini, mengesakan rabbnya dengan rasa takut, tawakal dan cinta. Sehingga menjadi sebuah keluarga yang tidak takut kecuali kepada Allah, dan tidak bertawakal dalam seluruh urusannya kecuali kepada Allah. Akan tetapi, cobalah Anda menengok keluarga kita, betapa banyak persoalan yang muncul dalam keluarga, disebabkan karena sang ibu atau sang istri takut terhadap kefakiran, atau takut kepada selain Allah-subhanahu wa ta’ala-.

Ya, jika keluarga terdidik di atas pondasi aqidah tauhid, niscaya akan senantiasa bergantung kepada Allah, sehingga kehidupan akan berjalan dengan lurus. Keluarga akan tidur sementara dia merasa lega, tidak takut akan adanya ‘ain (pandangan mata jahat) kecuali dengan izin Allah. Tidak takut akan adanya gangguan jin melainkan dengan izin Allah. Tidak takut akan adanya gangguan makhluk melainkan hal itu terjadi dengan izin Allah. Maka, bila keluarga telah bergantung dengan hal ini, niscaya keluarga benar-benar menjadi keluarga yang tenang dan lapang dada.

Kemudian, setelah itu, juga akan menjauhkan keluarga dari bergantung dan berhubungan dengan hal-hal yang syirik yang akan banyak menimbulkan kegelisahan dan kerisauan jiwa. Karena, sebagian keluarga itu ketika lemah pemahamannya terhadap akidah tauhid dan konsekuensi-konsekuensinya, dan wajibnya menjauhkan diri dari kesyirikan dan segala macam dan bentuknya, mulailah terjatuh ke dalam hal-hal kesyirikan, terjatuh ke dalam berbagai bentuk ruqyah dan tamimah yang diharamkan. Tamimah-tamimah yang haram ini yang telah valid dari nabi akan terlarangnya, jika terdapat di tengah-tengah keluarga, akan mengubah keluarga menjadi keluarga yang carut marut. Maka Anda akan mendapati sang ibu selalu saja mengkhawatirkan terhadap anaknya, sehingga hal itu mendorongnya untuk mengalungkan jimat-jimat, ia takut anaknya akan terkena ‘Ain, dan boleh jadi ia mengkhayalkan bahwa anaknya sakit, sehingga ia pun dirundung stres, dan ia pun mondar mandir ke beberapa rumah sakit, ia menjadikan suaminya stres dan menjadikan keluarganya stres pula. Padahal anaknya tidak terkena apa-apa. Namun, ibunyalah yang bermasalah karena kelemahan iman dan akidahnya.
Kemudian, setelah itu, juga akan menjauhkan keluarga ini dari terjatuh ke dalam berbagai bentuk kesyirikan yang kecil dan kesyirikan yang besar, yang akan dapat menghapuskan amal, sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. (An-Nisā’ [4]:48)
Wahai saudaraku sekalian …

Sesungguhnya mendidik keluarga di atas akidah tauhid ini akan menjadikan kecintaan Allah sebagai sebuah prioritas utama yang lebih dikedepankan atas kecintaan kepada selain-Nya, meskipun selain-Nya tersebut adalah suami atau istrinya.
Ketika kecintaan terhadap Allah bertolak belakang dengan kecintaan kepada istri atau suami, atau bertolak belakang dengan kecintaan kepada anak atau orang tua, maka manakah yang akan diprioritaskan oleh orang yang memiliki akidah yang jernih ? Manakah kiranya antara kedua hal ini yang akan diprioritaskan oleh orang yang telah tertanam di dalam dirinya akidah yang selamat ini ?
Namun, sungguh di antara hal yang dapat disaksikan -dan patut disayangkan- adalah bahwa pada galibnya yang terjadi di banyak keluarga adalah kecondongan cinta seorang suami atau istri tidak jarang mengantarkan seseorang kepada keburukan. Maka, boleh jadi Anda mendapatkan seorang wanita yang beriman kepada Allah, namun boleh jadi ia telah menikah dan sedemikian mencintai suaminya-terlebih ketika telah dikaruniai anak-ia lebih memprioritaskan cinta kepada suami dan anak-anak atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya. Bisa jadi pula, kadang Anda mendapati suami wanita ini seorang zindik, bisa jadi ia banyak melakukan penyimpangan, bisa jadi dalam bentuk mengolok-olok agama Allah, atau suaminya tersebut tidak melaksanakan shalat, atau hal-hal lainnya yang merupakan perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang Anda mendapati terjadi pada orang tersebut, sedangkan Anda dapati sang istrinya ini telah sedemikian menundukkan kepalanya kepada suaminya tersebut, sedangkan ia tidak menundukkan kepalanya kepada Dzat yang Esa, Dzat yang Maha Perkasa, maka ia tetap bertahan hidup di samping suaminya tersebut.




Demikian pula, seorang suami, boleh jadi di sisinya ada seorang wanita sebagai istrinya yang tidak mengerjakan shalat, namun tetap saja ia mempertahankannya di sisinya. Ia tidak mengedepankan kecintaan kepada Allah atas kecintaan kepada makhluk meskipun ia adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan dirinya.
Wahai saudaraku sekalian…!

Sesungguhnya kecintaan kepada Allah semata dan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam hal tersebut merupakan pondasi aturan keluarga, karena kesempurnaan kecintaan itu akan terwujud dengan beribadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. (al-Baqarah : 165)
Maka, bila kecintaan kepada selain Allah lebih dikedepankan atas kecintaan kepada Allah sesungguhnya ini termasuk syirik besar. Sementara konsekwensi terbesar dari kecintaan kepada Allah adalah mentaati Allah dan mengikuti rasul-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Āli ‘Imrān : 31)

Maka, kecintaan kepada Allah berkonsekuensi mendahulukan kecintaan kepada Allah dan mentaati Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-atas ketaatan kepada makhluk meskipun ia adalah manusia yang paling dekat hubungannya dengan Anda, meskipun ia sebagai seorang ayah atau ibu, meskipun ia sebagai seorang suami atau istri, atau pun yang lainnya.
Inilah pondasi akidah tauhid. Maka, ketika akidah ini jernih dan selamat, akan menumbuh kembangkan keluarga dengan baik dan menjadi susunan yang benar.
Wallahu A’lam
Amar Abdullah bin Syakir
Sumber :
Aqidatu at-Tauhid Asasu al-Usrati Wa Qawamuha, Abdurrahman bin Shaleh al-Hamud, 1/6.

Continue Reading

Keluarga

Tidak Adil Di Antara Anak

Published

on

Sebagian orang tua ada yang sengaja memberikan perlakuan khusus dan istimewa kepada sebagian anaknya. Anak-anak itu diberikan berbagai macam pemberian, sedang anak yang lainnya tidak mendapatkan pemberian.

Menurut pendapat yang kuat, tindakan semacam itu hukumnya haram, jika tidak ada alasan yang membolehkannya. Misalnya, anak tersebut memang dalam kondisi yang berbeda dengan anak-anak yang lain. Seperti sedang sakit, dililit banyak utang sehingga tak mampu membayar, tidak mendapat pekerjaan, memiliki keluarga besar, sedang menuntut ilmu atau karena ia hafal Al-Qur’an sehingga diberikan hadiah khusus oleh sang ayah.((Secara umum, hal ini dibolehkan manakala masih dalam hal memberi nafkah kepada anak yang lemah, sedang sang ayah mampu, Ibnu Baz).)










Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

اَلْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik adalah sedekah.” (Muttafaq ‘Alaih)




Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Az-Zaujan Fi Khaimah as-Sa’adah Maharat wa Wasa-il, Abdurrahman bin Abdullah al-Qar’awi, hal. 100-101

Continue Reading

Trending