Mengingkari “Hoax”

Mengingkari-“Hoax”.jpg

Dari Ibnu Umar-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, “ini adalah al-Baidaa [1]yang takdzibuuna [2](kalian pernah berdusta) atas nama Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- terkait dengannya. Demi Allah, tidaklah Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- berihrom (berniat untuk memasuki rangkaian aktivitas manasiknya) kecuali di pintu masjid itu (yakni, pintu masjid Dzulhulaifah) [3]

  • Ihtisab di dalam Hadis

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

Pertama, berihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) terhadap orang yang berberihrom (niat untuk memulai aktivitas rangkaian manasik haji/umrah) setelah melewati miqat.

Kedua, berihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) terhadap orang yang menukil berita tanpa mengklarifikasi dan mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

  • Penjelasan :

Seorang muhtasib hendaknya mengingkari terhadap orang yang ingin berhaji atau umrah sedangkan ia berihrom (niat untuk memulai aktivitas rangkaian manasik) setelah meliwati miqat, karena Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menetapkan tempat-tempat miqat bagi orang-orang yang hendak menunaikan manasik umrah atau haji yang rumah-rumah mereka terletak sebelum tempat-tempat miqat tersebut atau orang-orang yang datang melalui tempat-tempat miqat tersebut di mana ia bukan penduduk daerah miqat-miqat tersebut.

Hadis di atas menunjukkan bahwa orang yang hendak menunaikan haji (atau umrah) via Madinah berihromnya (niat untuk memulai rangkaian aktivitas manasik) di masjid Dzulhulaifah, dan tidak boleh bagi mereka untuk menunda berihrom hingga ke daerah al-Baidaa. Dengan inilah seluruh ulama berpendapat. [4]

Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhainya- telah mengingkari terhadap orang yang berihrom (niat untuk memulaian rangkaian aktivitas manasik) dari daerah al-Baidaa yang terletak setelah Dzulhulaifah ke arah Makkah. Karena tindakan berihrom dari tempat tersebut berarti telah melampaui batas miqat yang telah ditentukan oleh Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk penduduk Madinah, dan Ibnu Umar telah menjelaskan bahwa Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-tidaklah berihrom melainkan dekat pohon itu ketika untanya telah siap melaju (di dekat pintu masjid Dzulhulaifah) [5] dan beliau-semoga Allah meridhainya- juga berkata : sesungguhnya Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bila telah meletakkan kakinya pada al-gharz dan hewan tunggangannya siap melaju beliau berniat untuk memulai rangkaian aktivitas manasiknya [6]. Berita-berita ini yang datang dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhainya- tak ada sesuatu yang dapat menolaknya, karena berita-berita tersebut memberitahukan tentang apa yang didengar dan apa yang dilihat. Ibnu Khuzaemah mengatakan : Berita yang wajib diterima adalah berita orang yang menyampaikan bahwa ia mendengar sesuatu dan melihatnya bukan (berita) orang yang mengingakari sesuatu dan menolaknya [7]

Sesungguhnya, termasuk sifat yang sangat penting bagi seorang muhtasib untuk menghiasi dirinya dengan sifat tesrebut adalah mengecek kebenaran berita baik dalam hal menukil berita atau mendengarnya, karena hal itu merupakan perkara penting yang ditekankan oleh pembuat syariat yang mulia, terkhusus dalam hal menukil hadis Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka seorang muhtasib tidaklah sepatutnya mengingkari suatu perkara sebelum memklarifikasi kebenaran terjadinya, dan bahwa hal tersebut merupakan kemunkaran yang jelas, demikian pula halnya ia tidak memerintahkan dengan suatu perintah kecuali setelah ia mengecek kebenarannya bahwa hal tersebut merupakan perkara yang jelas-jelas ma’rufnya.

Dan, seorang muhtasib hendaknya mengingkari terhadap orang yang menukil berita tanpa mengkroscek kebenarannya terlebih dahulu. Karena pembuat syariat yang mulia telah memberikan peringatan terhadap tindakan penukilan-penukilan berita yang dilakukan tanpa mengkroscek kebenarannya terlebih dahulu, dan juga menganjurkan untuk bersikap tidak tergesa-gesa dalam menerima dan menyebarkan sebuah berita. Sungguh Allah azza wajalla telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [8]

Ibnu Umar –semoga Allah meridhainya- telah mengingkari terhadap orang yang mengatakan bahawa Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- berihrom (berniat untuk memulia aktivitas manasiknya) dari al-Baidaa, pengingkaran tersebut dilakukannya karena telah valid baginya bahwa Nabi tidaklah berihrom  melainkan dari sisi pintu Masjid (Dzulkhulaifah)

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaaemah, Abdul Wahhab bin Muhammad bin Fa-yi’ ‘Usairiy (hal.222-223)

[1] Al-Baidaa, ialah dataran tinggi yang berada di depan Dzulhulaifah ke arah Makkah, tempat ini dekat dengan Dzulhulaifah, dinamakan dengan baidaa karena di tempat tersebut tidak ada bangunan, tidak pula ada atsar. Dan setiap Mafaazah dinamakan dengan baidaa. Lihat : Fathul Baari, Ibnu Hajar, 1/515, dan Syarh Muslim, an-Nawawi, 8/331, an-Nihayah, 1/171, dan Mu’jam al-Buldan, 1/523

[2] Yakni, kalian mengatakan bahwasanya beliau berihram dari tempat tersebut namun ternyata beliau tidaklah berihrom dari tempat tersebut. Yang benar, bahwa beliau berihram sebelum tempat tersebut, yaitu di sisi Masjid Dzulhulaifah … Ibnu Umar menyebut mereka sebagai orang-orang pendusta karena mereka menghabarkan tentang sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta sesungguhnya. Syarh Muslim, an-Nawawi,8/331

[3]  Diriwayatkan juga oleh imam al-Bukhari –secara ringkas-,3/468, hadis no. 1541. Muslim, 8/33, hadis no.2808

[4] Lihat, Shahih Ibnu Khuzaemah, 4/168, Syarh Muslim</stro

Top
%d blogger menyukai ini: