Connect with us

Syubhat

Meninggalkan “Ihtisab” Takut Terjatuh Kedalam Fitnah

Published

on

Sebagian orang mengatakan, “Kami tidak melakukan amar ma’ruf nahi munkar karena takut terjatuh kedalam fitnah”.

Bantahan:

Kami akan menjawab syubhat ini dalam 5 sesi berikut ini:

  1. Meninggalkan ihtisab (amar ma’ruf nahi munkar) justru sebab seorang hamba terjerumus kedalam fitnah.
  2. Alasan ini serupa dengan alasan seorang munafiq yang bernama Al-Jid bin Qais ketika tidak ikut perang.
  3. Alasan ini bertentang dengan wasiat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  4. Alasan ini bertentangan dengan kisah-kisah para nabi dan orang-orang shaleh.
  5. Catatan

Pertama, Meninggalkan ihtisab justru sebab seorang hamba terjerumus kedalam fitnah.

Kami boleh bertanya kepada orang yang beralasan demikian, apakah dengan meninggalkan ihtisab kalian telah selamat dari fitnah atau justru kalian tejerumus kedalam fitnah?

Nash-nash dari Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa meninggalkan ihtisab justru menjerumuskan seorang hamba kedalam fitnah. Diantaranya firman Allah ta’ala:

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Allah ‘azza wajalla memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak membiarkan kemunkaran di tengah-tengah mereka sehingga Allah menurunkan adzab kepada mereka semua dan mengenai orang yang zhalim dan tidak zhalim.”

Diantaranya juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَيُعَذَّبُ العَآ مَّةَ بِعَمَلِ الخَآصَّةِ حَتَّى يَرَوْا المُنْكَرَ بَيْنَ ظَهرَانِيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوْهُ فَلاَ يُنْكِرُوْا، فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهُ العَآمَّةَ وَالخَآصَّةَ

Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mengadzab umumnya manusia hanya karena perbuatan khusus sebagian mereka, sehingga mereka melihat kemungkaran di tengah mereka dan mereka mampu untuk menentangnya namun mereka tidak menentangnya. Jika sudah demikian yang mereka perbuat maka Allah mengadzab yang umum dan khusus dari mereka.” (HR. Ahmad)

Diantaranya juga hadits Nabi yang berbunyi:

إِذَا رَأَيْتُمْ أُمَّتِيْ تَهَابُ الظَّالِمَ أَنْ تَقُوْلَ لَهُ: إِنَّكَ أَنْتَ ظَالِمٌ، فَقَدْ تُوُدِّعَ مِنْهُمْ

Bila kamu melihat umatku takut mengatakan kepada orang zhalim, ‘Kamu zhalim’, maka telah disampaikan selamat tinggal bagi mereka.” (HR. Ahmad)

Qadhi ‘Iyadh berkata dalam menjelaskan hadits ini. “Asal kata تودع adalah dari kata توديع yang berarti meninggalkan, dan yang dimaksud adalah bahwasanya meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan tanda bahwa mereka termasuk orang yg kecewa dan mendapatkan murkanya Allah.”

Tidak mungkin terhindar dari fitnah ini kecuali dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (ihtisab).

Kedua, Alasan ini serupa dengan alasan seorang munafiq yang bernama Al-Jid bin Qais ketika tidak ikut perang.

Yang lebih membuka cacatnya alasan ini adalah keserupaannya dengan alasan yang diungkapkan oleh Al-Jid bin Qais ketika ia tidak ikut serta dalam Perang Tabuk. Maka Allah membuka hakekat alasannya dan mencelanya dalam ayat Al-Qur’an yang dibaca sampai hari kiamat.

Imam Thobari menyebutkan bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika bersiap-siap pada suatu hari berkata kepada Jid bin Qais saudara dari Bani Salamah, “Wahai Jid bisakah kamu di tahun ini berperang melawan Bani Al-Ashfar?” Jid menjawab, “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya dan janganlah menjerumuskan saya kedalam fitnah. Demi Allah kaumku mengetahui bahwa tidak ada orang lelaki yang lebih besar keinginannya terhadap wanita daripada saya, dan saya takut jika melihat perempuan-perempuan Bani Al-Ashfar saya tidak sabar menahan diri dari mereka.” Maka Nabipun berpaling darinya dan berkata, “Kamu sudah saya izinkan.”

Maka turunlah ayat tentang Jid bin Qais:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)

Kemudian Imam Thobari berkata dalam menafsirkan ayat ini, “Maksudnya adalah seandainya ia semata-mata takut fitnah (tergoda oleh) perempuan-perempuan Bani Al-Ashfar -dan bukan itu yg sebenarnya-, maka ia tidak luput dari fitnah ketertinggalannya berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Demikian juga halnya orang yang meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar dengan alasan agar selamat dari fitnah yang belum terjadi, disaat itu ia telah terjatuh kedalam fitnah yang besar, yaitu meninggalkan sesuatu yang Allah wajibkan.

Ketiga, Alasan ini bertentang dengan wasiat nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Alasan ini bertentangan dengna pesan Nabi kepada para sahabatnya supaya mengatakan yang haq (benar), tidak takut celaan siapapun dalam menjalankan perintah Allah, dan supaya mereka tidak terhalangi oleh rasa takut terhadap diri mereka atau harta mereka dalam menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran.

Contohnya adalah hadits Nabi yang berbunyi:

أَلَا لَا يَمْنَعَنَّ رُجُلًا هَيْبَةُ النَّاسِ أَنْ يَقُوْلَ بِحَقٍّ إِذَا عَلِمَهُ

Ingatlah, janganlah sekali-kali rasa segan kepada manusia menghalangi seseorang untuk mengatakan kebenaran jika ia mengetahuinya.” (HR. Tarmidzi)

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ahmad dengan tambahan,

فَإِنَّهُ لَا يُقَرِّبُ مِنْ أَجَلٍ وَلَا يُبَاعِدُ مِنْ رِزْقٍ أَنْ يُقَالَ بِحَقٍّ أَوْ يُذْكَرَ بِعَظِيْم

Karena mengucapkan yang haq atau mengingatkan tentang suatu yang besar tidak mendekatkan kepada ajal dan tidak menjauhkan dari rezeki.”

Maka dimanakah posisi mereka yang menyuarakan syubhat ini di hadapan hadits ini dan banyak lagi hadits-hadits lainnya yang serupa?

Keempat, Alasan ini bertentangan dengan kisah-kisah para nabi dan orang-orang shaleh.

Dimanakah posisi mereka yang menyuarakan alasan ini dihadapan kisah-kisah para nabi dan orang-orang sholeh yang disiksa dan diusir dari kampung halaman mereka, bahkan sebagian mereka dibunuh lantaran mereka menyeru kepada kebaikan dan melarang kemunkaran? Dimanakah posisi mereka dihadapan orang-orang dizaman ini yang mendapat kabar gembira dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

Pemimpin para syuhada di sisi Allah, kelak di hari Kiamat adalah Hamzah bin ‘Abdul Muthalib, dan seorang laki-laki yang berdiri di depan penguasa zhalim atau fasiq, kemudian ia memerintah dan melarangnya, lalu penguasa itu membunuhnya.” (HR. Imam Al Hakim dan Thabaraniy)

Kelima, Catatan.

Janganlah dipahami dari apa yang kami tulis bahwasanya segala rintangan dalam ihtisab tidak dianggap ataupun tidak bernilai, itu semua akan terhitung pahala bagi orang yang melaksanakannya. Jika mafsadat (kerusakan) yang lebih besar dibanding dengan mashlahat (perbaikan) yang diperkirakan, maka saat itulah seseorang tidak berihtisab. Dan jika mashlahat yang diharapkan lebih besar maka wajib baginya untuk berihtisab. Dalam hal ini Syeikhul Islam mengatakan, “Karena amar ma’ruf nahi munkar merupakan salah satu kewajiban atau mustahab yang paling agung, maka mashlahatnya harus lebih besar daripada mafsadatnya. Sehingga kapan mafsadat amar ma’ruf nahi munkar lebih besar daripada mashlahatnya, maka saat itu ia tidak termasuk perintah Allah, walaupun konsekuensinya dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.”

Tetapi harus dicamkan bahwa ukuran mashlahat dan mafsadat bukan dengan hawa nafsu manusia, tetapi sebagaimana yagn dikatakan oleh Syeikhul Islam bahwasanya ia diukur dengan ukuran syariat. Wallahu a’lam.


Diterjemahkan dan diringkas dari: http://www.saaid.net/alsafinh/04.htm

Penulis : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Penerjemah : Arinal Haq

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Pelajaran Kisah Pezina Dan Seorang Ahli Ibadah

Published

on

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bahwa Rasulullah ﷺ bersabada, “Tidaklah berbicara ketika masih bayi kecuali tiga orang, di antaranya : Isa bin Maryam dan seorang bayi yang ada pada zaman Juraij.”

Juraij adalah seorang laki-laki ahli ibadah, dia membangun sendiri tempat ibadahnya. Ceritanya, pada suatu hari di saat ia sedang shalat ibunya memanggil, ‘Wahai Juraij.’ Juraij berkata. ‘Ya Rabbi, apakah akan saya jawab panggilan ibuku atau aku meneruskan shalatku ?’ Juraij meneruskan shalatnya. Lalu ibunya pergi.

Keesokan harinya, Ibu Juraij datang ketika ia sedang shalat lagi. Sang ibu memanggil, ‘Wahai Juraij !’ Juraij mengadukan kepada Allah, ‘Ya Rabbi, aku memenuhi panggilan ibuku terlebih dahulu atau meneruskan shalatku ?’ Tetapi Juraij meneruskan shalatnya.

Lalu Ibu Juraij bersumpah, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia, sehingga ia melihat pelacur!’

Orang-orang Bani Israil menyebut-nyebut ketekunan ibadah Juraij. Dan tersebutlah dari mereka seorang pelacur yang sangat cantik berkata, ‘Jika kalian menghendaki, aku akan memberinya fitnah.’

Perempuan tersebut lalu mendatangi Juraij dan menggodanya. Tetapi Juraij tidak memperdulikannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang penggembala yang sedang berteduh di dekat tempat ibadah Juraij. Akhirnya ia berzina dan hamil.

Tatkala ia melahirkan seorang bayi. Orang-orang bertanya, ‘bayi ini hasil perbuatan siapa ?’ Pelacur itu menjawab, ‘Juraij’. Maka mereka mendatangi Juraij dan memaksanya keluar dari tempat ibadahnya. Selanjutnya mereka memukuli Juraij, mencacimaki dan merobohkan tempat ibadahnya.

Juraij bertanya, ‘Ada apa ini, mengapa kalian perlakukan aku seperti ini ?’ Mereka menjawab,’Engkau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga ia melahirkan seorang bayi.’ Ia bertanya, mana sekarang bayi itu ?’ Kemudian mereka datang membawa bayi tersebut.

Juraij berkata, ‘Berilah aku kesempatan untuk mengerjakan shalat !’ Lalu Juraij shalat. Selesai shalat Juraij menghampiri sang bayi lalu mencoleknya di perutnya seraya bertanya,’Wahai bayi, siapakah ayahmu ?’ Sang bayi menjawab, ‘Ayahku adalah seorang penggembala.’

Serta merta orang-orang pun berhambur, menciumi dan meminta maaf kepada Juraij. Mereka berkata, ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadah untukmu dari emas!’ Juraij menjawab,’Jangan! Cukup dari tanah saja sebagaimana semula.’ Mereka lalu membangun tempat ibadah sebagaimana yang dikehendaki Juraij.

Ketika ibu si bayi memangku anaknya untuk disusui, tiba-tiba lewat seorang lelaki menunggang kuda yang gesit, gagah dan tampan rupa. Maka ibu itu berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti dia.’ Tiba-tiba bayi itu melepaskan tetek ibunya dan menghadap kepada penunggang kuda tersebut seraya berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.’ Lalu ia kembali lagi ke ibunya dan melanjutkan hisapan susunya.”

Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata, ‘Seakan-akan aku melihat Rasulullah ﷺ menirukan gerakan si bayi dan meletakkan jari telunjuknya di mulut lalu mengisapnya.

Lalu lewat serombongan orang membawa wanita hamba sahaya yang sedang dipukuli. Mereka menuduh, ‘Kamu telah berzina, kamu telah mencuri !’ Sementara hamba sahaya perempuan itu berkata, ‘Cukuplah Allah sebagai pelindungku!’

Melihat kejadian ini, sang ibu berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.’ Maka bayi itu meninggalkan tetek ibunya dan melihat ke tempat wanita hamba sahaya tersebut sambil berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.’

Dan pembicaraan itu berulang. Sang ibu berkata kepada anaknya, ‘Di belakangku berlalu seorang penunggang kuda yang gagah dan tampan, lalu aku berkata, ‘Ya Allah, jadikan anakku seperti dia.’ Lantas engkau berkata, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.’ Lalu berlalu di hadapanku, wanita hamba sahaya dan mereka memukulinya serta mengatakan bahwa ia telah berzina, ia telah mencuri! Melihat hal ini, aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia.’ Lalu engkau berkata, ‘Ya Allah, jadikan aku seperti dia.’

Maka bayi itu menerangkan kepada ibunya, ‘Wahai ibu, sesungguhnya penunggang kuda yang tampan itu adalah orang yang sangat sombong. Maka aku berdoa, ‘Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia!, Sedangkan terhadap hamba sahaya wanita itu, yang orang-orang berkata, ‘Kamu berzina, padahal dia tidak berzina, kamu mencuri padahal dia tidak mencuri.’ Maka, aku berdoa, ‘Ya Allah jadikanlah aku seperti dia.’ (HR. Al Bukahri, 3436 dan Muslim, 2550)

Pelajaran yang dapat dipetik :

  1. Kewajiban birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) terutama ibu, dan bahwasanya jika ia menyumpahi anaknya maka akan dikabulkan.
  2. Allah menyelamatkan seseorang dengan ketakwaan dan keshalihannya.
  3. Jika suatu urusan nampak tumpang tindih, hendaknya memprioritaskan yang terpenting kemudian yang penting.
  4. Disunnahkan berwudhu terlebih dahulu sebelum berdoa untuk hal-hal yang penting.
  5. Wudhu sudah dikenal umat dan disyariatkan sebelum Nabi Muhammad ﷺ.
  6. Penetapan karamah para wali, yang bisa diperoleh melalui ikhtiar atau usaha mereka.
  7. Bersikap lemah lembut dan sayang kepada murid ketika memberikan pendidikan kepadanya.
  8. Orang yang memiliki kepercayaan yang tinggi kepada Allah tidak mudah termakan fitnah.
  9. Boleh melakukan ibadah yang banyak/secara maksimal bagi yang mengetahui bahwa dirinya mampu.
  10. Orang yang biasa berbuat keji tidak akan memperoleh penghormatan.
  11. Orang yang secara tiba-tiba dilemparkan kepadanya suatu tuduhan hendaknya segera menghadap Allah dengan shalat.
  12. Menjelaskan keyakinan Juraij yang sangat tinggi begitu pula harapannya kepada Allah untuk memperoleh pertolongan-Nya. Sehingga ketika ia meminta anak bayi berbicara, Allah mengabulkannya. Padahal sebagaimana biasanya yang namanya bayi tentu belum bisa bicara.
  13. Sombong dan membanggakan diri adalah perbuatan tercela, demikian pula orang yang sombong dan zhalim, mereka semua dicela.
  14. Orang yang dizhalimi mempunyai kedudukan dan kelebihan di sisi Allah. Jika tidak demikian tentu tidak ada kebaikannya seorang anak yang masih menyusu ingin menjadi seorang pembantu yang rendah hati.
  15. Seseorang boleh membatalkan shalat sunnahnya manakala dipanggil orang tuanya untuk melakukan sesuatu yang syar’i.
  16. Tidak boleh cepat mempercayai suatu tuduhan tanpa bukti.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Sittuna Qishshah Rawaha An Nabiy Wa Ash Shahabah Al Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, ei, hal. 37-40.

 

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

Akhlak

Sistem Ekonomi Riba Sistem Ekonomi Tercela

Published

on

Sebenarnya, sistem ekonomi riba adalah sistem ekonomi yang tecela apabila dilihat dari segi ekonomi murni. Keburukan sistem riba juga semakin bertambah setelah aib-aibnya dijelaskan oleh beberapa profesor dari bangsa Barat sendiri. Padahal, mereka tumbuh besar di bawah naungan sistem ini. Selain itu, pikiran dan budaya mereka telah banyak terpengaruh oleh racun sistem riba yang disebarkan para pemilik modal di setiap ranah kebudayaan, konsepsi dan moral.

Salah satu ahli ekonomi yang memelopori kritik terhadap sistem riba dari sudut pandangan ekonomi murni adalah Dr. Schacht yang berkebangsaan Jerman. Ia adalah mantan direktur Bank Reichs Jerman. Pada salah satu kuliah umumnya di Damaskus pada tahun 1953, dengan menggunakan logika matematika yang terukur, ia menjelaskan bahwa semua aset harta kekayaan di bumi menjadi milik segelintir lintah darat pemakan riba. Hal itu menunjukkan bahwa orang yang memberi pinjaman utang dengan praktek riba selalu mendapat untung finansial di dalam semua proses transaksi. Sementara itu, orang yang berutang tidak akan mendapat untung sama sekali dan selalu merugi.

Oleh karena itu, semua harta pada akhirnya-secara hitungan matematis-pasti selamanya menjadi milik orang yang memperoleh keuntungan. Teori ini dalam perjalanannya masih perlu diverifikasi secara sempurna.

Sesungguhnya, sebagian besar kekayaan di dunia pada masa sekarang ini dimiliki-dengan kepemilikan hakiki-oleh segelintir orang saja. Adapun semua pemilik dan pengelola industri yang berutang kepada bank-bank konvensional, para buruh, dan kepada selain mereka, hakikatnya para debitur tersebut bekerja hanya untuk memenuhi kepentingan para pemodal. Segelintir orang itulah yang memanen buah usaha keras mereka.

Tidak hanya ini saja kejahatan yang ada pada sistem riba. Berdirinya sistem ekonomi di atas fondasi riba membuat relasi antara pemodal dan pekerja di dalam pasar dan industriy hanya sebatas relasi perjudian (spekulatif), perselisihan, dan pertentangan yang berkesinambungan. Praktisi riba akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan keuntungan melalui bunga pinjaman yang paling besar. Oleh karena itu, ia menahan hartanya hingga kebutuhan pemilik perdagangan dan industri terhadap praktisi riba semakin bertambah besar karena kebutuhan tambahan modal. Jika sudah demikian, para pemodal akan meningkatkan nilai suku bunga.

Dia terus-menerus menaikkan suku bunga, sehingga para pelaku pasar dan industri sama sekali tidak mendapatkan manfaat dan keuntungan dari penggunaan modal ini. Hal ini karena mereka tidak sanggup untuk mengembalikan pinjaman modal tersebut dan tidak ada keuntungan sama sekali bagi mereka.

Pada saat itu, menyusutlah jumlah modal yang bisa dipakai dalam sektor-sektor yang menjadi tempat kerja jutaan orang. Lalu, menyempitlah sirkulasi produksi industri dan terjadilah pemutusan hubungan kerja. Imbasnya, terjadilah penurunan daya beli masyarakat. Ketika keadaan itu sudah sampai pada batas ini dan para pelaku praktek riba mendapati permintaan modal sudah berkurang atau berhenti, mereka kembali menurunkan tingkat suku bunga secara paksa. Maka, para pekerja di pabrik-pabrik dan pasar-pasar diterima bekerja kembali. Kehidupan pun kembali berputar dengan tenang.

Seperti inilah siklus ekonomi global berputar. Orang-orang terus bernaung dan berbutar-putar di bawah kendali pemilik modal layaknya binatang ternak. Kemudian, semua konsumen secara tidak langsung membayar pajak kepada para pengusaha pelaku riba. Hal ini dikarenakan para pelaku industri (pengusaha) dan para pedagang tidak membayar bunga dari modal yang mereka pinjam dengan sistem riba, kecuali uang itu dari kantong-kantong para konsumen.

Setelah itu, mereka manaikkan harga berbagai komoditas konsumtif. Kemudian, membebankan biaya kenaikan harga komuditas tersebut kepada masyarakat. Pada akhirnya, keuntungan yang didapatkan akan masuk ke kantong para pengusaha pelaku riba.

Begitu juga dengan utang-utang yang dipinjam oleh pemerintah dari berbagai Bank dalam rangka mewujudkan berbagai perbaikan dan proyek-proyek konstruksi. Pemegang peran penting dalam urusan ini adalah orang-orang yang mengalirkan bunga dari utang-utang tersebut (sebagai keuntungan) bagi institusi-institusi yang menjalankan riba. Kalau sudah demikian, pemerintahan-pemerintahan ini terpaksamenaikkan berbagai pajak untuk menanggulangi dan melunasi utang-utang ini beserta bunganya.

Dengan demikian, pada akhirnya setiap individu ikut andil dalam membayar pajak tersebut kepada para pengusaha pelaku riba. Hal itu tidak mungkin berhenti hanya pada batasan ini (yaitu masalah pelunasan berbagai utang dan bunganya). Tidak ada ujung dari masalah utang piutang ini, kecuali pada akhirnya terjadi penjajahan (secara tidak disadari, ed). Kemudian akan timbul peperangan dari penjajahan ini.

Kami (penulis) di sini –di dalam tafsir Fi Zhilali al-Qur’an– tidak membahas secara detail semua keburukan sistem riba karena hal ini sudah masuk dalam wilayah pembahasan tersendiri. Kami cukupkan pembahasannya sampai di sini supaya kita bisa sampai pada kesimpulan yang bisa memperingatkan hakikat riba kepada orang-orang yang ingin menjadi muslim sejati.

Wallahu A’lam

 

Sumber :

Tafsiir Aayaat ar-Riba, Sayyid Quth Ibrahim Husayn asy-Syadzili, (ei, hal.23-28)

Amar Abdullah bin Syakir

Continue Reading

baru

Hubungan Di Luar Nikah Dianggap Bukan Zina?

Published

on

Seluruh Kaum Muslimin, baik muda maupun tua, lelaki ataupun wanita, atau awam sekalipun, apalagi kaum berilmunya, tidak ada satupun yang menolak keharaman zina dan kekejiannya, mengapa? Karena larangan itu dating dari Allah Ta’ala dengan ayat yang jelas dan dapat dipahami oleh awam sekalipun, yaitu Firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا


Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“. (QS Al Israa: 32)

 


Adapun jika ada yang berargumen bahwa sebagian Kaum Muslimin ada yang berzina, maka argument tersebut merupakan kesalahan dalam berfikir dan menyusun logika, mengapa? Karena yang menjadi tolak ukur adalah sumber pelarangannya, yaitu syariat Islam, sebagai subjeknya, bukan oknum perorangan yang merupakan objek. Oleh karena itulah ketika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya melarang dari perbuatan zina, maka selanjutnya diterapkan hukuman bagi yang melanggar, yaitu hukuman cambuk bagi pezina lajang, dan rajam bagi pezina yang sudah pernah menikah.


Allah Ta’ala berfirman tentang hukuman cambuk:

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ


Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap satu dari keduanya dengan seratus kali deraan. Dan janganlah kamu belas kasihan kepada keduanya didalam menjalankan (ketentuan) agama Allah yaitu jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah (dalam melaksanakan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman “. (QS An Nur: 2)

 


Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang hukuman rajam:

البكْر بالبِكْر جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة والثّيّبُ بالثّيّبِ ، جَلْدُ مائة والرّجْم


Artinya: “Perawan dengan perjaka (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. Duda dengan janda (jika berzina) maka dicambuk 100 kali dan dirajam“. (HR. Muslim)

 


Maka dari itu, setelah melihat gamblang dan jelasnya aturan tentang pengharaman zina di Islam, maka rasanya tidak mungkin akan ada yang datang dan menyatakan bahwa zina dibolehkan selama tidak dilakukan di depan orang lain atau tidak melakukan hubungan sejenis, wal ‘iyadzu billah. Namun kita dikejutkan oleh sebuah Disertasi yang menyatakan hal tersebut, sungguh suatu hal yang memalukan nama pendidikan Islam.

 


Terakhir, kita menyeru kepada siapapun yang menyatakan demikian atau setuju dengannya untuk segera bertaubat, karena beda hukuman bagi orang yang berzina karena dasar kelalaian dan kurangnya iman sehingga terjerumus ke dalam lubang maksiat itu, dengan orang yang menyatakan bahwa zina tersebut boleh dan legal, maka yang demikian terancam kafir dan keluar dari Islam, dan terancam hukuman mati dalam Islam jika tidak bertaubat.


Allah Ta’ala berfirman tentang ancaman menghalalkan apa yang haram:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit; dan bagi mereka adzab yang pedih. [an-Nahl /16 : 116-117]


Semoga Allah Ta’ala segera mengembalikan saudara-saudara kita yang tersesatkan oleh akalnya agar kembali ke hidayah-Nya, dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah Ta’ala dalam beragama, dengan tunduk kepada dalil-dali Agama bukan akal pikiran apalagi hawa nafsu belaka.


ustadz : Hadromi

Continue Reading

Trending