Meninggalkan Kitabullah dan Berpaling Darinya

22.jpg

Telah banyak kaum wanita yang tertimpa penyakit jiwa, jebakan setan, dan tersesat ke jalan-jalan yang menyimpang, serta tidak mendapatkan kenikmatan dan ketenangan hidup karena jauhnya dari kitab Rabbnya. Dia jarang sekali membacanya. Dia tinggalkan al-Qur’an di belakang punggungnya, lalu al-Qur’an menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan baginya.

Yang dia baca hanyalah buku, majalah, koran, dan surat. Tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk membaca al-Qur’an.

Dia lebih senang mendengarkan musik-musik, nyanyi-nyayian dan lain sabagainya. Namun telinganya tidak pernah ia gunakan untuk mendengarkan kitab Rabbnya.

Dia lebih suka menyaksikan sinetron berseri, film-film dan lainnya. Namun matanya tidak pernah melihat apa yang tertulis dalam mushaf al-Qur’an.

Setiap hari, baik siang maupun malam, dia gunakan lisannya untuk membicarakan berbagai hal, namun tidak pernah dia gunakan untuk membaca kalamullah (al-Qur’an).

Bagaimana mungkin orang yang meninggalkan al-Qur’an akan mendapatkan kebahagiaan ?

Bagaimana mungkin orang yang berpaling dari Kitabullah akan merasakan nikmatnya ketenangan ?

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الْقُرْآَنُ شَافِعٌ مُشَفَّعٌ، وَمَا حَلَّ مُصَدَّقٌ، فَمَنْ جَعَلَهُ إِمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ

Al-Qur’an adalah pemberi syafa’at sekaligus akan diterima syafa’atnya (pada hari Kiamat), dan ia adalah perhiasan yang dapat dipercaya. Barangsiapa menjadikan al-Qur’an sebagai imamnya, niscaya akan menuntunnya ke Surga, dan barangsiapa yang menjadikannya di belakang punggungnya, niscaya akan menggiringnya ke Neraka (Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan Thabrani dalam al-Kabir. Lihat As-Silsilatus Shahihah (V/31) (2019))

Dari Abu Dzar –semoga Allah meridhainya- diriwayatkan bahwa ia berkata, ‘aku pernah berkata (kepada Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah ! Berilah wasiat kepadaku.’ Beliau bersabda, ‘Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, karena itu akan menghiasi seluruh urusanmu.’ Aku berkata, ‘wahai Rasulullah ! Tambahilah nasehatnya.” Beliau bersabda, “Hendaknya engkau membaca al-Qur’an dan berdzikir kepada Allah, karena ia merupakan pujian bagimu di langit dan cahaya bagimu di bumi.’ Aku berkata, Wahai Rasulullah ! Tambah lagi nasehatnya.’Beliau bersabda, ‘Janganlah Engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.’ Aku berkata, ‘Tambahilah lagi.’ Beliau bersabda, ‘Katakan yang benar, meskipun pahit.’ Dan aku berkata, Tambahi lagi.’ Beliau bersabda,’Janganlah engkau takut celaan orang yang mencela katika engkau beramal karena Allah (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan al-Hakim. Lihat Shahihut Targhiib Wat Tarhiib (III/92) (2868)

Berapa banyak kaum wnita yang gemar membaca koran-koran, majalah-majalah mode, majalah-majalah selebritis, dan berbagai buku lainnya, namun mereka tidak mau mambaca al-Qur’an, bahkan tidak mau memperbaiki bacaannya menurut kaidah yang benar. Bisa jadi, ada di antara mereka yang mengikuti kursus computer dan bahasa Inggris, dan ia curahkan segenap tenaganya untuk itu dengan berbagai bentuk pengorbanan. Namun dia tidak becus membaca satu ayatpun dari Kitabullah dan malu mempelajarinya. Dia menganggap hal itu adalah bentuk kemunduran dan aib baginya. Tidakkah dia mengetahui bahwa al-Qur’an lah yang menjadikannya mulia di dunia dan bahagia ketika bertemu dengan Rabbnya.

Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya (Shahih al-Bukhari (VI/427) (5026)

Jadi, janganlah engkau menjauhi al-Qur’an, karena ia adalah sebaik-baik ibadah dan jalan meraih kebahagiaan.

Dari Muadz diriwayatkan bahwa ia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ، وَلَا تَأْكُلُوا بِهِ، وَلَا تَسْتَكْثِرُوا بِهِ، وَلَا تَجْفُوا عَنْهُ، وَلَا تَغْلُوا فِيهِ

Bacalah al-Qur’an, janganlah kamu mencari makan dengannya, jangan meminta harta lebih banyak dengannya, jangan berpaling darinya, dn janganlah berlebih-lebihan dalam memperlakukannya (Dikeluarkan Thahawi dalam Syarh Ma’anii, Ahamd, dan Thabrani dalam al-Ausath. Lihat, As-Silsilatus Shahihah (I/465) (260))

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari, “Mukhalafaat Nisaiyyah”, 100 Mukhalafah Taqa’u fiha al-Katsir Minan Nisa-i bi Adillatiha Asy-Syar’iyyah”, karya : Abdul Lathif bin Hajis al-Ghamidi (ei, hal. 38) dengan ringkasan.

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: