Menjaga Rasa Aman

2-2.jpg

Rasa aman termasuk pondasi kuat demi langgengnya kehidupan rumah tangga, baik aman jiwa, jasad, maupun materi. Tatkala itu hilang dari sebuah keluarga, maka akan mengakibatkan anggota keluarga bercerai-berai.

Sepantasnya suami istri menjadi sumber rasa aman bagi pasangan dan anak-anak. Sebab, keduanya tidak pernah saling menyakiti dengan ucapan, seperti : mengangkat suara, mengancam, terutama di waktu marah. Terkadang menyakiti dapat berupa perilaku, seperti, berbagai macam pukulan, mengurung, sewenang-wenang terhadap harta atau milik pribadi, dan macam-macam gangguan lainnya. Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam-bersabda,

اَلْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السُّوْءَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَبْدٌ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Mukmin adalah yang manusia aman darinya. Dan Muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya, dan muhajir (orang yang hijrah) adalah yang menjauhi keburukan. Dan demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, tidak akan masuk Surga seorang hamba yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya (Shahih al-Jami’)

Hadis ini sangat jelas bahwa mukmin yang sebenarnya adalah yang kaum mukminin merasa aman darinya baik harta, kehormatan, maupun diri mereka. Begitu pula muslim yang hakiki adalah yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dua kalimat ini telah mencakup seluruh jenis gangguan baik bersifat kejiwaan maupun fisik.

Dalam hadis ini juga dijelaskan bahwa seseorang akan terhalang masuk Surga tatkala tetangganya tidak merasa aman dari keburukan dan gangguannya. Sedangkan suami-istri paling pantas untuk membuat aman tetangganya (pasangannya).

Riset membuktikan bahwa di antara faktor penyebab penyakit kejiwaan dan tekanan mental adalah terbiasa bersikap keras. Sikapnya saat menghadapi rumah tangga dan masyarakat akan kembali sedianya masa kecil. Seperti jika seorang ayah biasa memperlakukan anak-anaknya dengan pukulan, cemoohan, dan garang. Itu semua akan dipraktekkan saat dewasa terhadap istri dan anak-anaknya. Artinya, dampak kekerasan itu kembali terulang dan regenerasi, dan akibat buruk akan menjangkau melebihi batasnya (keluarganya) (www.almostshar.com)

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “ Tis’un Wa Tis’una Fikrah li Hayah Zaujiyah Sa’idah”, karya : Dr. Musyabbab bin Fahd al-Ashimi (ei, hal. 82-83)

Amar Abdullah bin Syakir

 

52 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: