Menyambut Kehadiran Ramadhan

perahu-kuning.jpg

Pembaca yang budiman …

Alhamdulillah, yang kita tunggu-tungguh kehadirannya hampir tiba. Dialah  ramadhan…. Bulan istimewa bagi kita kaum muslimin… bagaimana tidak, sementara ia memiliki berbagai keutamaan. Di antaranya adalah :

  • Ramadhan bulan Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman, Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (Al-Baqarah: 185).

Firman Allah Ta’ala “Unzila fiihil Qur’an” mengandung beberapa makna:

  • Turunnya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia sebagaimana menurut Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu.
  • Atau Allah menurunkan permulaan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sedang Lailatul Qadar ada pada bulan Ramadhan.
  • Menurut pendapat lain yakni bulan diturunkannya Al-Qur’an yang memuji bulan Ramadhan, menyanjungnya, menjelaskan keutamaannya dan mewajibkan puasa di dalamnya.

Maksud yang paling kuat dalam hal ini adalah makna yang pertama, kemudian makna yang kedua.

  • Ramadhan bulan sabar

Sabar tidak kelihatan jelas dalam satu ibadah, kecuali dalam ibadah puasa, di mana seseorang menahan dirinya dari makan dan minum serta bersenggama, dan lainnya selama siang hari di bulan Ramadhan, karena itu dikatakan, “puasa separuhnya sabar, dan surga sebagai balasannya.” Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10).

  • Pintu-pintu neraka dikunci, pintu surga dibuka, para syetan dan para jin yang jahat diikat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ.

“Apabila Ramadhan telah datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka dikunci dan para syetan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maksudnya: Para syetan diikat dengan rantai dan besi sehingga mereka tidak bebas berkeliaran seperti pada bulan lainnya, oleh karenanya bisikan dan tipu daya setan kepada manusia lebih ringan dari bulan lainnya, bahkan mereka lebih takut dari Ramadhan seperti takutnya dari suara adzan dan iqamat.

Barangkali salah satu penomena yang kita lihat, apabila Ramadhan telah dekat mulailah orang-orang yang bergelimang dengan kemaksiatan mempersiapkan diri untuk bertaubat, sebagian orang mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai bukti perhatian dan komitmen mereka akan taubat. Bertanyalah salah satu dari mereka, “Saya pernah berbuat zhalim.” Bertanya yang lainnya, “Saya pernah berbuat maksiat dalam hal tertentu, bagaimana caranya bertaubat?” Bertanya yang lainnya lagi, “Saya tidak maksimal dalam berbuat kebajikan, bagaimana agar bisa komitmen?” dan seterusnya. Jadi andai syetan takut akan kedatangan Ramadhan, di mana tipu daya dan pengaruhnya dilemahkan, bagaimana kalau di bulan Ramadhan para syetan dibelenggu dan diikat dengan besi, tentu mereka tidak bisa memperdayakan manusia kecuali sebagian kecil saja.

Tetapi ada sebagian orang yang jiwanya kotor, mudah terperangkap dengan rayuan dan godaan syetan –padahal tipuannya lemah–. Karena itu tidak heran bila kita mendapatkan seseorang yang berbuat maksiat di bulan Ramadhan dan hal ini telah saya jelaskan di muka. Lebih prihatin lagi penyimpangan ini terjadi pada malam kedua puluh tujuh, di mana orang-orang yang hatinya tertutup berkumpul di malam tersebut sambil menikmati minuman, musik, permainan dan perempuan. Wal’iyadzu Billah.

Telah digariskan untuk seseorang di hari-hari ujiannya Sehingga ia melihat kebaikan padahal itu bukan kebaikan.

  • Pada bulan ini terdapat Lailatul Qadar (malam mulia), yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan

Allah Ta’ala berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadar: 3-5).

Sebagian ulama telah menghitung bulan mulia ini, ternyata lebih dari 83 tahun. Dalam kitab Al-Muwaththa karya Imam Malik dengan sanad yang mursal dinyatakan, “Telah diperlihatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam usia-usia manusia sebelumnya atau sesuatu yang Allah kehendakinya, ternyata seakan-akan usia umatnya pendek-pendek. Cukuplah usia mereka untuk beramal seperti umat terdahulu karena usia mereka panjang. Maka Allah memberinya Lailatul Qadar yang dia itu lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Muwaththa).

Adalah satu anugerah yang sangat besar apabila seseorang bisa mendapatkan Lailatul Qadar ini, karena ia telah meraih keutamaan 83 tahun atau lebih.

  • Pada bulan ini dikabulkannya doa

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Jabir radhiallahu ‘anhu dengan sanad jayyid bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لِكُلِّ مُسْلِمٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ يَدْعُوْ بِهَا فِيْ رَمَضَانَ.

“Doa setiap muslim akan dikabulkan, apabila ia berdoa di bulan Ramadhan.”

Banyak hadits-hadits yang menjelaskan bahwa yang di maksud dengan doa ini adalah berdoa di saat menjelang ifthar (berbuka puasa). Karenanya bagi seorang muslim hendaknya memanfaatkan waktu ini dengan memperbanyak doa.

Lalu, bagaimana cara kita menyambut kedatangannya ?

Syaikh bin Bazz mengatakan, “ aku tidak mengetahui hal tertentu untuk menyambut kedatangan ramadhan selain hendaknya seorang muslim menyambutnya dengan dengan gembira dan bahagia dan syukur kepada Allah yang akan menyampaikannya kepada bulan ramadhan tersebut, dan yang memberikan taufiq kepadanya dan menjadikannya sebagai orang yang hidup yang saling berlomba dalam melakukan amal-amal yang shalih. Karena, sampainya bulan ramadhan merupakan kenikmatan yang agung dari Allah ta’ala. Oleh karena ini, setiap kali nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada shahabatnya dengan kedatangan bulan ramadhan, beliau menjelaskan keutamaannya dan apa-apa yang Allah siapkan bagi orang-orang yang berpuasa dan melaksanakan qiyamullail berupa pahala yang besar. dan disyariatkan agar seorang muslim menyambut kedatangan bulan ramadhan yang mulia ini dengan bertaubat dan menyiapkan diri untuk melakukan puasa dan qiyamullail dengan niat yang baik dan tekad yang benar. “ selesai perkataan beliau.

Akhirnya, semoga Allah menyampaikan kita ke bulan yang mulia tersebut. Dan, semoga pula Allah memberikan taufiq kepada kita untuk mengisinya dengan amal-amal shaleh. Amiin ( Abu Umair )

576 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: