Menyambut yang Baru dengan Cara yang Lama

Yang baru itu adalah tahun 2021, banyak orang menyembutnya justru dengan cara yang lama. Cara yang lama dalam menyambutnya itu di antaranya adalah dengan:
a. Bergadang untuk hura-hura dan hal yang sia-sia
b. Meniup terompet
c. Menyalakan petasan, kembang api dan lain sebagainya
Ke semua cara yang lama dalam menyambut tahun baru masehi ini, haruslah ditinggalkan oleh setiap muslim, baik laki-laki ataupun wanita.

Bergadang untuk hura-hura dan hal yang sia-sia
Berdagang untuk hura-hura dan hal yang sia-sia, apa faedahnya? tidak ada tentunya. Bahkan, ini adalah tindakan penyia-nyiaan terhadap waktu dan usia. Seharusnya, seorang muslim justru mengoptimalkan penggunaan waktunya untuk kebaikan yang penuh dengan manfaat untuk urusan dunia dan akhiratnya. Seharusnya pula seorang muslim memanfaatkan sisa jatah umurnya untuk hal-hal yang baik yang akan mengantarkannya kepada semakin dekatnya dirinya kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, mengantarkannya kepada meraih khusnul khatimah di akhir kehidupannya di dunia.

Tidakkah seseorang takut kala ia tengah berhura-hura tanpa makna, nyawanya dicabut oleh malakul maut sehingga ia mengakhiri hidupnya dalam keadaan suul khatimah secara tiba-tiba?
Tidak pernahkah ia mendengar dengan telinganya berita tentang fulan dan fulanah yang dicabut nyawanya saat ia tengah berhura-hura tanpa makna?

Sungguh, maut, kematian yang merupakan bagian dari ketentuan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Rabb kita, tak seorang pun di antara kita yang tahu kapankah kedatangannya untuk menjemput kita. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dzat Pencipta kehidupan dan kematian berfirman tentangnya

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ [الواقعة : 60]

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan (QS. Al-Waqi’ah: 60)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا [آل عمران : 145]

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya … (QS. Ali Imran: 145)
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [لقمان : 34]

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati (meninggal dunia). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Lukman: 34)

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita, untuk mau mendengarkan kebaikan dan mengikutinya.

Meniup terompet
Meniup terompet, ini juga cara lama yang harus ditinggalkan, ditinggalkan oleh setiap Muslim ummat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, karena ternyata ini bagian dari tradisi orang-orang Yahudi di mana kita diperintahkan untuk menyelisihi mereka, Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

خَالِفُوْا الْيَهُوْدَ

Selisihilah orang-orang Yahudi (HR. Abu Dawud dan lainnya).

Meniup terompet, juga apa gunanya dan faedahnya? Tidak ada.
Bahkan, jika Anda melakukannya, berarti Anda meniru-niru mereka, orang-orang Yahudi yang biasa melakukan tindakan tersebut. Maka, hal semacam ini terlarang dalam syariat agama kita yang mulia.

‘Amru bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا لَا تَشَبَّهُوْا بِالْيَهُوْدِ وَلَا بِالنَّصَارَى

Tidak termasuk golongan kami orang yang menyerupakan diri dengan selain kami (Kaum muslimin). Janganlah kalian menyerupakan diri dengan orang-orang Yahudi dan jangan pula dengan orang-orang Nasrani … (HR. At-Tirmidzi)

Ibnu ‘Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْه berkata,

لَا تَشَبَّهُوْا بِأَهْلِ الْكِتَابِ

Janganlah kalian bertasyabbuh (meniru-niru/menyerupakan diri) dengan kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/472)

Menyalakan petasan dan kembang
Ini merupakan tindakan menyia-nyiakan harta dan pendayagunaannya bukan di jalan yang diridhai-Nya, yang karenanya kita tidak sepatutnya melakukanya. Sungguh, tindakan menyia-nyiakan harta, membuangnya tanpa guna seperti ini, apalagi tidak diridhai-Nya merupakan perkara yang amat sangat dibenci dalam syariat agama kita. Karena itulah hal tersebut terlarang.

Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Sesungguhnya Allah itu meridhai untuk kalian tiga hal, dan membenci kalian dari tiga hal. Maka, Dia meridhai untuk kalian menyembah-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan tidak berpecah belah. Dan Dia membenci kalian dari qiila wa qaala (memberitakan setiap apa yang didengar atau menyampaikan berita tidak jelas sumbernya), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta. (HR. Muslim)

Maka dari itu, hendaknya setiap kita bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى terkait dengan harta kita, bukankah harta itu merupakan pemberian dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى? Lalu mengapa kita menghambur-hamburkannya, menyia-nyiakannya tanpa guna, mendayagunakannya untuk hal-hal yang tidak diridhai-Nya?
Sungguh, kita akan dimintai pertanggungan jawabnya di depan pengadilan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Rasulullah صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,

لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَا

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya (HR. At-Tirmidzi)

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *