Menyingkap Hal Ghaib

Menggunakan Bantuan Jin dan Sapu Tangan

1. Menggunakan Bantuan Jin

Sebab memanfaatkan bantuan jin adalah perkara yang mungkin saja terjadi menurut akal maupun syariat. Akan tetapi, orang yang mampu menghadirkan mereka serta menguasainya adalah sangat sedikit dan kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang munafik. Terget mereka hanyalah menipu manusia, mempengaruhi mereka untuk meraup keuntungan berupa harta dengan cara yang batil. Bagaimana pun situasi dan keadaan orang yang mengaku bisa menghadirkan jin, baik ia seorang yang jujur atau pendusta, tetapi mereka tetap tidak dapat mengungkap hal-hal yang gaib.

Hal ini dikarenakan jin juga tidak mengetahui yang gaib secara mutlak, al-Qur’an telah mengabadikan hal ini,

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الْآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا

 وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

Dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami (jin) tidak mengetahui (adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan baginya.” (Qs. Al-Jinn : 9-10)  

2. Menggunakan Sapu Tangan

Dalam pekerjaan ini, orang yang menggunakan sapu tangan membawa cangkir kecil dengan sedikit air, kemudian menambahkan setitik minyak dan meminta kepada seorang anak laki-laki atau perempuan yang belum baligh untuk konsentrasi melihat titik minyak yang mengkilat mengapung di atas air dalam cangkir tersebut. Setelah itu, ia mulai membaca mantra lalu ia berkata kepada anak tersebut, “Kamu sebentar lagi akan melihat jin, berbicaralah dan minta kepadanya untuk menghadirkan salah satu raja jin” dan seterusnya. Sesungguhnya penggunaan sapu tangan ini mengandung tipuan dan banyak kedustaan.

Tipuan tersebut kita lihat dari anak yang belum baligh untuk membantunya(atau medianya), ini berarti bahwa anak tersebut belum memiliki akal sempurna, berarti pula bahwa anak itu akan cepat terpengaruh dengan mantra yang ia ucapkan, dan apa yang ia saksikan hanyalah sugesti dan ilusi. Sedangkan penggunaan setitik minyak yang berkilau dan bisa memantulkan sinar atau gambar-gambar yang tidak benar akan menimbulkan rasa penat dan lelah mata orang atau anak yang melihatnya sehingga hal ini mengakibatkan menurunnya gairah dan vitalitas serta kesadaran. Akibatnya apa yang ia lihat akan mempengaruhinya sehingga seakan-akan ia melihat benda-benda berbeda dengan sebenarnya. Akhirnya ia mengira bahawa yang ia lihat adalah jin.

Seandainya ia mencoba untuk menghadirkan orang dewasa yang berakal untuk melihat ke titik minyak tersebut, pasti ia tidak akan bisa melihat jin atau setan sekalipun karena memang tidak ada wujudnya sama sekali dalam titik minyak tersebut. Bagaimana pun masalahnya, jin bisa hadir atau tidak, apa manfaatnya jika kita menyadari bahwa jin tidak mengetahui hal-hal ghaib ?

Wallahu A’lam

Sumber :

“As-Sihru wa As-Sahrah min Minzhar al-Qur’an wa AsSunnah”, Dr. Ibrahim Kamal Adham, ei, hal. 262-263


Amar Abdullah bin Syakir

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *