Meramal Masa Depan dengan Cangkir yang Bergerak

kota-2.jpg

Cara ini banyak beredar di tengah pelajar atau mahasiswa. Selain itu, waktu yang paling banyak dipakai para pelajar atau mahasiswa adalah pada malam menjelang ujian. Mereka seharusnya menggunakan waktu itu dan mengerahkan segala kemampuan untuk belajar dan mencari ilmu, tetapi mereka membuang-buang waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna dan menipu diri mereka sendiri.

Untuk melakukan cara ini ; digambar sebuah lingkaran berdiameter ¼ meter,kemudian di sekelilingnya ditulis huruf-huruf hijaiyah dengan jarak yang sama antara satu dengan lainnya, lalu diletakkan cangkir terbalik di tengah lingkaran. Kemudiaan seseorang diminta untuk meletakkan jarinya di atas cangkir, lantas pemimpin majelis mulai membaca mantra, tidak lama kemudian cangkir mulia bergerak mengarah kepada huruf-huruf dengan cara yang mengesankan bahwa cangkir tersebut bergerak secara otomatis. Setelah itu, semua huruf yang dilewati cangkir dikumpulkan untuk disusun menjadi sebuah kalimat.

Sebenarnya cara ini tidak lebih dari sekedar tipuan jiwa, yaitu orang yang meletakkan jarinya di atas cangkir menggerakkan tangannya tanpa ia sadari menuju huruf-huruf yang ingin ia susun menjadi kalimat. Selanjutnya makna kalimat yang ia harapkan ia baca dalam dirinya dengan cara tanpa ia sadari akan menjadi sebuah jawaban dari soal yang diajukan. Bukti yang paling nyata bahwa yang menggerakkan cangkir tadi bukanlah arwah dan yang menggerakkannya adalah jari manusia tadi, cukuplah ia angkat tangannya dari cangkir, pasti cangkir itu akan berhenti. Ada bukti lain yang menetapkan bahwa faktor speritual pada orang yang ditunjuk itulah yang menggerakkan cangkir. Bukti ini bisa dilakukan dengan kita mengalihkan pandangan kedua matanya dan mengubah posisi huruf-huruf. Pada saat itu, kita akan mendapatkan bahwa cangkir bergerak –jika bergerak- ke huruf-huruf yang jika dikumpulkan tidak sesuai satu sama lain, atau tidak akan bisa menyusun kalimat yang bermakna.

Wallahu A’lam

Sumber :

“As-Sihru wa As-Sahrah min Minzhar al-Qur’an wa AsSunnah”, Dr. Ibrahim Kamal Adham, ei, hal. 263-264


Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

112 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: