Merasa Sial?

tatoyyur.jpg

Defenisi Tathayyur: Merasa sial dengan apa yang dilihat atau didengar (Miftah Dar Sa’adah 311/3)

Sebab dinamakannya kesialan dengan tathayyur:

Berkata Al Hafiz Ibnu Hajar Rahimahullah Ta’ala: Asal muasal tathayyur adalah dari kaum jahiliyyah, yaitu mereka menyandarkan urusan mereka kepada burung (bahasa arab: Thair), apabila salah seorang dari mereka hendak melakukan sesuatu kemudian melihat burung yang dilepaskannya terbang ke arah kanan, ia pun optimis, adapun bila burung itu terbang ke arah kiri iapun pesimis, maka kemudian syariat datang dan melarangnya”.

Jadi tathayyur berasal dari kata thair.

Hukum Tathayyur:

1 – Salah satu pintu masuknya kesyirikan

Dari Abdillah Bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhumaa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَن رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ من حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang tidak jadi melakukan keperluannya sebab thiyarah maka ia telah berbuat syirik”. (HR Ahmad)

Hal tersebut dikatakan kesyirikan karena mereka berkeyakinan bahwa ia dapat menarik keberuntungan atau menolak kesialan,  maka hal itu seakan ia menjadikannya tandingan bagi Allah Ta’ala. (Fathul Baari 213/10)

1– Pelakunya terancam

Dari Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

ليس منا من تطير أو تطير له ) رواه البزار

“Bukan termasuk golongan kita orang yang melakukan tathayyur atau meminta orang lain melakukannya untuknya”. (HR Al Bazzar)

 

Cara Menangkal Tathayyur:

1 – Teguh bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan tidak menghiraukannya.

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ) وما مِنَّا إلا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ . رواه أحمد

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “At Thiyarah (merasa sial) sebuah kesyirikan”. Dan Ibnu Mas’ud menambahkan: Dan tidaklah ada salah seorang dari kita kecuali merasakannya, akan tetapi Allah Ta’ala menghilangkannya dengan tawakkal. (HR Ahmad)

2 – Terus menerus berdoa kepada Allah Ta’ala agar menhindarkannya dari apa yang dirasa sial tersebut, dan jika pada akhirnya ia tetap ditimpa olehnya, maka hendaklah ia berdoa:

اللهم لاَ خَيْرَ إلا خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إلا طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan yang berasal dari-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan yang berasal dari-Mu (yang telah Engkau tetapkan), dan tidak ada tuhan selain Engkau.” (HR Ahmad)

3 – Optimis dan menepis perasaan sial itu setiap kali datang menghampiri dan tidak memperdulikannya.

فعن عروة بن عامر رضي الله عنه قال : ذُكِرتِ الطِيرةُ عندَ رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ( أحْسَنُها الفألُ ولا تردَّ مسلماً فإذا رأى أحدكم ما يكره فليقل اللهمَّ لا يأتي بالحسناتِ إِلا أنتَ ولا يدفعُ السيِّئاتِ إِلا أنت ولا حولَ ولا قوَّةَ إِلا بالله ) رواه أبو داود

Dari Urwah bin Amir Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Disebutkan tentang merasa sial disisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, maka beliaupun bersabda:

“Sebaiknya ia tetap merasa optimis, dan hal itu tidak mengurungkan niat seorang muslim, dan apabila salah seorang dari kalian melihat apa yang ia benci, hendaklah ia berdoa:

اللهمَّ لا يأتي بالحسناتِ إِلا أنتَ ولا يدفعُ السيِّئاتِ إِلا أنت ولا حولَ ولا قوَّةَ إِلا بالله

“Ya Allah, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali Engkau dan tidak ada yang dapat menolak keburukan kecuali Engkau, dan tidak ada kekuasaan maupun kekuatan kecuali dengan-Mu”. (HR Abu Dawud)

Diterjemahkan secara ringkas dari Artikel Dr. Nayif Bin Ahmad Al Ahmad yang berjudul At Tathayyur.

Sumber: http://www.saaid.net/Doat/naif/10.htm

Muhammad Hadhrami Achmadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: