Merebaknya Kebatilan Melalui Media

6-1.jpg

Mengantarkan petunjuk kepada manusia adalah buah dari merebaknya ilmu syar’i di tengah mereka. Akan tetapi bila ditinjau lebih lanjut, kebatilan pun semakin menyeruak (terutama lagi) melalui media informatika dan sistem pengajaran. Lalu bagaimana sikap para dai dan ulama menghadapi hal tersebut ?

Jawaban :

Ini adalah realita yang merebak di setiap masa ; dan juga untuk suatu hikmah yang Allah kehendaki. Seperti firman Allah azza wajalla,

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya (Qs. Yusuf : 103)

Allah azza wajalla juga berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah (Qs. Al-An’am : 116)

Akan tetapi ini pun berbeda-beda. Mungkin di suatu Negara hal tersebut banyak terjadi, namun di negeri lain tidak begitu banyak. Di suatu kaum mungkin fenomena tersebut banyak ditemukan, namun di kaum lain hal itu tidaklah banyak.

Adapun kalau kenyataan tersebut dilihat secara umum di dunia ini, maka memang kebanyakan manusia tidak berada di atas petunjuk Allah, akan tetapi ini pun berbeda-beda antara satu negeri dengan negeri lain, antara satu kaum dengan kaum yang lain.

Yang menjadi kewajiban para ulama adalah mereka tetap gigih dan giat. Jangan sampai penebar kebatilan lebih giat dan lebih antusias daripada penebah hidayah. Bahkan sudah menjadi kewajiban agar para ahli ilmu untuk lebih giat dan lebih semangat daripada mereka dalam menegakkan kebenaran dan menyerukan kebenaran, di manapun mereka berada : baik itu di jalan, di mobil, di pesawat, di rumah, di manapun mereka berada; maka mereka harus mengingkari kemungkaran dengan cara yang bijak dan baik; dan agar mereka mengajar dengan cara yang baik, dengan metode yang bagus dan lembut.

Allah azza wajalla berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (Qs. An-nahl : 125)    

Allah azza wajalla juga berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (Qs. Ali Imran : 159)

Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ  

Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala pelakunya (HR. Muslim)

Beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sungguh, tidaklah sikap lembut terdapat dalam sesuatu hal melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah sikap lembut dicabut dari sesuatu hal, melainkan akan membuatnya tercoreng (HR.Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh seorang ahli ilmu berdiam diri dan tidak memperingatkan seorang pendosa, pelaku bid’ah dan juga orang yang bodoh. Ini adalah kesalahan besar, dan termasuk di antara sebab merebaknya keburukan dan amalan bid’ah, serta semakin terasingkannya kebaikan, semakin sedikit dan tersembunyinya sunnah.

Jadi sudah menjadi kewajiban atas ahli ilmu untuk mengatakan yang hak dan menyeru menuju kebenaran. Dan agar mereka mengingkari kebatilan dan memperingatkan darinya. Dan hal tersebut harus dilakukan sesuai dengan ilmu dan hujjah, seperti yang Allah firmankan :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah : inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (Qs. Yufus : 108)

Langkah ini adalah setelah seseorang mengupayakan dengan penuh perhatian sebab-sebab diraihnya ilmu, yaitu dengan mempelajarinya dari para ulama, bertanya kepada mereka tentang hal-hal yang musykil, menghadiri berbagai halaqah ilmu, memperbanyak membaca al-Qur’an dan mentadabburinya, serta mempelajari hadis-hadis yang shahih, sehingga engkau bisa mengambil faedah dan manfaat serta bisa menebarkan ilmu, sebagaimana halnya engkau mengambilnya dari para ulama dengan berdasarkan dalil ; disertai dengan ikhlash dan niat yang baik serta diiringi dengan sikap tawadhu’ (rendah hati).

Begitu pula engkau harus antusias dalam menebarkan ilmu dengan penuh semangat dan vitalitas; juga agar jangan sampai pelaku kebatilan lebih semangat dalam kebatilan mereka. Engkaupun harus antusias untuk selalu memberikan kemanfaatan kepada kaum Muslimin,baik dalam agama maupun dunia mereka. Inilah kewajiban para ulama, baik yang senior maupun yang masih muda, di mana pun mereka berada; yaitu agar mereka menebarkan kebenaran dengan berdasarkan dalil-dalil syar’i, memotivasi dan menyemangati manusia untuk menuju kepada kebenaran, dan memberikan peringatan kepada mereka agar tidak terjatuh dalam kebatilan. Ini sebagai implementasi dari firman Allah,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa (Qs. Al-Maidah : 2)

Juga firman Allah, yang artinya : Demi masa; sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran (Qs. Al-Ashr : 1-3)

Demekianlah seharusnya kondisi ahli ilmu, di manapun berada mereka senantiasa menyeru menuju agama Allah, menunjukkan kepada mereka kebaikan dan memberi nasehat untuk agama Allah dan nasehat untuk manusia, dengan penuh bijak dan santun dalam hal yang mereka perinthkan, dalam hal yang mereka larang, juga dalam dakwah mereka; sehingga dakwah mereka pun menuai keberhasilan, dan semuapun mendapatkan akibat yang baik terpuji serta selamat dari tipu daya musuh. Wallahul Musta’an

Sumber :

Majmu’ Fataawaa Wa Maqaalaat asy-Syaikh Ibnu Baz, 9/223

Amar Abdullah bin Syakir

61 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: