Connect with us

Aqidah

Mereka adalah Musuh Islam ; Maka Waspadalah !

Published

on

Segala puji bagi Allah, Pemilik semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan untuk nabi kita, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

Ada beberapa jenis nasehat yang dikatakan sebagai “penerang hati dan pencerah pikiran”. Jika memang demikian adanya, maka ajakan kepada para pemeluk Syiah untuk kembali kepada kebenaran sangatlah layak untuk dimasukkan ke dalam kategori jenis nasehat.

Saya persembahkan tulisan ini kepada siapa saja yang memiliki rasa peduli atas agama, akidah, dan umatnya. Kepada siapa yang ingin melihat kekerabatan, persaudaraan, dan rasa cinta, kesatuan kata, serta kekompakan barisan dalam tubuh umat islam. Tulisan yang meneteskan darah’, menerangi kegelapan, dan menunjuki manusia ke jalan yang lurus.

Sudah menjadi kewajiban bagi setiap pemberi  nasehat kepada umat, yang menginginkan adanya persatuan di antara mereka, untuk berupaya semampunya guna menyatukan kembali perceraian yang berlangsung selama ini mengembalikannya kepada keadaan semula, yaitu keadaan generasi awal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana firman Allah-subhanahu wa ta’ala :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا [آل عمران : 103]

Artinya, “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (Qs. Ali Imran : 103)

Di antara hal terpenting yang mesti dimulai oleh seorang yang ingin memberikan kontribusi kepada umat Islam (dalam rangka menyatukan barisan) adalah memberikan nasehat kepada orang-orang yang menyelisihi ajaran al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia juga mesti memperingatkan ummat agar tidak terpengaruh oleh tindakan-tindakan melampui batas dan penyimpangan-penyimpangan mereka yang bisa menghalangi umat dari petunjuk dan jalan yang lurus.

Oleh karena itu, tulisan ini adalah untuk mengungkap penyimpangan-penyimpangan para tokoh madzhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah (Syi’ah 12 Imam; kaum Rafidhah) dalam masalah aqidah, agar seorang muslim mengetahui hakikat mereka yang sebenarnya. Yang dengannya, tidak ada alasan lagi bagi orang yang tidak tahu untuk membenarkan madzhab mereka yang sesat tersebut.

Pertama : Akidah kaum Syiah Rafidhah mengenai al-Qur’an

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan jaminan untuk menjaganya dari segala penyelewengan dan campur tangan manusia sampai Hari Kiamat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ  [الحجر : 9]

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Qs. Al-Hijr : 9)

Dalam surat yang lain, Allah subhanahu Wa ta’ala juga berfirman,

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ [فصلت : 42]

(al-Qur’an) yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Terpuji (Qs. Fushshilat : 42)

Jadi siapa saja yang berusaha menyentuh al-Qur’an (dengan maksud jahat), dan berusaha ‘mencabik-cabik’ kesuciannya, maka sesungguhnya ia telah berada jauh dari Agama islam meskipun tetap mengaku sebagai muslim. Jati dirinya wajib disingkap, supaya Umat mengetahui permusuhannya terhadap Islam, terutama terhadap pedoman utama umat ini, yaitu al-Qur’an.

Kaum Rafidhah telah enggan untuk mengimani kesakralan dan kesucian al-Qur’an sebagai kalamullah yang terjaga dari segala macam campur tangan manusia. Bahkan mereka memandang bahwa al-Qur’an telah mengalami perubahan dan penyelewengan yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut mereka, al-Qur’an yang masih utuh dan terjaga dari penyelewengan adalah al-Qur’an yang berada di tangan Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu-, yang kemudian diwariskan kepada para imam keturunannya. Dan menurut sangkaan mereka lagi, al-Qur’an itu sekarang berada di tangan al-Mahdi al-Muntazhar (imam kedua belas mereka yang menghilang tahun 260 H dan dianggap akan muncul lagi di akhir zaman).

Klaim tersebut telah dikeluarkan oleh para pembesar dan ulama madzhab Syi’ah, dan selanjutnya mereka nisbatkan kepada para imam mereka (keturunan Ali bin Abi Thalib) secara bohong dan mengada-ada, karena sesungguhnya para imam itu tidaklah meyakini demikian. Salah satu di antara pembesar syi’ah yang menyatakan klaim tersebut adalah al-Kulaini-yang diberi gelar Tsiqatul Islam (orang terpercaya islam) oleh kalangan syi’ah. Dalam bukunya, al-Kafi, al-Kulaini telah meriwayatkan hal-hal khurafat (tahayul) yang tidak benar, padahal ia mengatakan bahwa semua riwayat dalam buku itu adalah shahih. Dan anehnya lagi, al-Kulaini tidak pernah memberikan komentar apapun mengenai ketidak absahan riwayat-riwayat tersebut. Padahal kitabnya itu dikalangan ulama Rafidhah dianggap sebagai kitab yang paling shahih (layaknya shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim menurut Ahlus-Sunnah). Berikut ini beberapa riwayat-riwayat tersebut :

“Dari Ja’far as-Shidiq-semoga Allah merahmatinya,(ia telah berkata) : ‘sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa oleh Malaikat Jibril (untuk disampaikan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu aslinya berjumlah 17.000 ayat. (2/634)

Kita telah mengetahui bahwa jumlah ayat-ayat al-Qur’an hanya 6.000 lebih sedikit. Pernyataan ini jelas mengisyaratkan adanya klaim penghapusan 1/3 ayat-ayat al-Qur’an dengan sengaja. Betapa kejinya tuduhan ini !

Malaikat jibril turun kepada nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam membawa ayat yang berbunyi : “ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang ayat al-Qur’an yang telah Kami wahyukan kepada hamba Kami (mengenai Ali bin Abi Thalib), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’an itu. (1/417)

Dan masih banyak lagi contoh-contoh serupa di dalam karya-kara para ulama syi’ah. Mayoritas buku-buku Rafidhah memang telah terjerembab ke dalam kubangan yang menjijikkan dan jurang yang sangat berbahaya ini (yakni, mengklaim bahwa al-Qur’an telah dipalsukan). Riwayat-riwayat mengenai hal tersebut di buku-buku mereka bukanlah sekedar riwayat-riwayat syadzdzah mundassah (janggal dan asing) yang tidak diakui oleh para cendikiawan dan peneliti mereka (akan tetapi riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat-riwayat yang benar-benar mereka akui dan yakini). Seorang ulama syi’ah bernama al-Mufid mengatakan dalam bukunya, Awa ilul Maqaalaat, hal. 54, sebagai berikut,

Sesungguhnya hadis-hadis telah datang secara sangat populer dari para imam pembawa petunjuk dari kalangan Ahlul Bait (keluarga Rasulullah dari keturunan Ali radhiyallahu ‘anhu) yang menerangkan mengenai perbedaan (naskah-naskah) al-Qur’an dan apa yang dilakukan oleh para musuh (maksudnya : para sahabat radhiyallahu ‘anhum) dari penghapusan dan pengurangan (isi al-Qur’an)

Di akhir abad ke-13, terbongkarlah borok Syi’ah yang sebenarnya dalam masalah ini. Salah satu ulama kenamaan mereka yang bernama an-Nuri ath-Thabrisi telah menuliskan statemen kufur ini. Di dalam kitabnya yang diberi judul “ Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Robbil ‘Arbaab (Kata akhir mengenai pembuktian akan pemalsuan kitab Tuhan), ia mengumpulkan segala hikayat yang mereka miliki untuk membuktikan keyakinan mereka tentang ketidak-otentikan al-Qur’an. Kitab at-Thabrasi itu akhirnya menjadi sebab cercaan bagi kaum Rafidhah sepanjang masa. Ath-Thabrisi telah mengumpulkan riwayat-riwayat para pendahulu dan guru-gurunya yang bertebaran untuk membuktikan keyakinan kaum Rafidhah berdasarkan riwayat dan perkataan ulama-ulama mereka, bahwa mereka telah mengatakan keyakinan kufur tersebut.

Sebagian mereka bahkan telah menuduh secara dusta dan keji bahwa Ahlus Sunnah juga mengatakan hal yang sama tentang ketidak-otentikan al-Qur’an.

Kita katakan : “ dengan lidah kalian sendirilah, kami akan membantahnya !”. Lihatlah salah satu syekh kalian sendiri, al-Mufid, yang telah berkata dalam bukunya, Awa ‘ilul Maqaalaat, hal. 13, “Syi’ah imamiyah telah bersepakat bahwa para pemimpin sesat (selain Syi’ah) telah banyak menyalahi mereka (Syi’ah) dalam hal pembukuan al-Qur’an. Mereka juga telah meninggalkan keotentikan wahyu dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Kalangan Mu’tazilah, Khawarij, Zaidiyah, Murji’ah, dan para Ahli Hadits telah bersepakat untuk berselisih pendapat (mengenai al-Qur’an) dengan kalangan Imamiyah.”

Terbebasnya Ahlu Sunnah dari tuduhan sesat tersebut sebetulnya memang tidak membutuhkan pengakuan di atas. Akan tetapi, pengakuan itu perlu sekali disebutkan karena memang diucapkan sendiri oleh pihak penentang. Dan tentunya pernyataan objektif dari seorang penentang akan lebih mudah diterima ketimbang pernyataan yang muncul dari seorang pendukung.

Adapun pengingkaran beberapa ulama Syi’ah sendiri terhadap klaim adanya perubahan isi al-Qur’an, mereka menggunakan alasan salah satu rukun agama mereka, yaitu “ Taqiyyah” (berdusta demi tujuan keamanan). Ulama mereka yang bernama Ni’matullah al-Jaza-iri, mengatakan dalam bukunya, al-Anwar an-Nu’maniyah, jilid 2, hal. 358,” Nampaknya perkataan mereka tentang adanya perubahan al-Qur’an adalah demi beberapa kemaslahatan, antara lain agar tertutup pintu kecaman terhadap mereka. Sebab andaikan al-Qur’an dikatakan telah dirubah, bagaimana mungkin kita boleh mengamalkan kaidah-kaidah dan hukum-hukumnya, kalau memang al-Qur’an itu bisa dirubah ?”

Kemudian ia mengutarakan bukti klaimnya, bahwa pengingkaran mengenai keotentikan al-Qur’an tersebut hanyalah sebagai bentuk taqiyah semata : “Bagaimana mungkin hal itu bukan taqiyah, sementara para tokoh syi’ah tersebut telah menuliskan banyak sekali riwayat dan karya-karya mereka tentang adanya penyimpangan/perubahan dalam al-Qur’an. Mereka menuliskan dalam karya-karya itu bahwa ayat ini turun dengan bunyi demikian, kemudian mengalami perubahan seperti demikian” (al-Anwar an-Nu’maniyah, jilid 2, hal. 358-359).

Di samping itu, hukum orang yang meyakini adanya perubahan al-Qur’an adalah kafir. Lantas bagaimanah pendapat para ulama Rafidhah (Syi’ah) sekarang terhadap al-Kulaini penulis buku al-Kafi, dan Ath-Thabrasi penulis Fashlul Khithab, serta para ulama semisal mereka yang secara terang-terangan mengatakan kekafiran ini ?! apakah mereka akan mengkafirkannya ? ataukah mereka tidak akan lagi mengakui para ulama Rafidhah tersebut ? ataukah justru mereka akan tetap menyebut tokoh-tokoh itu sebagai ulama besar dan imam madzhab mereka ?!

Wallahu a’lam

Sumber :

Dinukil dari “Mereka Adalah Musuh Islam Maka Waspadalah !”, al-Haiah al-Alamiyah Lissunnah an-Nabawiyah, hal 1-11.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet,

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aqidah

Hukum Seputar 10 Hari Dzulhijjah dan Hari-hari Tasyri’

Published

on

Soal :

Dari saudari pendengar dengan inisial A. A. S. dari kota Jedah, menyampaikan surat yang berisikan suatu masalah, ia mengatan :

Aku pernah mendengar dari seorang guru agama di sekolahku bahwa termasuk disunnahkan puasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah dan bahwa amal shaleh pada sepuluh hari ini merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-. Bilamana hal ini benar, padahal dimaklumi bahwa hari kesepuluh dari bulan Dzulhijjah yang jatuh setelah hari Arafah dan hari setelahnya  yang merupakan awal hari-hari Tasyriq merupakan hari raya bagi kaum Muslimin, bagi para Jamaah haji dan yang lainnya. Dan termasuk hal yang saya ketahui bahwasanya tidak boleh berpuasa pada hari-hari ied. Maka, apa penjelasan Anda tentang hal tersebut. Jika diharamkan puasanya sementara ia termasuk sepuluh hari pertama ?

Dan apa ganti untuk hari kesepuluhnya jika pada hari tersebut tidak dilakukan puasa ? dan apakah bila aku berpuasa hari-hari ini wajib atasku untuk berpuasa seluruh hari-harinya ? Perlu diketahui bahwa aku berpuasa pada hari ke-6, ke-7, ke-8, ke-9 dan aku tidak berpuasa pada hari ke-10-nya. Mohon juga dijelaskan tentang jumlah hari Idul Fithri, Iedul Adha, apakah ada perbedaan pendapat dalam hal tersebut ?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.



Jawab :

‘Sepuluh hari’ yang disebutkan, dimutlakkan maknanya ‘Sembilan hari’. Hari iednya tidak dihitung sebagai 10 hari bulan Dzulhijjah. Dikatakan, ’10 hari bulan Dzulhijjah’, yang dimaksudkan adalah ‘9 hari bulan Dzulhijjah’ yang terkait dengan puasa. Dan hari ied tidak untuk puasa, dengan kesepakatan kaum Muslimin, dengan kesepakatan para ulama. Maka, jika dikatakan puasa sepuluh hari, yakni, maknanya, sembilan hari, hari terakhir untuk berpuasa adalah tanggal 9-nya, yang merupakan hari Arafah. Puasa pada hari-hari itu disunnahkan dan merupakan qurbah (pendekatan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-). Dan diriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau berpuasa pada hari-hari tersebut, dan beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-juga mengatakan tentang hari-hari tersebut : Sesungguhnya amal yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah dari pada amal yang dilakukan pada sisa hari-hari yang lainnya. Beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.”

Maka, di sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini disunahkan untuk dzikir, takbir, membaca al-Qur’an, sedekah, termasuk pada hari kesepuluhnya.

Adapun puasa (pada hari kesepuluhnya) maka tidak dilakukan. Puasa khusus pada hari Arafah dan hari-hari sebelumnya. Karena sesungguhnya di hari Ied tidak dilakukan puasa menurut semua ulama. Akan tetapi, pada hari-hari tersebut kaitannya dengan Dzikir, Doa, dan sedekah adalah termasuk ke dalam amal yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepuluh hari Dzulhijjah dan hari raya.

Dan hari-hari ied ada tiga, selain hari ied. Yaitu, tanggal 11, 12, 13. Jadi, jumlah seluruhnya adalah empat hari, yaitu, hari ied (tanggal 10) dan tiga hari tasyriq. Inilah pendapat yang benar menurut para ulama. Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –bersabda,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum, serta berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah azza wa jalla.



Jadi, hari-hari itu ada 4 hari untuk bulan Dzulhijjah; yaitu, hari Nahr (penyembelihan), dan tiga hari tasyriq.

Adapun terkait bulan Ramadhan, maka hari raya itu hanya satu hari saja. yaitu, hari pertama dari bulan Syawwal. Inilah dia ied. Adapun selainnya maka bukanlah ied. Seseorang boleh berpuasa pada hari kedua dari bulan Syawal. Karena, ied itu khusus pada hari pertama dalam bulan Syawal saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan (semoga Allah memberikan balasan kepada Anda dengan kebaikan). Lalu, terkait dengan idul adha ? (bagaimana ?) Jazakumullahu khairan.

Syaikh menjawab :

Ada empat, seperti telah disebutkan, yaitu, hari ke-10, hari ke-11, hari ke-12, dan hari ke-13. Semua hari-hari ini merupakan hari-hari ied, tidak dilakukan puasa pada hari-hari tersebut. Kecuali hari-hari tasyriq bisa dilakukan puasa pada hari-hari tersebut bagi orang yang tidak mampu untuk menyembelih hadyu ; hadyu orang yang berhaji tamattu’ dan hadyu orang yang berhaji qiran. Sebagai rukhshah (keringanan) khusus bagi orang yang tidak mampu menyembelih hadyu; hadyu tamattu’ dan hadyu qiran, ia boleh berpuasa tiga hari yang merupakan hari-hari tasyriq, yaitu, hari ke-11, hari ke-12, hari ke-13, kemudian ia berpuasa tujuh hari di tempat keluarganya, di antara keluarganya. Adapun hari ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Bukan karena ketidakmampuan seseorang untuk menyembelih hadyu, tidak pula karena hal yang lainnya, berdasarkan ijmak (konsensus) kaum Muslimin.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Adapun iedul fithri, maka satu hari saja ?

Syaikh menjawab :

Ya, satu hari saja.

Pembawa acara :

Jazakumullahu khairan. Ingat ya syaikh, bahwa wanita ini (si penanya) tersebut menyebutkan bahwa ia berpuasa sebagian dari hari-hari pertama bulan Dzulhijjah, ia menyebutkan bahwa ia misalnya berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9, apa arahan Anda dalam kondisi apa yang disebutkan ini.

Syaikh berkata : Coba ulangi !

Pembawa acara :

Kita katakan bahwa si penanya berpuasa pada sebagian hari-hari dari sepuluh dari pertama bulan Dzulhijjah.

Syaikh menjawab :

Tidak mengapa. Apabila ia berpuasa hari ke-7, hari ke-8, dan hari ke-9 ; tidak mengapa. Atau pun ia berpuasa lebih banyak dari itu. Yang menjadi maksud adalah bahwa hari-hari tersebut merupakan hari-hari untuk berdzikir dan hari-hari untuk berpuasa. Maka, apabila ia berpuasa sembilan hari seluruhnya (dari tanggal 1 sampai tanggal 9-nya), maka ini baik. Dan apabila ia berpuasa sebagian hari-harinya, maka semuanya baik. Dan apabila hanya berpuasa Arafah saja (yaitu, tanggal 9) (maka tidak mengapa pula), di mana puasa hari tersebut merupakan puasa yang paling utama dari sepuluh hari pertama ini. Tentang puasa hari Arafah Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bersabda, ‘Puasa Arafah, saya berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.’

Hari Arafah merupakan hari nan agung. Disunnahkan puasa pada hari tersebut bagi segenap penduduk kota dan desa seluruhnya. Kecuali, bagi orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji. Mereka tidak berpuasa pada hari Arafah.

Begitu pula sisa hari yang lainnya, sedari hari pertama bulan Dzulhijjah sampai hari Arafah. Disunahkan puasanya sembilan hari. Akan tetapi yang paling utama adalah puasa pada hari Arafah. Puasa ini merupakan puasa sunnah. Adapun pada hari Ied, maka tidak dilakukan puasa pada hari tersebut. Baik saat tengah menunaikan ibadah haji atau pun tidak.

Orang-orang yang tengah menunaikan ibadah haji tidak berpuasa pada hari Arafah. Yang sunnah adalah orang yang tengah berhaji tidak berpuasa pada hari Arafah. Hendaknya ia berbuka sebagaimana halnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berbuka pada hari Arafah.

Pembawa acara :

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Ba’dhu Ahkam ‘Asyr Dzi al-Hijjah Wa Ayyami at-Tasyriq, Syaikh Abdul Aziz bin Bazz-رَحِمَهُ اللهُ-.

Continue Reading

Aqidah

Berhati-hati Pahala Hangus Karena Syirik Kecil!

Published

on

Dalam kehidupan di dunia ini, cara agar kita dapat kembali ke surga kelak adalah dengan beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, sebagaimana firman-Nya:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An-nisaa: 36)

Namun pada perjalanannya, seorang mukmin terkadang terjerumus pada bisikan syaitan ketika beramal, sehingga keikhlasannya terpengaruh dengan tujuan yang lain, seperti seseorang yang gemar bersedekah agar dipandang dermawan, suka menolong agar dipandang berjasa atau bahkan memperbanyak puasa dan shalat agar dianggap sebagai alim nan salih. Itu semua adalah hal yang memang sangat ditakutkan terjadi pada kebanyakan muslim oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ :الرِّيَاء . إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاء
(صححه الألباني في السلسلة الصحيحة، رقم 951)

“Sungguh yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu syirik kecil?” Beliau bersabda: ‘Riya, sungguh Allah tabaraka wa ta’ala berfirman pada hari di mana seorang hamba diberi balasan dari amal mereka, pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian perlihatkan amal kalian kepada mereka di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka”.

(Telah dinyatakan shahih oleh Syeikh Albani di dalam Silsilah Shahihah: 951)

Riya dan Sum’ah adalah dua pembatal keikhlasan, yaitu seseorang beramal agar dilihat atau didengar oleh orang lain, bukan semata-mata murni karena mengharapkan ridho Allah Ta’ala dan pahala-Nya.

Hal demikian, sangatlah fatal, mengapa?

Karena amalan yang telah dikerjakan menjadi sia-sia nan hangus pahalanya tak bersisa, dan Allah Ta’ala telah mengabarkan hal tersebut pada firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

(QS Al Baqarah: 264)

 

Maka, hendaklah kita beramal ikhlas hanya karena Allah Ta’ala bukan yang lainnya. Karena barangsiapa yang beramal karena Allah, maka Allah Ta’ala akan berikan pahala dan ganjaran karena amalan tersebut, seperti orang ikhlas menolong orang lain, maka Allah Ta’ala pun akan mudahkan hidupnya.

Dan janganlah beramal dengan tujuan Riya dan Sum’ah, demikian pahala tidak ada didapat padahal waktu, tenaga dan bisa jadi uang sudah habis karenanya, dan Allah Ta’ala pun tidak akan memperbaiki hidupnya.

 

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Aqidah

Sistem Perlindungan yang Sangat Kuat dari Dosa Besar Sihir

Published

on

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ (( الشِّرْكُ باللهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالحَقِّ ، وأكْلُ الرِّبَا ، وأكْلُ مَالِ اليَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ ؛ وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ ))

Abu Hurairah-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-meriwayatkan dari  Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, beliau bersabda, “ Jauhilah oleh kalian tujuh dosa-dosa besar yang membinasakan.” Mereka (Para sahabat) bertanya, ‘Apa sajakah dosa-dosa  itu, wahai Rasulullah ? “

Beliau menjawab :

Syirik (menyekutukan) Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan cara yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan pertempuran, dan menuduh wanita baik-baik yang telah menikah dengan tuduhan zina. (Muttafaq ‘Alaihi)

**

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin-رَحِمَهُ اللهُ-berkata, “Sihir adalah suatu perbuatan yang dilakukan tukang sihir dengan menggunakan tali-tali, jampi-jampi, dan tiupan untuk menimpakan kecelakaan kepada orang yang disihirnya. Di antaranya ada yang bisa membunuhnya, membuatnya sakit, membuat gila, bisa menimbulkan keterikatan yaitu ketergantungan yang sangat kuat (cinta yang tidak wajar), ada pula yang bisa menimbulkan penolakan yaitu berpalingnya seseorang dari yang lainnya dengan kebencian yang sangat (benci tidak wajar).

Akan tetapi, semua itu hukumnya adalah haram. Sesungguhnya Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – berlepas diri dari orang yang melakukan sihir dan yang meminta bantuan sihir kepada orang lain (tukang sihir).

Di antara bentuk sihir tersebut ada yang bisa sampai kepada kekafiran. Apabila tukang sihir tersebut menjadikan setan sebagai perantara sihirnya, mendekatkan diri, dan menghambakan diri kepada setan sehingga ia sangat menaatinya, maka hal ini tidak akan diragukan lagi kekafirannya. Adapun jika tidak sampai kepada taraf seperti ini (taraf kekufuran), maka sesungguhnya sihir tersebut merupakan sesuatu yang akan merugikan, diharamkan, dan termasuk di antara jajaran dosa-dosa besar. Para penguasa wajib untuk membunuh para tukang sihir tanpa dimintai taubatnya (terlebih dahulu). Maksudnya para tukang sihir harus dibunuh meskipun mereka sudah bertaubat. Karena jika ia telah bertaubat, maka urusannya diserahkan kepada Allah. Demikian pula jika ia tidak bertaubat. Akan tetapi, kita membunuhnya untuk menolak kerugian dan kerusakan yang akan ditimbulkannya (di kemudian hari).

Meskipun (apabila) ia tidak bertaubat, maka ia akan termasuk ke dalam penghuni Neraka apabila sihirnya tersebut adalah jenis sihir yang mengkafirkan. Praktek sihir termasuk di antara penyebab kerusakan di atas muka bumi dan termasuk jajaran kejahatan besar. Karena sihir dilakukan terhadap orang lain ketika seseorang tersebut sedang lengah (tidak dilindungi).

Akan tetapi, terdapat sesuatu yang akan melindungimu dari kejahatannya (dengan izin Allah) yaitu bacaan-bacaan (wirid yang syar’i), seperti membaca ayat Kursi, al-Ikhlash, al-Falaq, An-Naas, dan ayat-ayat al-Qur’an lainnya atau dari hadis-hadis Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. Karena semuanya itu merupakan sistem perlindungan yang sangat kuat, yang bisa melindungi seorang manusia dari kejahatan sihir.

Wallahu A’lam

Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

Syarhu Riyaadhis Shaalihiin, Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, hal. 362. Babut Taghliizhi fii Tahriimis Sihri.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

Trending