Mewaspadai Moment Akhir Tahun

mewaspadai-akhir-tahun.jpg

Pertarungan antara hak dengan kebathilan akan senantiasa ada sampai dunia menemui akhirnya, sehingga akan terus ada sekelompok orang dari ummat Nabi Muhammad yang terpedaya mengikuti jejak kebathilan, namun disaat bersamaan juga akan selalu ada sekelompok lainnya dari umat ini yang tegak diatas kebenaran dan tetap tegar meski mereka ditekan dan diintimidasi.

Salah satu bentuk ternyata dari pengaburan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini yaitu mengikuti pemeluk agama lain dalam segala perkara, dari yang besar sampai  yang terkecil juga, dengan dalih atas nama kemajuan, perkembangan, peradaban, sosial, kemanusiaan, hubungan internasional, dsbg dari klaim-klaim yang zahirnya membawa kebenaran namun sejatinya adalah alat propaganda.

Adapun seorang muslim yang peka akan merasakan hal ini, dan dapat melihat kekeliruan mereka yang latah mengikuti trend-trend, style, dan perayaan khusus orang-orang kafir, karena masalah ini sangat serius dalam pandangan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (QS Al Maidah: 48)

Dan firman-Nya:

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan” (QS Al Hajj: 67)

Maksudnya adalah hari raya khusus bagi mereka.
Akhir tahun semakin dekat, dan sebuah pemandangan rutin akhir tahun akan terlihat kembali, yaitu adanya sebagian dari kaum muslimin yang terpedaya kepada kemegahan yang ditampilkan kaum nasrani pada perayaan mereka, yaitu hari natal dan tahun baru, sehingga mereka ikut menghadiri pesta perayaannya, dan fatalnya lagi sebagian sudah mengganggapnya sebagai hari peringatan bagi seluruh dunia, padahal hakikatnya mereka sedang mengamini hari natal itu sebagai hari disalibnya Nabi Isa, sedangkan aqidah kita mengingkari hal tersebut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

«من تشبه بقوم فهو منهم»

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.
Sesungguhnya salah satu dasar terpenting dari islam adalah masalah al walaa’ dan al baraa’, loyalitas kepada islam dan sesama pemeluknya, dan berlepas diri sepenuhnya dari kekufuran dan para pemeluknya, karena kedua hal inilah yang membentuk sebuah idenditas muslim dan membedakannya dari selainnya.

Dan menyerupai mereka adalah bukti dari  kecintaan terhadap mereka, dan ini bertolak belakangan dengan konsep anti-loyal terhadap kekufuran dan pemeluknya diatas. Maka dari itu Allah Ta’ala melarangnya, dan menjadikan hal tersebut faktor penyebab seseorang itu digolongkan dari mereka, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al Maidah: 51)

 

Jadi, setiap muslim harus tetap dan selalu bangga dan membanggakan keislaman meskipun orang-orang kafir di dunia mereka lebih maju dan kuat, dan walaupun kaum muslimin dalam keadaan begitu lemah dan tak berdaya. Jadi sekali-kali tidak boleh untuk patuh dan tunduk buta terhadap apa-apa yang datang dari mereka hanya karena posisi mereka lebih kuat dari kaum muslimin., sebagaimana hal itu yang diserukan oleh kaum munafikin, agar kaum muslimin mencontoh orang barat dalam segala halnya agar dapat maju seperti mereka.

Karena bangga akan identitas keislaman merupakan seruan Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk dari golongan kaum muslimin” (QS Fussilat: 33)

Muhammad Hadhrami Achmadi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: