Musibah, Datangnya Dari Mana?

kota.jpg

Beberapa hari belakangan, musibah banyak terjadi di sebagian tempat dari Negeri tercinta kita ini. Dari banjir yang menimpa pemukiman warga di dataran rendah, hingga tanah longsor yang terjadi di dataran tinggi. Korban jiwapun berjatuhan, korban hartapun tak terkira lagi jumlahnya.
Akhirnya, semua orang saling menyalahkan, masyarakat menyalahkan pemerintah, pemerintah saling tunjuk dan cuci tangan, dan seterusnya. Padahal, jika semua mau jujur, semuanya memiliki bagian dalam kesalahan ini, semuanya! Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]

Ya, semuanya! Dari yang terbawah sampai yang teratas, dari masyarakat yang tidak menjaga kebersihan lingkungan, padahal hal tersebut merupakan sebahagian dari Iman, dan Pemerintah yang tidak memaksimalkan perannya, padahal amanah adalah kewajiban!

Dan, kita terlalu jauh dari hakikat penghambaan diri kepada Allah Ta’ala, tidak mengenal hak Allah Ta’ala. Seperti yang sering terjadi, jika kita dalam keadaan senang dan baik, kita memuji diri sendiri dan tokoh-tokoh yang berpengaruh namun lupa bahwa nikmat tersebut datangnya dari Allah Ta’ala, namun jika yang terjadi adalah musibah, kita menggerutu kenapa Allah Ta’ala mentakdirkan hal yang buruk terjadi kepada kita. Maka dari itu, Allah Ta’ala mengingatkan:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allâh, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisâ`/4:79].

Tolak Bala

Dalam sebuah ayat Allah Ta’ala menunjukkan kunci dari Tolak Bala, yakni Iman dan Takwa, yaitu di dalam firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” [al-A’râf/7:96].

Namun di lapangan, mengapa musibah tetap terjadi menimpa negeri Kaum Muslimin? Sebagaimana yang dipertanyakan bahkan dijadikan olok-olokan oleh kaum munafik.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa sesuatu seperti kelelahan, penyakit (yang tetap), kekhawatiran (terhadap sesuatu yang kemungkinan akan menyakitinya), kesedihan, gangguan, dan duka-cita karena suatu kejadian, sampai duri yang menusuknya, kecuali Allâh akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sebab itu”. [HR al-Bukhâri, no. 5642; Muslim, no. 2572].

Maka ini adalah hikmah pertama dari musibah, yaitu sebuah pelebur dosa. Karena kebanyakan manusia jika sudah hidup dalam limpahan nikmat, mereka lupa akan kewajiban mereka, sehingga diturunkanlah musibah untuk kebaikan mereka juga, namun sangat jarang disadari.

Kemudian hikmah yang kedua, agar kembali ke jalan yang benar.
Allah Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah, “Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allâh)”. [ar-Rûm/30:41-42].

Ya, ketika lisan mereka lupa akan mengingat Allah ketika nikmat, maka musibah adalah cara agar mengembalikan lisan mereka dari menyebut Allah Ta’ala, bukankah begitu? Sejauh-jauhnya seseorang dari Agama, maka dia akan meneriakkan nama Allah Ta’ala ketika terdesak.

Terakhir, Introspeksi Diri.
Allah Ta’ala berfirman:

إن الله لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ro’du: 11)

Ya, agar mereka kembali ke titik untuk saling bahu membahu kembali membangun negeri bersama-sama, berdoa bersama-sama, tidak saling meninggi antar satu dengan yang lain, dan saling mengingatkan antar satu sama lain untuk tidak melanggar ketentuan, baik itu hukum Allah Ta’ala ataupun peraturan pemerintah yang membawa kemaslahatan bersama, seperti imbauan untuk menjaga lingkungan, karena jika satu saja berani membuah sampah sembarangan dan tidak ada sanksi dan tidak ada yang melarang, maka tunggu saatnya semua orang membuang sampah sembarangan dan semuanya akan terkena dampak musibah karena pelanggaran itu.

Ustadz : Hadromi Lc

90 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: