Mutiara: Pelajaran Penting dari Hijrah Nabi (Bagian 1)

hijrah.jpg

Pembaca yang budiman…

Kehadiran bulan yang mulia Muharram di tengah-tengah kita, mengingatkan kita dengan suatu peristiwa yang agung, yaitu Hijrah Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.  Dalam tulisan ini akan disebutkan beberapa hikmah dari peristiwa ini.

Pembaca yang budiman…

Ada banyak hikmah dan pelajaran penting yang dapat kita ambil dari hijrahnya Nabi ini, diantaranya adalah:

Pertama, Keharusan untuk memadukan antara usaha (melakukan sebab) dengan tawakal.

Hal ini nampak ketika dengan diam-diam Ali radhiyallahu anhu  menggantikan posisi Nabi di tempat tidurnya, juga kepergian Nabi yang hanya ditemani Abu Bakar radhiallaahu ‘anhu saja tanpa kaum muslimin yang lain. Selain itu Nabi juga menyewa Abdullah bin Uraiqith Al Laitsi seorang penunjuk jalan. Nampak pula bagaimana Nabi menjaga rahasia kepergiannya ini yang hanya diketahui oleh beberapa orang tertentu saja sehingga kabarnya tidak sampai tersebar di kalangan kafir Quraisy.

Hanya saja apa yang diusahakan Nabi tersebut bukanlah semata-mata menjadi tumpuan. Bahkan hatinya tetap tertambat dan bertawakal secara penuh kepada Allah semata.

Kedua, Keharusan ikhlas dan menjauhi kepentingan-kepentingan pribadi.

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang tak punya reputasi lalu dengan dakwahnya ia menghendaki nama besar, bukan pula seorang yang menginginkan harta dunia yang melimpah, lalu dengan dakwahnya ia menghendaki harta yang bertumpuk, sama sekali tidak.

Ketiga, Bersikap tengah-tengah dalam kondisi lapang maupun sempit.

Ketika Nabi keluar dari Makah karena terpaksa beliau tidak merasa kecil dan tidak merasa hina, kepercayaannya kepada Allah tetaplah utuh tidak memudar ataupun berkurang sedikitpun. Sebaliknya ketika Allah memberi kemenangan dengan ditaklukkannya kota Mekah beliau tidak lantas menyombongkan diri dan merasa besar. Kehidupannya ketika pergi terusir dari Mekah tetaplah sama dengan ketika datang lagi untuk menaklukkannya. Wallahu a’lam. Bersambung, insyaa Allah.

Sumber Rujukan : Kalimat Mutanawwi’ah fi Abwab Mutafarriqah”, karya : Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, juz 4 h. 14-22.

 

Artikel     : www.hisbah.net

619 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: