Mutiara: Pelajaran Penting dari Hijrah Nabi (Bagian 4)

hijrah.jpg

Pada edisi sebelumnya, telah kita sebutkan tiga belas pelajaran penting dari hijrah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu :

  1. Keharusan untuk memadukan antara usaha (melakukan sebab) dengan tawakal.
  2. Keharusan ikhlas dan menjauhi kepentingan-kepentingan pribadi.
  3. Bersikap tengah-tengah dalam kondisi lapang maupun sempit.
  4. Keyakinan bahwa keberuntungan adalah bagi orang yang bertakwa.
  5. Keteguhan ahlul iman dalam kondisi sulit.
  6. Barang siapa menjaga agama Allah maka Allah akan menjaganya.
  7. Bahwa pertolongan harus melalui kesabaran.
  8. Perlunya sikap santun dan menghadapi keburukan dengan ihsan.
  9. Pengaruh iman yang begitu jelas.
  10. Penyebaran dan kuatnya Islam.
  11. Barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.
  12. Berdirinya hukumah islamiyah dan komunitas masyarakat Islam.
  13. Bersatunya orang Arab dan terangkatnya eksisitensi mereka.

Berikut adalah kelanjutannya…

Keempatbelas, Keistimewaan kota Madinah.

Sebelum kedatangan Islam Madinah bukanlah negeri yang dikenal memiliki keutamaan dan kelebihan. Dan semenjak hijrahnya Nabi kesana barulah keutamaan itu muncul, seiring juga dengan berpindahnya wahyu kesana hingga akhirnya Allah menyempurnakan agama Islam dan mencukupkan nikmatNya yang amat besar.

Kelimabelas, Kehebatan metode pendidikan Nabi.

Hijrah telah membuktikan hal ini, sebab dari sini muncul para shahabat yang profesional untuk regenerasi dalam menegakkan hukum syari’at Allah, menjalankan perintah-perintahNya dan berjihad di jalanNya.

Keenambelas, Pentingnya peran dan fungsi masjid bagi umat.

Ketika Nabi sampai di madinah maka pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Ini sangat penting untuk menampakkan syiar Islam yang selama ini dimusuhi, selain itu juga untuk menunaikan shalat sebagai pengikat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Termasuk dari fungsi masjid adalah sebagai tempat bertolak dan berpijaknya para pasukan ilmu, dakwah dan jihad.

Ketujuhbelas, Besarnya peran kaum wanita.

Yaitu peran yang dilakukan Aisyah dan saudarinya Asma’ radhiallaahu ‘anha, mereka berdua termasuk sebaik-baik orang yang membantu kelancaran hijrah Nabi. Mereka tidak terlalu sedih dan mencemaskan kepergian ayahnya Abu Bakar radhiallaahu ‘anhu yang selalu diintai marabahaya. Mereka berdua juga menyimpan rahasia hijrahnya Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam.

Kedelapanbelas, Besarnya peran pemuda.

Ini nampak dalam peran yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallaahu ‘anhu yang tidur di atas tempat tidur Nabi pada malam hijrah. Demikian pula Abdullah bin Abu Bakar radhiallaahu ‘anhu yang setiap hari menyampaikan perkembangan dan berita-berita tentang orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan ayahnya.

Kesembilanbelas, Terjalinnya ukhuwah islamiyah dan lenyapnya semangat ashabiyah, golongan dan kesukuan.

Sumber Rujukan  : Kalimat Mutanawwi’ah fi Abwab Mutafarriqah”, karya : Muhammad bin Ibrahim Al Hamd, juz 4 h. 14-22.

 

Artikel : www.hisbah.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: