Connect with us

Fiqih

Niat Dalam Shalat

Published

on

Saudaraku… pembaca yang budiman, salah satu hal penting dalam pelaksanakan solat adalah “niat” apa itu niat?, apa hukumnya?, apakah niat termasuk rukun ataukah syarat?, di manakah tempatnya niat? apakah di keraskan ataukah tidak? inilah bahasan pertama kita dalam rubrik fiqih ini. Selamat memabaca!

apa itu niat?

Niat adalah maksud atau keinginan kuat dalam hati untuk melakukan sesuatu. Dalam terminologi syar’i niat berarti keinginan melakukan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perbuatan atau meninggalkannya.

apa hukumnya?

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ berkata, “Niat adalah fardhu, shalat tidak sah tanpanya, Ibnul Mundzir dalam kitabnya al-Asyraf dan kitab al-Ijma’, Syaikh Abu Hamid al-Isfirayini, Qadhi Abu ath-Thayyib, penulis asy-Syamil, Muhammad bin Yahya dan lain-lainnya menukil ijma’ ulama bahwa shalat tidak sah tanpa niat.”

Jadi para ulama telah berijma’ bahwa shalat tanpa niat tidak sah, ijma’ ini berdasar kepada hadits Umar bin al-Khatthab yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim bahwa Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya amal-amal itu dengan niat dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan apa yang dia niatkan.”

Apakah niat termasuk rukun ataukah syarat?

Setelah para ulama bersepakat bahwa niat adalah wajib dan bahwa shalat tidak sah tanpanya, mereka berselisih pendapat tentang apakah niat itu rukun shalat ataukah syarat sahnya shalat? Ada yang berkata yang pertama dan ada yang berkata yang kedua, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/276 berkata, “Yang shahih lagi masyhur adalah bahwa ia syarat bukan rukun.” Pilihan Imam an-Nawawi inilah yang shahih karena niat dilakukan di luar atau sebelum shalat, sesuatu yang harus dipenuhi sebelum sesuatu lebih dekat dinamai syarat daripada rukun, karena rukun lazim ada di dalam sesuatu. Penulis sendiri tidak melihat faidah khilaf yang berarti karena pihak yang mengatakan bahwa niat merupakan rukun dan pihak yang mengatakan bahwa niat merupakan syarat menyepakati bahwa ia wajib dan shalat tidak sah tanpanya.

Di manakah tempatnya niat?

Niat termasuk perbuatan hati maka tempatnya adalah di dalam hati, bahkan semua perbuatan yang hendak dilakukan oleh manusia, niatnya secara otomatis tertanam di dalam hatinya, bagaimanan dia akan melakukan kalau tidak ada niat di dalam hatinya?

Dari sini maka niat dalam shalat cukup di dalam hati tidak perlu dan tidak dianjurkan untuk dilafazhkan dengan lisan, tidak perlu ada lafzah, ushalli fardha al-maghribi dan sepertinya. Dalam matan al-Muhadzdzab (fikih madzhab asy-Syafi’i) dikatakan, “Tempat niat adalah hati, jika dia berniat dengan hatinya tanpa lisannya maka itu sudah cukup, dan di antara kawan-kawan kami ada yang berkata, ‘berniat dengan hati dan berlafazh dengan lisan’. Dan ini bukan apa-apa, karena niat adalah maksud dengan hati.”

Kita melihat penulis al-Muhadzdzab mengomentari pendapat sebagian kawannya yang mengatakan, ‘Berniat dalam hati dan melafazhkan dengan lisan.’ Ini berarti dia menggabungkan antara niat hati dan lafazh dengan lisan, ini berarti ada talaffuzh dengan niat, penulis al-Muhadzdzab berkata tentangnya, “Bukan apa-apa.”

Asal usul talaffuzh dengan niat adalah kekeliruan dalam memahami ucapan Imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmatinya- yang terjadi pada salah seorang ulama madzhab asy-Syafi’i Abu Abdullah az-Zubairi, orang ini -semoga Allah merahmatinya- berkata, “Tidak cukup baginya sehingga dia menggabungkan antara niat hati dan talaffuzh lisan, karena asy-Syafi’i -semoga Allah merahmatinya- berkata dalam haji, ‘Jika dia berniat haji atau umrah, maka sudah cukup baginya walaupun dia tidak bertalaffuzh, ia tidak seperti shalat, ia (shalat) tidak sah kecuali dengan an-nutqi(ucapan)’.”

Perkara ini telah diluruskan oleh Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ 3/277, dia berkata, kawan-kawan kami berkata, “Orang yang berkata ini keliru, maksud asy-Syafi’i dengan ucapan dalam shalat bukan itu, akan tetapi maksudnya adalah takbir. Seandainya dia bertalaffuzh dengan lisannya tetapi tidak berniat dengan hatinya maka shalatnya tidak sah dengan ijma’.”

Dari pelurusan Imam an-Nawawi ini kita mengetahui bahwa Imam asy-Syafi’i -semoga Allah merahmatinya- tidak menganjurkan talaffuzh bin niyyah (melafazhkan niat), dan bahwa perkara ini datang dari sebagian pengikut madzhab asy-Syafi’i yang keliru memahami ucapan sang Imam, dari sini sudah saatnya dan sudah sepantasnya para pengikut madzhab kembali kepada pendapat sang Imam karena ia adalah pendapat yang benar.

Dalil-dalil yang menetapkan tidak adanya talaffuzh dalam niat

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah berkata, “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam membuka shalat dengan takbir.” Jadi sebelum takbir tidak ada talaffuzh dengan niat, karena jika ada maka Aisyah akan menyampaikannya.

Abdullah bin Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam membuka shalat dengan takbir, beliau mengangkat…” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Jika sebelum takbir ada sesuatu ucapan, tentu Ibnu Umar akan menyampaikannya.

Demikian pula dengan pelajaran shalat Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam kepada seorang laki-laki yang shalat dengan buruk, “Jika kamu shalat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah kiblat, lalu bertakbirlah, kemudian bacalah al-Qur`an yang termudah bagimu…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Mana talaffuzh dengan niat? Adakah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam lupa mengajarkannya kepada laki-laki ini yang membutuhkan ilmu tentang shalat?

Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/201 berkata tentang masalah ini, “Jika Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat beliau berkata, ‘Allahu Akbar’ beliau tidak mengucapkan sesuatu sebelumnya, tidak bertalaffuzh dengan niat sekalipun, beliau tidak berkata, ‘Saya shalat karena Allah begini menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum’. Tidak pula beliau berucap, ‘Sebagai pelaksanaan atau qadha’ dan tidak pula, ‘kewajiban waktu’. Ini adalah sepuluh bid’ah, tidak seorang pun yang menukil satu lafazh pun darinya dari beliau, tidak dengan sanad shahih maupun dhaif, tidak dengan sanad maupun mursal, bahkan tidak dari seorang sahabat beliau, tidak seorang pun dari kalangan tabiin yang menyatakannya, begitu pula dengan para Imam yang empat, akan tetapi yang terjadi adalah kekeliruan sebagian kalangan mutaakhkhirin dalam memahami ucapan asy-Syafi’i dalam shalat, ‘Ia tidak seperti puasa, dan seseorang tidak masuk ke dalamnya kecuali dengan dzikir.’ Maka dia menduga bahwa dzikir di sini adalah bertalaffuzh dengan niat, padahal maksud asy-Syafi’i dengan dzikir adalah ucapan Allahu Akbar, bukan lainnya, bagaimana mungkin asy-Syafi’i menganjurkan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dalam satu shalat pun, tidak pula dilakukan oleh para khulafa’ Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau, ini adalah petunjuk dan sirah mereka, jika ada orang yang bisa menghadirkan satu huruf dari mereka maka kami menerimanya, dan tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka, dan tidak ada sunnah selain apa yang mereka terima dari peletak syariat Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam.” Allohu a’lam.


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah.net
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

baru

Apa Keutamaan 10 Hari Pertama dari Bulan Dzulhijjah ?

Published

on

By

Pertanyaan :

Apakah 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan atas hari-hari yang lainnya ? dan, amal-amal shaleh apakah yang disunnahkan untuk diperbanyak pada 10 hari pertama ini ?

Jawab :

Alhmdulillah. Segala puji bagi Allah

Keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah

Termasuk musim ketaatan yang agung adalah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah, yang Allah utamakan atas seluruh hari-hari sepanjang tahun. Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari di mana amal shalih saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yakni,  sepuluh hari ini.”





Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”

Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. al-Bukhari, 969,  Abu Dawud, 2438, -dan lafazh ini adalah miliknya-, at-Tirmidzi, 757 dan Ibnu Majah, 1727)

Dan Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-juga meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-beliau bersabda,

مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا أَعْظَمَ أَجْراً مِنْ خَيْرٍ يَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى. قِيْلَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah azza wa jalla, tidak pula paling besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan seseorang pada sepuluh adha (sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah).”

Ditanyakan (kepada Nabi),’Tidak juga jihad di jalan Allah ?’

Beliau pun menjawab, ‘ Tidak juga jihad di jalan Allah azza wa jalla, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. ad-Darimiy, 1/357 dan isnadnya hasan seperti disebutkan di dalam al-Irwa, 3/398)

Nash-nash ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa sepuluh hari pertama ini lebih utama daripada seluruh hari-hari dalam setahun tanpa terkecuali sedikitpun. Sampaipun sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Akan tetapi, malam-malam sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari malam-malam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, karena di malam-malam terakhir dari bulan Ramadhan terdapat lailatul qadar yang merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan (Lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 5/412)



Amal yang disunnahkan untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzaulhijjah

Seorang muslim hendaknya membuka sepuluh hari pertama ini dengan bertaubat dengan taubat nasuha kepada Allah azza wa jalla, kemudian ia memperbanyak melakukan amal shaleh secara umum, kemudian pertahatiannya dengan amal-amal berikut ini lebih dikuatkan :

1-Puasa

Disunnahkan bagi seorang muslim untuk berpuasa 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, karena Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-memotivasi agar beramal shaleh pada sepuluh hari pertama, sementara puasa termasuk amal yang paling utama. Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-telah memilih amal ini untuk diri-Nya sebagaimana di dalam hadis Qudsi :

“قَالَ اللهُ: كُلُّ عَمَلِ بَنِي آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامُ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.”

Allah berfirman : setiap amal anak Adam baginya, kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya (HR. al-Bukhari, 1805)

Dulu, Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-berpuasa 9 hari bulan Dzulhijjah. Hunaidah bin Khalid meriwayatkan dari istrinya dari sebagian istri Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ia mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ. أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيْسَيْنِ “

Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-biasa berpusa 9 hari (pertama) bulan Dzulhijjah, hari Asyura (10 Muharram), tiga hari setiap bulan, hari senin pertama awal bulan dan dua Kamis (HR. an-Nasai, 4/205 dan Abu Dawud, dan dishahihkan olel al-Albani di dalam shahih Abu Dawud, 2/462)

2-Memperbanyak Tahmid, Tahlil dan Takbir

Disunnahkan pula untuk mempernyak takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dengan mengeraskan suara di masjid-masjid, rumah-rumah, jalan-jalan dan di setiap tempat yang dibolehkan untuk berdzikir, mengingat dan menyebut Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-, untuk menampakkan ibadah dan sebagai peryataan secara terang-terangan di dalam mengagungkan Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-.



Kaum lelaki mengeraskan suaranya, sedangkan kaum wanita melirihkannya.

Allah-سُبْجَانَهُ وَتَعَالَى-berfirman,

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ  [الحج : 28]

Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. (al-Hajj : 28)

Jumhur ulama berpendapat bahwa  ‘الأيام المعلومات’  (beberapa hari yang telah ditentukan) ini adalah sepuluh hari pertama (dari bulan Dzulhijjah), berdasarkan keterangan dari Ibnu Abbas-رَضِيَ اللهُ عَنْهُ –bahwa ia mengatakan, ‘الأيام المعلومات’ adalah sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dan Abdullah bin Umarرَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا—-meriwayatkan dari Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-bahwa beliau bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ

Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak pula yang lebih dicintai-Nya untuk beramal di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka, perbanyaklah oleh kalian tahlil, takbir dan tahmid pada hari-hari tersebut. (HR. Ahmad 7/224, dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir)

Sifat Takbir :

اللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ،

Allahu akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallahu, Wallahu Akbar, Wa Lillahil hamd

Allahu Maha Besar, Allah Maha Bersar.  Tidak ada Tuhan yang berhak dibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah Maha Besar. Dan bagi Allah-lah segala pujian.

Ada  juga sifat takbir yang lainnya.

Takbir di zaman ini telah menjadi sunnah yang terabaikan. Apalagi pada awal sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Maka, hampir saja Anda tidak mendengarnya kecuali dari sedikit orang saja. Oleh karena itu, hendaknya takbir tersebut dikeraskan untuk menghidupkan kembali sunnah dan sebagai pengingat bagi orang-orang yang lalai. Dan telah valid bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah- رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- dulu, keduanya biasa keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama ini, keduanya bertakbir (dengan suara yang keras) dan orang-orang pun bertakbir dengan sebab takbir yang dikumandangkan oleh keduanya. Dan, yang dimaksud adalah bahwa orang-orang mereka teringatkan dengan takbir tersebut, lalu mereka pun bertakbir masing-masing. Bukanlah yang dimaksud adalah takbir secara berjama’ah dengan satu suara, karena hal ini tidaklah disyariatkan.

Sesungguhnya menghidupkan kembali sesuatu yang hampir sirna berupa perkara-perkara sunnah terdapat pahala yang besar yang ditunjukkan oleh sabda beliau-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيْتَتْ بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Barang siapa menghidupkan satu sunnah dari sunnah-ku yang telah dimatikan sepeninggalku, sesungguhnya baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. (HR. at-Tirmidzi 7/443. Ini adalah hadis hasan karena ada riwayat-riwayat lain yang menguatkannya)

3-Menunaikan Haji dan Umrah

Sesungguhnya termasuk amal yang sangat utama untuk dilakukan pada sepuluh hari pertama ini adalah berhaji ke Batullah al-Haram. Maka, barang siapa diberikan taufik oleh Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-untuk menunaikan haji ke rumah-Nya, melakukan manasik-manasiknya sebagaimana yang diminta maka baginya bagian-insya Allah- dari sabda Rasulullah-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ –

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّة .

Haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali Surga



4-Berkurban

Termasuk amal shaleh pula yang dianjurkan untuk dilakukan pada sepulah hari pertama bulan Dzulhijjah ini adalah bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-dengan menyembelih hewan kurban dan mendaya gunakan harta di jalan Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-.

Maka, hendaknya seorang  muslim bergegas memanfaatkan dengan sebaik-baiknya hari-hari nan utama itu sebelum orang yang menyepelekan menyesal atas apa yang dia lakukan. Dan sebelum ia meminta untuk dikembalikan kembali ke kehidupan dunia sementara tak akan diibah apa yang dimintanya.

Wallahu ‘Alam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Maa-huwa Fadhlu al-‘Asyr Min Dzil Hijjah, Muhammad Shaleh al-Munajjid.

Artikel: www.hisbah.net
Ikuti update artikel kami di Hisbah.net
Youtube: Hisbahtv
Instagram: Hisbahnet dan Al Hisbah Bogor

Continue Reading

baru

Sadarilah, Berzina Hanya Akan Menghancurkan Masa Depanmu

Published

on

Dalam hati kecil yang terdalam, jika setiap pemuda/i ditanya ingin menikah dengan siapa, pasti jawabannya ingin mendapatkan jodoh yang salih/ah. Yaitu yang baik agamanya, menjaga kehormatannya sebelum menikah dan ketika sudah menikah, sehingga setia tidak akan selingkuh.
Dan ini merupakan impian setiap muslim/ah, sehingga akan melahirkan keturunan yang salih/ah pula.

Namun, dengan pergaulan bebas di zaman ini, seorang pemuda/i memang mendapatkan godaan yang luar biasa hebatnya untuk tidak pacaran, sehingga butuh dengan benteng yang sangat kokoh untuk menahannya.

Diantara bentengnya adalah menjaga shalat, Allah Ta’ala berfirman:

ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Artinya:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut: 45)

Sungguh Shalat dapat menjauhkan dari perilaku yang keji dan munkar jika dilakukan dengan khusyu dan ikhlas. Padanya seorang hamba akan sadar bahwa ada Allah Ta’ala yang mengawasi tindak-tanduknya. Sehingga dia akan berpikir berulangkali untuk melakukan suatu kemaksiatan, apalagi yang dapat merusak kehormatan seperti zina.



Ketahuila bahwa zina itu sangatlah berat dosa dan konsekuensinya, bahkan Allah Ta’ala sampai melarang untuk menikahi seorang yang pernah berzina jika belum bertaubat.
Sebagaimana firman-Nya:

{الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (3) }

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (QS Annur: 3)

Dan jodoh adalah cerminan dari seseorang, jika dia baik-baik menjaga diri, maka Allah akan pilihkan baginya yang baik pula, jika tidak, maka Allah akan berikan untuknya yang semisal dirinya, sebagaimana firman-Nya:

ٱلْخَبِيثَٰتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَٰتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS Annur: 26)

Dan di dalam Tafsir Al Muyassar ayat diatas dijelaskan:
“Setiap yang keji dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan akan cocok, sejalan dan sesuai dengan yang keji pula. Dan setiap yang baik dari kaum lelaki dan kaum perempuan, ucapan dan perbuatan akan cocok dan sesuai dengan yang baik-baik (pula). Para lelaki dan wanita yang baik-baik bersih dari tuduhan buruk yang dilontarkan oleh orang-orang keji. Mereka akan mendapatkan ampunan dari Allah yang akan menutupi dosa-dosa mereka dan mendapatka rizki yang baik di surga.”

Maka dari itu, hendaklah menjaga diri sebaik mungkin dan semaksimalnya, karena apa yang terjadi di masa muda ini, itu yang akan menentukan arah masa depan di dunia ini, apalagi di akhirat.
Untuk itu, jauhilah segala hal yang dapat mengantarkan kepada zina, seperti pacaran dsbg.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا
Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.



Dan di dalam Tafsir Al Muyassar ayat diatas dijelaskan:
“Dan janganlah kalian mendekati perzinaan dan segala pemicunya, supaya kalian tidak terjerumus ke dalamnya. Sesungguhnya zina itu benar-benar amat buruk, dan seburuk-buruk tindakan adalah perzinaan.”

Dan juga hendaklah seorang pemuda/i berusaha untuk dapat menikah sesegera mungkin, sebagaimana wasiat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para pemuda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian yang berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah segera! karena menikah itu akan lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Terakhir, pintu taubat terbuka lebar bagi yang ingin memperbaiki kesalahannya, Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Azzumar:53)

Dan Rasululullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang sering melakukan kesalahan adalah yang sering bertaubat. (HR. Ibnu Majah)
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari godaan syaitan yang terkutuk, dan senantiasa menaungi kita dengan taufik dan hidayah-Nya.

Continue Reading

baru

Keutamaan Bulan Dzul Qa’dah

Published

on

By

Wahai hamba-hamba Allah !

Kita tengah berada di awal bulan kedua dari bulan-bulan haji, dan salah satu bulan dari bulan-bulan haram yang empat, yaitu bulan Dzul Qa’dah. Dinamakan dengan nama ini karena orang-orang Arab dulu          berhenti dari melakukan peperangan agar mereka dapat berkalana dan mencari pakan hewan mereka …

Wahai hamba-hamba Allah !

Kita tengah berada di awal bulan kedua dari bulan-bulan haji, dan salah satu bulan dari bulan-bulan haram yang empat, yaitu bulan Dzul Qa’dah. Dinamakan dengan nama ini karena orang-orang Arab dulu berhenti dari melakukan peperangan agar mereka dapat berkalana dan mencari pakan hewan mereka sehingga memungkinkan mereka untuk menyiapkan perbekalan diri mereka, membenahi tempat duduk tunggangan mereka dan melatihnya agar siap dinaiki untuk melakukan perjalanan haji.

Dan, bulan ini (bulan Dzul Qa’dah) adalah bulan kedua dari bulan-bulan haji yang Allah-سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-firmankan tentangnya,

{الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ} [البقرة: 197]،

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi [1][al-Baqarah : 197)

 

 



Tentang bulan ini, datang keterangan tentang dua buah keutamaannya, tidak lebih dari itu.

Keutamaan yang pertama :  

Bahwa Dzul Qa’dah termasuk bulan di mana orang yang berhaji masuk ke dalam nusuknya, baik orang tersebut berhaji tamattu’, haji ifrod, maupun haji qiran. Dan, pada ghalibnya orang-orang yang berihram pada bulan Dzul Qa’dah mereka berihram untuk melakukan haji tamattu’ ; oleh karena itu ketika Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- menunaikan ibadah haji (di mana beliau berangkat) pada akhir-akhir bulan Dzul Qa’dah, beliau melakukan haji Qiran, kemudian beliau memerintahkan para sahabatnya agar mereka bertahallul, mengubah ihram mereka untuk melakukan haji tamattu’, hal itu beliau lakukan  sebagai bentuk rasa kasih sayang terhadap mereka. Rasulullah -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bersabda,

«لَوْ اِسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِي مَا اسْتَدْبَرْتُ، مَا سُقْتُ الْهَدْيَ، وَلَحَلَلْتُ مَعَ النَّاسِ حِيْنَ حَلُّوْا»؛(رواه البخاري)،

“Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan niscaya aku bertahallul bersama orang-orang kala mereka bertahallul.” (HR. al-Bukhari)

 

Keutamaan kedua :

Disyariatkannya untuk melakukan umrah pada bulan tersebut. Karena seluruh umrah Nabi-صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-terjadi pada bulan Dzul Qa’dah, sampai pun  umrah beliau yang dilakukannya berbarengan dengan pelaksanaan hajinya, beliau berihram pada bulan Dzul Qa’dah. Umrah yang dilakukan Nabi-صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ada empat kali ;

1-Umrah Hudaibiyah, namun beliau tidak menyempurnakannya. Beliau-صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- bertahallul dari umrahnya dan kembali (ke Madinah).

2-Umrah al-Qadha, pada tahun berikutnya

3-Umrah Ji’ranah pada tahun penaklukan kota Mekah pada tahun ke-8 Hijriah ketika beliau membagikan harta rampasan perang Hunain

4-Umar beliau-صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-  pada waktu haji wada’



Sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh nash-nash yang shahih. Dan inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama. Bahkan, sekelompok orang dari kalangan Salaf mengunggulkan (keutamaan) umrah pada bulan Dzul’Qa’dah ini atas umrah yang dilakukan pada bulan Ramadhan, karena Nabi-صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- berumrahnya pada bulan Dzul Qa’dah, dan oleh karena itulah banyak kalangan Salaf yang bersemangat untuk menunaikan umrah di bulan Dzul Qa’dah, untuk meneladani Nabi -صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- dan menyukai untuk membawa serta hadyu ketika melakukan umrah ini. Dan sunnah ini, banyak orang yang melalaikannya. Padahal membawa serta hadyu dalam aktivitas umrah lebih mudah daripada membawanya ketika menunaikan ibadah haji. Bahkan, di zaman kita sekarang ini lebih mudah lagi. Akan tetapi karena ketergesa-gesaan kita dan tersibukkannya kita dari banyak perkara sunnah kita terhalangi untuk dapat melakukannya dan terhalangi pula dari mendapatkan keutamaannya, kecuali orang yang dirahmati Rabb kamu. Membawa serta hadyu dalam ibadah umrah merupakan perbuatan Nabi -صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-dan para sahabatnya yang mulia. Dalil disyariatkannya membawa serata hadyu dalam pelaksanaan ibadah umrah adalah apa yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari – رحمه الله – di dalam shahihnya, di mana si rawi mengatakan :

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ مِنْ الْمَدِينَةِ فِي بِضْعَ عَشْرَةَ مِائَةً مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا كَانُوا بِذِي الْحُلَيْفَةِ قَلَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْهَدْيَ وَأَشْعَرَ وَأَحْرَمَ بِالْعُمْرَةِ

“Nabi -صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- berangkat saat perjanjian Al Hudaibiyah dari Madinah bersama sekitar seribu orang sahabat Beliau hingga ketika sampai di Dzul Hulaifah, Nabi -صًلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- mengikat dan menandai hewan hadyu beliau, lalu berihram untuk ‘umrah”. (HR. al-Bukhari)

Dan, imam al-Bukhari juga meriwayatkan di dalam shahihnya bahwa : Ibnu Umar – رَضِيَ اللهُ عَنْهًمَا- berihram untuk menunaikan umrah, kemudian beliau membeli hewan hadyu dari Qudaid.

Dan, Syaikh Allamah Ibnu Utsaimin pernah ditanya, ‘Apakah termasuk sunnah yang dianjurkan menyembelih hewan hadyu setelah menunaikan umrah ?’ maka, beliau-رَحِمَهُ اللهُ-pun menjawab :

“Iya, ini termasuk sunnah yang dianjurkan. Akan tetapi, tidak termasuk sunnah bahwa Anda bila telah menunaikan umrah Anda lantas membeli seekor kambing dan menyembelihnya. Yang sunnah adalah Anda membawa serta hewan hadyu bersama Anda, Anda membawanya dari daerah Anda, atau paling tidak dari Miqat, atau dari daerah halal terdekat-menurut sebagian ulama-. Hal inilah yang disebut dengan membawa serta hadyu. Adapun jika Anda menyembelih (kambing) setelah selesai dari mengerjakan Umrah tanpa membawa serta bersama Anda, maka hal ini tidak termasuk sunnah.” Selesai perkataan beliau -رَحِمَهُ اللهُ-.

Saya katakan :

“dan (atau) dari daerah halal yang terdekat “ meliputi bagian dari daerah masya’ir, arafah dan tan’im, dan daerah yang lainnya.



Dan, aku pun menasehatkan kepada diriku sendiri dan kepada saudara-saudaraku dari kalangan para penuntut ilmu agar menebarkan sunnah-sunnah dan memberikan peringatan tentang perkara-perkara bid’ah (perkara-perkara baru yang diada-adakan), kerena, hal-hal yang sunnah itu akan mengalahkan hal-hal yang bid’ah, dan hal-hal yang bid’ah itu berpotensi akan meruntuhkan hal-hal yang sunnah.

Dan, aku pun mewasiaskan kepada setiap orang yang mendapatkan kemudahan untuk berumrah pada bulan Dzulqa’dah hendaknya ia berumrah, untuk meneladani Nabi-صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-, dan andaikan ia membawa serta hadyu, hal demikian itu lebih sempurna dan lebih utama.

 

Wallahu A’lam

 

Amar Abdullah bin Syakir

 

Sumber :

Fadha-ilu Dzil Qi’dah, Syaikh Dr. Shalih bin Muqbil al-‘Ushaimiy at-Tamimiy

 

Catatan :

[1] Yaitu, bulan Syawwal, Dzul Qa’dah, dan Dzul Hijjah.

Continue Reading

Trending