Nikmatnya Ibadah Puasa

nikmatnya-ibadah-puasa.jpg

Puasa, merupakan bentuk ibadah yang mulia. Allah dan RasulNya menyariatkannya. Bahkan, puasa di bulan Ramadhan merupakan syariat Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-hambanya yang beriman. Dia subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya,

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan bulan yang berkah, Allah ‘azza wajalla mewajibkan puasa (di siang harinya) kepada kalian.” (HR. Ahmad 9/225, 226 Al-fath ar–Rabbaniy, an-Nasai, 4/129, lihat : Tahqiq Ahmad Syakir terhadap Musnad, no. 7148, Shahih at-Targhiib karya Al-Albaniy, 1/490, Tamamu al-Minnah hal. 395)

Maka, tidak boleh hukumnya seorang yang beriman meninggalkan kewajiban yang satu ini kecuali bila ia mendapatkan keringanan untuk tidak melakukannya, seperti bila ia sakit, atau dalam bepergian jauh atau tidak mampu untuk melakukannya. Namun, ia berkewajiban untuk mengganti puasa yang ditinggalkannya tersebut pada hari lainnya. Ini merupakan kemudahan dari Allah ta’ala dan sekaligus merupakan bentuk dari nikmatNya. Bahkan, puasa dan diwajibkannya puasa itu sendiri merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri.

Setelah Allah menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang yang beriman, menjelaskan pula maksud dan tujuan dari puasa, menjelaskan pula waktunya yang tidak lama hanya sebulan saja, menjelaskan pula keringanan bagi orang yang dalam kondisi tertentu untuk tidak berpuasa dan seterusnya, Allah menutup ayatnya dengan ungkapan, وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (dan agar kamu bersyukur). Ini merupakan isyarat bahwa apa yang telah disebutkan sebelumnya seperti puasa merupakan nikmat dariNya yang mengharuskan seorang hamba mensyukurinya.

Pembaca yang budiman, barang kali di antara Anda ada yang bertanya, “Bagaimana puasa merupakan kenikmatan, sementara orang yang berpuasa lapar dan dahaga sepanjang siang harinya karena tidak boleh makan dan tidak boleh juga minum, dan lain sebagainya. Bahkan, ia dianjurkan untuk bangun di waktu sahur untuk bersahur, ia harus berjuang memerangi rasa kantuk yang menggelayuti kedua kelopak matanya? dan seterusnya…

Begini -wahai pembaca yang budiman- kita, Anda dan saya, hendaklah memahami dua hal berikut ini,

>> Pertama, bahwa apa pun yang Allah dan RasulNya syariatkan kepada kita termasuk puasa sesungguhnya hal tersebut merupakan kemaslahatan bagi kita selaku hambaNya. Jadi, dalam syariatnya terdapat kemaslahatan dan kebaikan yang akan berpulang kepada kita sendiri. Dari sisi ini, maka bisa kita fahami bahwa syariat puasa merupakan nikmat dari Allah ta’ala.

>> Kedua, bahwa niknat itu tidak selalu sesuatu yang bersifat fisik, dapat diindra, dirasakan oleh jasmani. Namun juga nikmat itu bisa berupa sesuatu yang bersifat maknawi, tidak dapat diindra, tidak dirasakan oleh jasmani namun dirasakan oleh jiwa dan ruh.

Setelah Anda memahami dua hal ini, maka Anda akan sampai -dengan izin Allah- pada pemahaman bahwa puasa merupakan bagian nikmat Allah ta’ala. Bahkan, merupakan nikmat yang sangat agung. Penghayatan Anda terhadap informasi nabawi yang menyebutkan atau mengisyaratkan keutamaan aktivitas ibadah puasa, akan semakin meyakinkan Anda bahwa puasa adalah benar merupakan nikmat. Di antaranya adalah sabda beliau,

الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْقِتَالِ

Puasa adalah perisai dari Azab Allah, seperti perisai salah seorang di antara kalian (yang dapat melindungi diri kalian dari serangan musuh) ketika berperang.” (HR. Ahmad, no. 17909)

Tidak diragukan -dan saya rasa Anda sepakat dengan saya- bahwa terlindunginya seseorang dari adzab Allah -di mana sifat adzab Allah itu sebagaimana dijelaskanNya dalam firmanNya, وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

(akan tetapi adzab Allah itu sangat keras)- merupakan nikmat bahkan nikmat yang sangat besar. Dengan puasa yang dilakukan dengan baik, seorang terselamatkan dari adzabNya yang sangat pedih itu, maka ini menunjukkan bahwa puasa merupakan nikmat yang besar.

Sabda Nabi yang lainnya, Nabi bersabda kepada para pemuda yang telah mampu untuk menikah agar mereka menikah karena hal tersebut dapat lebih menundukkan pandangan, lebih menjaga kemaluan. Kemudia, beliau mengatakan kepada mereka yang belum mampu hendaklah ia berpuasa beliau menyebutkan manfaatnya, فإنه له وجاء

(karena sesungguhnya puasa itu merupakan الحماية

, pengendali hawa nafsu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Terkendalinya nafsu merupakan bagian dari kunci keselamatan. Anda bisa saksikan dampak negatif dari tidak terkendalinya hawa nafsu. Betapa banyak kasus pelampiasan nafsu yang tidak benar, hal itu terjadi salah satu faktornya adalah karena hawa nafsu yang tidak terkendali. Cukuplah hal ini menunjukkan bahwa sejatinya puasa itu merupakan nikmat karena dengannya menjadi sarana terkendalikannya hawa nafsu sehingga selamat dari penyimpangan hawa nafsu.

Sabda Nabi yang lainnya,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وِوَلَدِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَالأَمْرُ وَالنَّهْيُ

“Fitnah (perbuatan dosa) seseorang terhadap keluarganya, hartanya, anaknya, tetangganya, bisa dihapus dengan shalat, puasa, sedekah, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar.” (HR. Al-Bukhari, no. 502)

Berlaku dosa terhadap orang-orang yang disebutkan oleh Nabi dalam sabda beliau ini hampir bisa dipastikan terjadi atau sangat besar pelung hal tersebut terjadi. Anda yang telah berkeluarga -saya yakin- mengetahui hal ini. Betapa masalah dalam kehidupan rumah tangga seringkali memicu anggota keluarga terjerumus ke dalam lembah dosa, entahlah itu bentuknya tidak bergaul dengan baik dengan pasangan hidup, mengurangi sebagian hak pasangan hidup, bersikap kasar kepada anak-anak dan seterusnya. Bahkan bisa jadi hal ini merembet kepada berlaku tidak baik kepada tetangga. Begitu pula persoalan harta, seringkali seseorang terjerembab kepada perbuatan dosa, baik dalam hal cara mendapatkannya maupun dalam hal mendayagunakannya, dalam hal bersikap terhadap hak-haknya. Tak jarang dalih kebutuhan rumah tangga seorang tak peduli dirinya mengambil harta dengan jalan yang diharamkan Allah ta’ala, entahlah dengan jalan mencuri, merampas, merampok, korupsi dan lain sebagainya.

Tak jarang pula setelah seseorang mendapatkan harta yang cukup atau bahkan berlebih ia mendayagunakannya secara berlebihan seperti berfoya-foya dan mendayagunakannya secara mubadzir, digunakan untuk perkara yang tidak diridhai Allah ta’ala.

Tak jarang pula karena ketamakan dan rasa cintanya yang sedemikian besar seseorang terhadap harta, menjadikannya enggan untuk menunaikan hak harta, baik berupa zakat, infaq atau pun sedekah. Kesemuanya ini, merupakan bentuk dosa. Maka, dengan sebab puasa beberapa dosa-dosa kecil yang dilakukannya dalam kaitannya dengan keluarga dan tentangga serta harta mendapatkan ampunan dari Allah ta’ala.

Tidak diragukan bahwa diampuninya dosa merupakan nikmat yang agung. Maka, puasa yang menjadi sarana terampuninya dosa pun merupakan nikmat yang agung pula.

Sabda Nabi yang lainnya,

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

Bagi orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan yang ia gembira dengan keduanya; bila berbuka ia gembira dan ketika berjumpa dengan rabbnya gembira dengan puasanya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1904)

Pembaca yang budiman, perhatikan dan renungkanlah sabda Nabi ini, puasa menjadi sebab kegembiraan baik di dunia maupun diakhirat. Jika demikian, sungguh puasa sesungguhnya merupakan nikmat.

Beberapa hadits di atas mudah mudahan sudah mencukupi untuk menunjukkan kepada kita bahwa puasa merupakan nikmat Allah yang agung. Maka, sekali lagi, berhubung puasa itu merupakan nikmat, hal ini mengharuskan kita untuk mensyukurinya. Adapun bentuk kesyukuran kita akan nikmat yang satu ini adalah dengan melaksankannya dengan sebaik-baiknya.

Akhirnya, semoga Allah mengaruniakan taufiq kepada kita untuk dapat melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya dengan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak sekedar menahan lapar dan dahaga sejak terbitnya fajar hingga tenggelamnya mata hari. Namun juga menahan diri dari segala macam dan bentuk perkara yang dilarang Allah dan Rasulnya untuk dilakukan.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah.net di Fans Page Hisbah
Twitter @hisbahnet, Google+ Hisbahnet

3,301 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: