Orangtua Durhaka Kepada Anaknya, Bagaimana Bisa?

perubahan-2.jpg

Selama ini lumrahnya kita hanya mendengar istilah anak durhaka, mungkin banyak yang sama sekali belum pernah mendengar istilah orangtua durhaka.

Bakti kepada orangtua dan tidak mendurhakai mereka memang sudah menjadi kewajiban seorang anak, merupakan fitrah, dan bahkan Allah Ta’ala menempatkan posisi bakti kepada orangtua setelah ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..” (QS. Al An’am: 151).


Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ


“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).


Maka, melihat dari kewajiban seorang anak kepada orangtuanya, tentu pula berarti anak memiliki hak atas orangtuanya, maka ketika hak anak tersebut tidak ditunaikan oleh si orangtua, maka disaat itulah orangtua itu disebut telah mendurhakai anaknya.

Dalam satu riwayat disebutkan:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ يَشْكُو إِلَيْهِ عُقُوقَ ابْنِهِ فَأَحْضَرَ عُمَرُ الْوَلَدَ وَ أَنَّبَهُ عَلَى عُقُوقِهِ لِأَبِيْهِ وَ نِسْيَانِهِ لِحُقُوقِهِ عَلَيْهِ

فَقَالَ الْوَلَدُ : يَا أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَلَيْسَ لِلْوَلَدِ حُقُوقٌ عَلَى أَبِيْهِ ؟

قَالَ : بَلَى

قَالَ : فَمَا هِيَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ؟

قَالَ عُمَرُ : أَنْ يَنْتَقِيَ أُمَّهُ وَ يُحَسِّنَ اِسْمَهُ وَ يُعَلِّمَهُ الْكِتَابَ أَي “الْقُرْآنَ ”
قَالَ الْوَلَدُ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ أَبِي لَمْ يَفْعَلْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ، أَمَّا أُمِّيْ فَإِنَّهَا زَنْجِيَّةٌ كَانَتْ لِمَجُوسٍ. وَ قَدْ سَمَّانِي جُعْلاً أَي ” خُنْفُسَاءَ ” وَ لَمْ يُعَلِّمْنِي مِنَ الْكَتَابِ حَرْفاً

وَاحِداً

فَالْتَفَتَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى الرَّجُلِ وَقَالَ لَهُ : جِئْتَ إِلَيَّ تَشْكُوْ عُقُوقَ ابْنِكَ وَقَدْ عَقَقْتَهُ قَبْلَ أَنْ يَعُقَّكَ، وَ أَسَأْتَ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يُسِيْءَ إِلَيْكَ.


“Suatu hari, seorang lelaki mendatangi Khalifah Umar bin Khattab untuk mengadukan kedurhakaan anaknya. Sang Khalifah lalu memanggil anak tersebut, kemudian memarahinya karena kedurhakaannya.

Kepada sang Khalifah, sang anak bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orang tuanya?”

“Iya, benar,” jawab Umar.

“Apa saja hak anak tersebut?”

Sang Khalifah lalu berkata, “Memilih calon ibu yang baik untuknya, memberinya nama yang baik, dan mengajarkannya al-Qur’an.”

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang engkau sebutkan. Adapun ibuku, dia seorang wanita negro hamba sahaya orang majusi. Dia memberiku nama Ju’lan (kumbang). Dia juga tidak mengajariku satu huruf pun dari al-Qur’an,” terang anak itu.

Mendengar penuturan tersebut, sang Khalifah segera mengalihkan pandangan kepada bapak dari anak tersebut seraya berkata, “Engkau datang kepadaku untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau sendiri telah durhaka kepada anakmu sebelum dia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”


Maka, dari kisah diatas, dapat diambil pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan anak yang saleh maka sebagai orangtua sebelumnya juga harus menyiapkan persiapan yang baik untuk si anak tersebut, dari memilih calon istri yang kelak akan menjadi ibunya, memilihkan nama yang terbaik, mengajarkan agama kepada anak tersebut dst.


Maka sebuah kekeliruan di jaman sekarang, orangtua hanya memikirkan urusan perut si anak dan pendidikan formalnya, tanpa pernah sadar bahwa si anak butuh kasih sayang dan waktu bersama orangtuanya, dan yang utama adalah butuh didikan agama bukan hanya didikan yang berbasis materi belaka, karena nantinya anak soleh yang mau berbakti kepada orangtua di masa tua mereka adalah anak yang mengerti kewajiban birrul walidain yang ia dapatkan dari pemahaman agamanya, sedangkan anak yang terdidik hanya dengan materi, kelak akan memandang bakti kepada orangtua sebagai beban, wal ‘iyadzubillah.


Semoga bermanfaat dan menyadarkan kita sebagai orangtua.


Ditulis oleh Muhammad Hadhrami, B.sh
Sarjana Fakultas Syariah LIPIA

83 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: