Pandangan Pengingkaran

Pandangan-Pengingkaran.jpg

Dari Abu Hurairah-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, suatu ketika Umar (bin Khattab, semoga Allah meridhainya) melewati Hassan yang tengah mendendangkan sebuah syair di dalam masjid, maka Umar mengarahkan pandangannya dengan tajam ke arah Hassan[1], maka Hassan pun berkata, “Aku pernah mendendangkan bait syair sementara di masjid waktu itu ada orang yang lebih baik darimu, kemudian Umar mengarahkan pandangannya ke arah Abu Hurairah, lalu Umar berkata kepadanya,” Ansyudukallah, apakah engkau pernah mendengar Rasulullah bersabda, “penuhilah seruanku. Ya Allah, perkuatlah dia dengan ruhul qudus[2]. Abu Hurairah pun menjawab : Iya (aku pernah mendengar beliau mengatakan demikian)

@ Ihtisab di dalam Hadis

Dalam hadis ini terdapat banyak faedah dan pelajaran yang dapat dipetik yang terkait dengan masalah amar ma’ruf nahi munkar, di antaranya yang terangkum dalam  poin berikut ini :

Pertama, berihtisab, amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang yang mendendangkan syair yang haram di dalam masjid.

Kedua, di antara gaya berihtisab adalah dengan melihat kepada pihak yang melakukan kemunkaran dengan pandangan pengingkaran.

Ketiga, Klarifikasi seorang muhtasib tentang kemungkaran yang hendak diingkari sebelum ia melakukan ihtisab, amar ma’ruf nahi munkar.

& Penjelasan :

  • Berihtisab, amar ma’ruf nahi munkar terhadap orang yang mendendangkan syair yang haram di dalam masjid

Tidak boleh mendendangkan syair di dalam masjid bila mana syair tersebut mengandung ungkapan kata yang buruk, seperti syair-syair ala jahiliyah dan (syair-syair) yang didendangkan  orang-orang yang suka melakukan kebatilan, atau bila mana hal tersebut memalingkan dari menuntut ilmu, mempelajari dan mengkaji al-Qur’an, dzikir, tasbih. Sungguh, Nabi telah melarang melakukan hal tersebut.

Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash, ia berkata, Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang melakukan transaksi jual beli di dalam masjid, mendendangkan syair di dalam masjid, mengumumkan barang hilang di masjid, dan beliau juga (melarang) الحلق   al-Hilq[3] pada hari jum’at sebelum ditunaikannya shalat (jum’at) [4]

Hadis ini menunjukkan haramnya mendendangkan syair di dalam masjid, akan tetapi tidak semua bentuk syair, maka syair yang mengandung kebenaran dan di dalamnya terdapat sanjungan dan pujian yang tidak melampaui batas terhadap islam dan kaum muslimin atau menjelaskan kebatilan orang-orang musyrik, membongkar syubhat mereka, maka syair yang demikian itu diizinkan untuk didendangkan di dalam masjid. Nabi telah membolehkan Hassan bin Tsabit menyerang orang-orang muysrik (dengan ungkapan bait syair yang didendangkannya) di dalam masjid dan beliau mendoakan Hassan agar dikuatkan dengan ruhul qudus  sepanjang ia menenuhi seruan Nabi [5]  dan menunjukkan kepada hal tersebut adalah hadis yang tengah kita bahas ini.

Umar bin Khaththab saat mengingkari perbuatan Hassan bin Tsabit berpegang pada keumuman hadis-hadis yang melarang (didendangkannya syair di dalam masjid), akan tetapi kemudian Hassan memberikan penjelasan kepada beliau bahwa apa yang didendangkannya tidak termasuk syair yang terlarang, kalaulah tidak demikian, niscaya Abu Hurairah tak akan bersaksi untuknya.

Oleh karena itu, seorang muhtasib boleh untuk mengingkari orang yang mendendangkan syair yang diharamkan di dalam masjid. “dan dikiaskan kepada syair yang diharamkan tersebut segala bentuk ungkapan kata yang tidak berfaedah, atau bahkan di dalamnya mengandung sesuatu yang membahayakan, karena sesungguhnya rumah-rumah Allah (baca : masjid) harus bersih dari hal-hal demikian itu [6]

Sesungguhnya, seorang muhtasib yang pencemburu terhadap syariat Allah dan perkara-perkara yang diharamkan-Nya, bila melihat atau mendengar kemunkaran, niscaya Anda mendapatinya marah, dan hal tersebut terlihat nampak pada roman mukanya dan seluruh anggota badannya, raut wajahnya berubah, merupakan hal yang dapat menjadikan pelaku kemungkaran dan yang lainnya merasa bahwa ia mengingkari hal munkar yang dilakukannya.

Hadis yang tengah kita bahas menjadi penguat atas hal tersebut. Karena, Umar memandang ke arah Hassan dengan sebuah pandangan yang darinya Hassan mengetahui bahwa itu merupakan pandangan pengingkaran [7] sementara Umar belum berbicara sepatah kata pun, maka si Hassan pun bermaksud membela dirinya dan menjelaskan bahwa tindakannya bukanlah merupakan kemunkaran seperti yang diduga oleh Umar, dan ia pun memperkuat tindakannya melalui pernyataan Abu Hurairah tentang sesuatu yang pernah ia alami saat bersama dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-

  • Mengklarifikasi Tindak Kemunkaran

Dari hadis yang tengah kita kaji, dapat difahami bahwa Umar –semoga Allah meridhainya- menampakkan tanda pengingkaran sebelum beliau melakukan klarifikasi terlebih dahulu tentang apa yang didendangkan oleh Hassan, apakah termasuk syair yang diharamkan ataukah termasuk syair yang dibolehkan. Oleh karena itu, sorang muhtasib yang hendak melakukan pengingkaran hendaknya mengklarifikasi kemungkaran yang hendak diingkarinya, apakah benar hal tersebut kemungkaran ataukah bukan ?. dan perlu diketahui bahwa tanda-tanda pengingkaran ini bukanlah merupakan asal (pengingkaran) dan bersifat umum. Namun, bagaimanapun keadaannya Wajib atas para dai dan orang-orang yang beramar ma’ruf Nahi munkar memperhatikan tujuan dan sasaran dari ihtisab yang dilakukannya, tidak hanya sekedar melakukan pengingkaran dan marah-marah  [8]

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Sumber :

al-Ihtisab Fii Shahih Ibni Khuzaemah”, karya : Abdul Wahab bin Muhammad bin Fayi’ ‘Usairiy, hal. 79-81

 

 

[1] Mengarahkan pandangannya dengan tajam, yakni, memandang ke arahnya dengan pandangan yang menunjukkan pengingkaran (terhadap perbuatan si Hassan), Subulussalam, 1/294.

[2]  Ruhul qudus, yang dimaksud adalah Malaikat Jibril,’alaihissalam, an-Nihayah, 2/272, Fathul Baariy, Ibnu Hajar, 1/653

 

[3] الحلق Al-Hilq, dengan huruf ح dikasrah, dan huruf ل difathah merupakan jam’ dari حلقة  , yaitu , sekelompok orang yang membentuk lingkaran seperti halaqah pintu dan yang lainnya. An-Nihayah, 1/426, dan Ma’alim as-Sunan, 1/454

[4] HR. Ibnu Khuzaemah, 2/274, hadis no. 1304, Abu Dawud, 1/454, hadis no. 1079, at-Tirmidzi, secara ringkas, 2/139, hadis no. 322, an-Nasai-secara ringkas-2/378, hadis no. 713-714, Ibnu Majah –secara ringkas- 1/414, hadis no. 479. Dan hadis ini, isnadnya dihasankan oleh Syaikh al-Albani, sebagaimana disebutkan dalam ta’liq beliua terhadap shahih Ibnu Khuzaemah, 2/274)

[5] Shahih Ibnu Khuzaemah, 2/275

[6] Tauhiihu al-Ahkaam, al-Bassam, 1/526, dan lihat juga Subulussalam, karya : ash-Shan’aniy, 1/294

 

[7] Subulussalam, ash-Shan’aniy, 1/294

[8] Dari catatan pembimbing risalah ini, semoga Allah menjaganya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: