Para Istri yang Terancam

Para-Istri-yang-Terancam.jpg

Siapakah mereka ? mereka adalah para istri yang durhaka kepada suaminya. Durhaka kepada suami banyak bentuknya. Berikut ini adalah 4 contoh di antaranya beserta ancamannya, semoga Anda –wahai para istri-, semoga istri-istri Anda wahai para suami, tidak termasuk golongan ini “Istri yang Terancam”. Amin

Saudaraku…para suami … saudariku…para istri

Namun, sebelum saya sebutkan keempat contoh tersebut, ketahuilah, bahwa sebagaimana kedurhakaan seorang istri bentuknya beragam, begitu pula halnya dengan ancaman atas kedurhakaan tersebut, juga beragam. Tentunya, di balik ragam dan perbedaan bentuk kedurhakaan berikut ancamannya tersebut terkandung hikmah mendalam, boleh jadi hikmah itu diketahui boleh jadi tidak diketahaui. Yang jelas, sebuah ancaman pada ghalibnya akan membuat seorang merasa takut. Bila terkait dengan sebuah pelanggaran aturan biasanya yang menjadi maksud adalah agar seseorang tidak melanggar aturan tersebut. Maka, rasa takut seseorang terhadap ancaman yang diancamkan akan membantunya untuk tidak terjerumus atau terjuh ke dalam pelanggaran.

Maka, inilah juga yang menjadi maksud penyebutan “ancaman” dalam tulisan ini, semoga para istri –yang membaca tulisan-ini merasa takut kepada Allah sehingga tidak melakukan pelanggaran yang dimaksud ataupun bentuk pelanggaran yang lainnya. Kalau pun toh pernah melakukannya-karena ketidak tahuannya- semoga rasa takutnya-setelah mengetahuinya- mengantarkannya untuk bertaubat kepada Allah, menyadari kekeliruannya, dan kemudian memperbaiki dirinya.

Untuk suami, hendaknya Anda waspada, agar Anda tidak termasuk bagian yang memicu istri Anda terjatuh kedalam pelanggaran tersebut. Maka, bantulah istri Anda agar ia tidak terjatuh ke dalam lubang pelanggaran itu.

Saudaraku…para suami … saudariku…para istri yang baik…

Tibalah saatnya sekarang saya sebutkan beberapa bentuk kedurhakaan itu berikut ancamannya.

  1. Tidak Bersyukur Kepada Suami

Dalam hadis disebutkan,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ

Dari Abdullah bin ‘Amr-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Allah tidak akan melihat seorang istri yang tidak berterima kasih kepada (kebaikan) suaminya padahal ia selalu butuh kepada suaminya (HR. an-Nasa-i dalam as-Sunan al-Kubra, no. 9086)

Bahkan Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam- menjelaskan bahwa sikap istri yang tidak bersyukur kepada suami merupakan sebab banyaknya wanita masuk Neraka,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ.

Dari Ibnu Abbas-semoga Allah meridhainya-, ia berkata, Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,”Neraka telah diperlihatkan kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita, mereka kufur (mengingkari).” Beliau-shallallahu ‘alaihi wasallam- ditanya, “apakah mereka kufur (mengingkari) Allah ? Beliau menjawab, “mereka mengingkari suami dan mengingkari perbuatan kebaikan. Jika engkau telah berbuat kebaikan kepada seorang wanita (istri) dalam waktu lama, kemudian ia melihat sesuatu (yang menyakitkannya) darimu, ia berkata, “Aku sama sekali tidak melihat kebaikan darimu !” (HR. al-Bukhari, no. 29 dan Muslim, no. 884)

  1. Menyakiti Suami

Dalam hadis disebutkan,

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ تُؤْذِى امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا »

Dari Mu’adz bin Jabal-semoga Allah meridhainya-, dari Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadri akan berkata, “Janganlah engkau menyakitinya,semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu, hampir saja ia akan meninggalkanmu menuju kepada kami.” (HR. at-Tirmidzi, no. 1174)

  1. Menolak Ajakan Suami

Dalam hadis disebutkan,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, ia berkata, Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun istrinya enggan (datang), lalu suami bermalam dalam keadaan marah kepadanya, malaikat melaknat istri itu sampai masuk waktu subuh (HR. Muslim, no. 3614)

Imam Nawawi berkata, “Hadis ini merupakan dalil tentang haramnya istri menolak ajakaan suami ke tempat tidur tanpa halangan syar’i. Dan haidh bukan halangan  untuk menolak, sebab seorang suami mempunyai hak bersenang-senang dengan istrinya di atas sarungnya (maksudnya boleh bersenang-senang selama bukan jima’-pen) (Syarh Nawawi ‘Ala Shahih Muslim, 10/7-8)

  1. Keluar Rumah Tanpa Izin

Allah azza wajalla berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

Dan hendaklah kamu (para istri Nabi) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dulu …(Qs. Al-Ahzab : 33)

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa wanita tidak boleh keluar rumah kecuali ada kebutuhan.” (Tafsir al-Qur’an al-Adzim, 6/408)

Syaikhul Islam berkata, “Tidak halal bagi seorang istri keluar rumahnya tanpa izin suaminya. Tidak halal bagi seorang pun menjemputnya dan menahannya dari suaminya, baik dia sebagai wanita yang menyusui atau sebagai dukun bayi (bidan), atau pekerja lainnya. Jika dia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat durhaka, bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan layak mendapat hukuman. “(Majmu’ Fatawa, 32/281)

Wallahu a’lam

Penulis : Amar Abdullah bin Syakir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: