Pencuri dan Hukumannya di Dunia serta Azabnya di Akhirat

Pencuri dan Hukumannya di Dunia serta Azabnya di Akhirat

Pencurian adalah tindakan kriminal yang sangat sering terjadi, sehingga kita tidak dapat merasa aman ketika meninggalkan rumah, kendaraan atau sekedar berjalan. Itu semua karena kita jauh dari hukum Allah Ta’ala, yaitu hukuman potong tangan bagi pencuri, sebagaimana firman-Nya:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al Maidah: 38).
Dan batasan nilai curiannya dijelaskan oleh Syaikh As Sa’di sebagai berikut:

ومن سرق ربع دينار من الذهب، أو ما يساويه من المال من حرزه : قطعت يده اليمنى من مفصل الكف، وحسمت فإن عاد قطعت رجله اليسرى من مفصل الكعب وحسمت فإن عاد حبس

“Orang yang mencuri 1/4 dinar emas (atau lebih) atau yang senilai dengan itu, dari tempat penyimpanannya, maka ia dipotong tangannya yang kanan mulai dari pergelangan tangan. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika ia mengulang lagi, maka dipotong kakinya yang kiri dari mata kakinya. Kemudian dihentikan pendarahannya. Jika mengulang lagi, maka dipenjara.” (Minhajus Salikin, 231-232).

Andai hukuman ini diterapkan, maka tindakan pencurian akan jarang terjadi, karena tidak akan ada yang bermain-main dengan hukuman potong tangan, tidak akan sembarangan mencuri karena taruhannya adalah tangannya.
Namun inilah hukuman Allah Ta’ala atas kita yang tidak menegakkan perintah-Nya. Sehingga pencurian sering terjadi dan kita kehilangan rasa aman.
Namun bukan berarti mencuri yang nilainya di bawah ¼ gram dinar emas tidak ada hukumannya, dosanya sangatlah besar, dan barangsiapa yang meninggal namun belum mengembalikan hasil curiannya kepada pemiliknya, maka di akhirat pahalanya akan dikurangi untuk mengganti kezalimannya, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)

Dan ancamannya sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به

“Setiap daging yang tumbuh dari haram, maka api neraka lebih layak baginya” (HR. Ahmad

Maka dari sekarang, marilah kita menjaga diri dan keluarga kita dari kezaliman sekecil apapun itu, apalagi sampai mengambil hak orang lain. Dan agar kita berperan aktif dalam bermasyarakat untuk saling menjaga dan mengawasi dari tindakan pencurian di manapun, karena sesungguhnya kita adalah bersaudara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *