Penebusan Dosa Zina

Penebusan-Dosa-Zina.jpg

Zina merupakan salah satu dosa besar, bahkan salah satu yang paling besar, sebagaimana banyak sekali dalil-dalil yang menyebutkan kecaman dan ancaman terhadap pelakunya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{ وَلَا تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً {[الإسراء: 32]

Janganlah engkau mendekati zina, sesungguhnya ia merupakan suatu yang keji dan jalan yang tercela“. (QS Al Israa: 32)

Dan Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wa Sallam bersabda:

« لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن …» [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidaklah dikatakan beriman seorang pezina ketika ia berzina“.
(HR Bukhari-Muslim)

Maksud dari hadits ini adalah bahwa barangsiapa yang berbuat zina, maka dicabut darinya kesempurnaan iman, sehingga menjadi iman yang kurang, dan apabila iman berkurang dari hari seorang mukmin, maka seterusnya ia tidak akan ragu lagi untuk kembali melakukan zina atau dosa-dosa besar lainnya, dan sebaliknya, apabila iman semakin meningkat di hati mukmin, maka ia akan mencegahnya dari perbuatan zina dan dosa-dosa lainnya. Inilah makna yang benar dari hadits diatas, bukan seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa zina dapat menyebabkan kekufuran dan kekekalan di neraka.

Sebagai tambahan, perlu diketahui bahwa zina memiliki hukuman yang di sebut HADD, sebagaimana yang tertera di banyak dalil, yaitu hukuman cambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah, dan hukuman rajam hingga mati bagi pezina yang sudah menikah, akan tetapi penetapan hukum ini tidak diserahkan kepada setiap individu muslim, namun melalui proses pengadilan di tangan hakim setelah terbukti.

Akan tetapi perbuatan zina tidak memiliki jenis kaffarah yang spesifik seperti pada dosa-dosa lainnya seperti dengan berpuasa, memberi makan fakir miskin dan sebagainya, namun kaffaaroh zina hanya dengan satu cara, yaitu taubat nasuha! dengan cara meninggalkan dosa itu selama-lamanya, memohon ampunan darinya, menyesal telah melakukannya, tekad yang kuat untuk tidak mengulangi dan memperbanyak ibadah setelahnya.

Maka apabila seorang muslim berzina, maka hendaklah ia menutupi dosanya dan tidak membongkarnya sendiri, kemudian bertaubat dan memenuhi syarat-syarat taubat diatas. Maka apabila ia telah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat Allah akan mengampuninya, adapun jika tidak bertaubat dan wafat dalam keadaan itu, maka ia berada dibawah kehendak Allah Ta’ala semata, antara diazab atau diampuni, maka dari itu, hendaklah seorang muslim apabila telah melakukan suatu dosa, apapun itu, segera mungkin bertaubat darinya, dan tidak menunda-nundanya, karena wafat dalam keadaan belum bertaubat berarti menceburkan diri ke dalam kemungkinan diazab oleh Allah Ta’ala, dan azab-Nya sungguh lah pedih.

Sumber: http://mawdoo3.com/
Alih Bahasa: Muhammad Hadhrami

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: