Pengertian Iman

optimized-allah.jpg

Pengertian Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah; ikrar dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Jadi, Iman itu mencakup tiga hal :
1. Ikrar dengan hati.

2. Pengucapan dengan lisan.

3. Pengamalan dengan anggota badan.
Jika keadaannya demikian, maka iman itu akan bisa bertambah atau bisa saja berkurang. Lagi pula nilai ikrar itu tidak selalu sama. Ikrar atau pernyataan karena memperoleh satu berita, tidak sama dengan jika langsung melihat persoalan dengan kepala mata sendiri. Pernyataan karena memperoleh berita dari satu orang tentu berbeda dari pernyataan dengan memperoleh berita dari dua orang. Demikian seterusnya. Oleh karena itu, Ibrahim ‘Alaihis Sallam pernah berkata seperti yang dicantumkan oleh Allah dalam Al-Qur’an.

رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

“Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati. Allah berfirman : ‘Apakah kamu belum percaya’. Ibrahim menjawab : ‘Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya”. (QS. Al-Baqarah : 260)

Iman akan bertambah tergantung pada pengikraran hati, ketenangan dan kemantapannya. Manusia akan mendapatkan hal itu dari dirinya sendiri, maka ketika menghadiri majlis dzikir dan mendengarkan nasehat didalamnya, disebutkan pula perihal surga dan neraka; maka imannya akan bertambah sehingga seakan-akan ia menyaksikannya dengan mata kepala. Namun ketika ia lengah dan meninggalkan majlis itu, maka bisa jadi keyakinan dalam hatinya akan berkurang.

Iman juga akan bertambah tergantung pada pengucapan, maka orang berdzikir sepuluh kali tentu berbeda dengan yang berdzikir seratus kali. Yang kedua tentu lebih banyak tambahannya.

Demikian halnya dengan orang yang beribadah secara sempurna tentunya akan lebih bertambah imannya ketimbang orang yang ibadahnya kurang.

Dalam hal amal perbuatan pun juga demikian, orang yang amalan dengan anggota badannya jauh lebih banyak daripada orang lain, maka ia akan lebih bertambah imannya daripada orang yang tidak melakukan perbuatan seperti dia.

Tentang bertambah atau berkurangnya iman, ini telah disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا

“Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab yakin dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya”. (QS. Al-Mudatstsir : 31)

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ

“Dan apabila diturunkan suatu surat, maka diantara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata : ‘Siapa di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini ?’ Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. (QS. At-Taubah : 124-125)

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa kaum wanita itu memiliki kekurangan dalam soal akal dan agamanya. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya bahwa iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.

Namun ada masalah yang penting, apa yang menyebabkan iman itu bisa bertambah? Ada beberapa sebab, di antaranya:

• Mengenal Allah (Ma’rifatullah) dengan nama-nama (asma’) dan sifat-sifat-Nya. Setiap kali marifatullahnya seseorang itu bertambah, maka tak diragukan lagi imannya akan bertambah pula. Oleh karena itu para ahli ilmu yang mengetahui benar-benar tentang asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya lebih kuat imannya daripada yang lain.

• Memperlihatkan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang berupa ayat-ayat kauniyah maupun syar’iyah. Seseorang jika mau memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat kauniyah Allah, yaitu seluruh ciptaan-Nya, maka imannya akan bertambah. Allah Ta’ala berfirman:

وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (QS. Adz-Dzariyat : 20-21).

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa jika manusia mau memperhatikan dan merenungkan alam ini, maka imannya akan semakin bertambah.

• Banyak melaksanakan ketaatan. Seseorang yang mau menambah ketaatannya, maka akan bertambah pula imannya, apakah ketaatan itu berupa qauliyah maupun fi’liyah. Berdzikir umpamanya akan menambah keimanan secara kuantitas dan kualitas. Demikian juga shalat, puasa dan haji akan menambah keimanan secara kuantitas maupun kualitas.

Adapun penyebab berkurangnya iman adalah kebalikan daripada penyebab bertambahnya iman, yaitu:

• Jahil terhadap asma’ Allah dan sifat-sifat-Nya. Ini akan menyebabkan berkurangnya iman. Karena, apabila mari’fatullah seseorang tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya itu berkurang, tentu akan berkurang juga imannya.

• Berpaling dari tafakkur mengenai ayat-ayat Allah yang kauniyah maupun syar’iyah. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya iman, atau paling tidak membuat keimanan seseorang menjadi statis tidak pernah berkembang.

• Berbuat maksiat. Kemaksiatan memiliki pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan seseorang. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Tidaklah seseorang itu berbuat zina ketika melakukannnya sedang ia dalam keadaan beriman”. (Al-Hadits)

• Meninggalkan ketaatan. Meninggalkan keta’atan akan menyebabkan berkurangnya keimanan. Jika ketaatan itu berupa kewajiban lalu ditinggalkannya tanpa udzur, maka ini merupakan kekurangan yang dicela dan dikenai sanksi. Namun jika ketaatan itu bukan merupakan kewajiban, atau berupa kewajiban namun ditinggalkannya dengan udzur (alasan), maka ini juga merupakan kekurangan, namun tidak dicela. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menilai kaum wanita sebagai manusia yang kurang akal dan kurang agamanya. Alasan kurang agamanya adalah karena jika ia sedang haid tidak melakukan shalat dan puasa. Namun ia tidak dicela karena meninggalkan shalat dan puasa itu ketika sedang haid, bahkan memang diperintahkan meninggalkannya. Akan tetapi jika hal ini dilakukan oleh kaum laki-laki, maka jelas akan mengurangi keimanannya dari sisi yang satu ini.

Rukun iman terbagi menjadi enam yaitu:

  1. Iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala
  2. Iman kepada para Malaikat
  3. Iman kepada Kitab-kitab
  4. Iman kepada para Rasul
  5. Iman kepada Hari Kiamat
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar

Hadits tentang iman

“Engkau beriman kedapa Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”. (QS. Ali-Imran: 190).

1. Iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala

Yaitu percaya kepada Allah, orang yang beriman kepada Allah akan mendapatkan ketengan jiwa yang muncul dari kalbu secara ikhlas. Adapun yang utama kita beriman kepada Allah yaitu kita menyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”. (QS. An-Nisa:175).

2. Iman kepada para Malaikat

Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. dapat dibagi kepada dua macam: pertama, yang ghaib (al-ghaib), dan kedua, yang nyata (as-syahadah). Yang membedakan keduanya adalah bisa dan tidak bisanya dijangkau oleh pancaindera manusia. Seseuatu yang tidak bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan kepada yang ghaib, sedangkan sesuatu yang bisa dijangkau oleh pancaindera manusia digolongkan kepada yang as-syahadah atau nyata.

Bagaimana kita mengimani dan mengetahui wujud malaikat yaitu, pertama melalui akhbar yang disampaikan oeh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah. Kedua lewat bukti-bukti nyata yang ada dalam semesta yang menunjukan bahwa Malaikat itu ada.

– Pengertian Malaikat

Secara etimologis kata Malaikah adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari al-alukah artinya ar-risalah (missi atau pesan). Secara terminologis Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari cahaya dengan wujud dan sifat-sifat tertentu. Jumlah Malaikat yang wajib kita tahu ada sepuluh dengan masing-masing tugas yang Allah berikan kepadanya.

3. Iman kepada Kitab-kitab

Secara etimologis kata kitab adalah bentuk masdhar dari kata ka-ta-ba yang berarti menulis. Setelah menjadi mashdar berarti tulisan, atau yang ditulis.

Secara terminologis Al-Kitab adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. kepada para Nabi dan RasulNya.

Adapun kitab-kitab yang wajib kita tahu ada empat yaitu:

•Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

•Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam.

•Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam.

•Kitab Suci Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Iman kepada para Rasul

Secara etimologis Nabi berasal dari na-ba artinya ditinggikan, atau dari kata na-ba-a artinya berita. Dalam hal ini seorang Nabi adalah seseorang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan memberinya berita (wahyu). Sedangkan Rasul berasal dari kata ar-sa-la artinya mengutus. Setelah dibentuk menjadi Rasul berarti yang diutus. Dalam hal ini seorang Rasul adalah seorang yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala. untuk menyampaikan misi, pesan (ar-risalah).

Secara terminologis Nabi dan Rasul adalah manusia biasa, laki-laki, yang dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala. untuk menerima wahyu. Apabila tidak diiringi dengan kewajiban menyampaikan atau membawa satu misi tertentu, maka dia disebut Nabi saja. Namun bila diikuti dengan kewajiban menyampaikannya atau membawa satu misi tertentu maka dia disebut juga Rasul. Adapun jumlah Nabi dan sekaligus Rasul ada dua puluh lima orang.

5. Iman kepada Hari Kiamat

Yang dimaksud hari akhir adalah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan yang kekal sesudah kehidupan di dunia fana ini berakhir, termasuk semua proses dan peristiwa yang terjadi pada Hari itu, mulai dari kehancuran alam semesta dan seluruh isinya, serta berakhirnya seluruh kehidupan (Qiyamah), kebangkitan seluruh umat manusia dari dalam kubur (Ba’ats), dikumpulkannya seluruh umat manusia di padang mahsyar (Hasyr), perhitungan seluruh amal perbuatan manusia di dunia (Hisab), penimbangan amal perbuatan tersebut untuk mengetahui perbandingan amal baik dan amal buruk (Wazn), sampai kepada pembalasan dengan surga atau neraka (Jaza’).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepada melainkan dengan tiba-tiba….”. (QS. Al-A’raf: 187)

6. Iman kepada Qadha dan Qadar

Secara etimologis Qadha adalah bentuk mashdar dari kata kerja qadha yang berari kehendak atau ketetapan hukum. Dalam hali ini Qadha adalah kehendak atau ketetapan hukum Allah subhanahu wa ta’ala. terhadap segala sesuatu. Sedangkan Qadar secara etimologis adalah bentuk mashdar dari qadara yang berarti ukuran atau ketentuan. Dalam hali ini Qadar adalah ukuran atau ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala. terhadap segala sesuatu. Secara terminologis ada ulam yang berpenapat kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang sama, dan ada pula yang membedakannya. Yang membedakan, mendefinisikan Qadar sebagai: “Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Tentang apa-apa yang akan terjadi pada seluruh makhlukNya pada masa yang akan datang”. Dan Qadha adalah: “Penciptaan segala sesuatu oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sesuai dengan ilmu dan IradahNya”.

• Hal – hal yang membatalkan iman

Pembatal iman atau “nawaqidhul iman” adalah sesuatu yang dapat menghapuskan iman sesudah iman masuk didalamnya yakni antara lain:

1.Mengingkari rububiyah Allah atau sesuatu dari kekhususan- kekhususanNya, atau mengaku memiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya.

2.sombong serta menolak beribadah kepada Allah

3.menjadikan perantara dan penolong yang ia sembah atau ia mintai (pertolongan) selain Allah.

4.menolak sesuatu yang ditetapkan Allah untuk diriNya atau yang ditetapkan oleh RasulNya.

5.mendustakan Rasullullah.

6.mengolok-olok atau mengejek-ejek Allah atau Al-Qur’an atau agama Islam atau pahala dan siksa yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasullullah atau seorang Nabi, baik itu gurauan maupun sungguhan, dan lain sebagainya.

Oleh : Abu Hamzah al-Sanuwi dan Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag

Kita mempercayai qadar baik dan buruk. Yang demikian adalah ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi alam yang ada ini sesuai dengan pengetahuan dan ketentuan Allah Subhanahu wa ta’ala serta hikmah-hikmah yang ditetapkan-Nya.

Qadar itu ada empat peringkat:

1. Ilmu

kita mempercayai, bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala itu mengetahui segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan bagaimana kejadiannya. Itu semua diketahui Allah dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Pengetahuan Allah tentang segala sesuatu tidaklah baru dan tidak didahului oleh ketidaktahuan. Dia tidak pula bersifat lupa karena keabadian ilmu-Nya yang tidak berawal dan tidak berakhir.

2. Kitabah

Kita mempercayai bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari kiamat di lauh mahfuzh, firman Allah dalam al-Qur’an:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالأَّرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابِ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ[ الحج:70 ]

“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam bentuk kitab (lauh mahfuzh), sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

3. Masyi’ah

Kita mempercayai bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala telah menentukan segala sesuatu baik di langit maupun di bumi sesuai dengan masyi’ah (kehendak)-Nya. Segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, dia akan terjadi, kalau Allah tidak menghendaki, maka dia tidak akan terjadi.

4. Al-Khalq (penciptaan).

Kita mempercayai bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah pencipta segala sesuatu. Sebagaimana firman-Nya:

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلَ ! لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ[ الزمر: 62-63]

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi.” (QS. Al-Zumar: 62-63)

Keempat peringkat ini mencakup apa yang dari Allah dan apa yang dari hambanya. Maka segala sesuatu yang dilakukan hambanya, baik perkataan maupun perbuatan dan apa yang tidak dilakukan, semua itu diketahui oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- dan telah tertulis di sisi-Nya dan dikehendaki-Nya serta diciptakan-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيْمَ ! وَمَا تَشَاؤُوْنَ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ[ْ التكوير: 28-29]

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila kalau dikehendaki Allah Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 28-29)

Dan firman Allah:

وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا اقْتَتَلُوْا وَلَكِنَّ اللهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ [ البقرة::253 ]

“Seandainya Allah menghendaki tidaklah mereka berbunuh-bunuhan, akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS.Al-Baqarah: 253)

Dan firman Allah:

وَلَوْ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلُوْهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ[ الأنعام:137 ]

“Dan jika Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakan, dan tinggallah mereka dan apa-apa yang mereka ada-adakan.” (QS.Al-An’am: 137)

Dan firman Allah:

وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ[ الصافات: 96 ]

“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan segala yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Shaffat: 96)

Di samping kita meyakini, bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan ikhtiar (kebebasan berbuat atau tidak berbuat) dan qudrah (kemampuan) bagi hamba-Nya untuk melakukan sesuatu perbuatan. Dalil bahwa perbuatan manusia adalah atas ikhtiar dan qudrahnya sendiri adalah firman Allah, antara lain:

Pertama:

فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ[ البقرة: 223 ]

“Maka datangilah ladang tempat engkau bercocok tanam itu sebagaimana kamu kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 223)

وَلَوْ أَرَادُوا اْلُخُرُوْجَ َلأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً[ التوبة: 46 ]

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala, dalam ayat di atas, menetapkan bahwa seorang hamba berhak mendatangi ladangnya (istrinya) sesuai kehendaknya dan boleh mengadakan persiapan sesuai kemauannya.

Kadua: Memberikan perintah atau larangan kepada hamba adalah berdasarkan pertimbangan adanya ikhtiar (kebebasan berbuat atau tidak berbuat) dan qudrah (kemampuan) hamba, berarti Allah memberikan perintah atau larangan kepada hamba untuk sesuatu yang tak mungkin dilaksanakan atau ditinggalkan (karena tak ada ikhtiar dan qudrah pada hamba tersebut), dan ini pasti mustahil bagi Allah subhanahu wa ta’ala, karena bertentangan dengan hikmah dan rahmah Allah.

Allah berfirman:

وَلاَ يُكَلِّفُ اللهُ إِلاَّ وُسْعَهَا[ البقرة: 286 ]

“Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ketiga: Pujian bagi yang berbuat baik dan celaan bagi yang berbuat jahat, serta memberikan balasan masing-masing sesuai dengan perbuatan mereka. Sekiranya suatu perbuatan terjadi bukan atas kehendak dan ikhtiar manusia, tidaklah ada artinya pujian dan celaan atau hukuman itu, pujian bagi orang yang berbuat baik akan berarti main-main (sia-sia) dan celaan serta hukuman bagi yang berbuat jahat akan berarti penganiayaan. Dan suatu yang tidak ada artinya (sia-sia) dan mengandung penganiayaan tentu mustahil bagi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Keempat: Allah mengutus para Rasul-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.

Firman Allah:

رُسُلًا مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِريْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةً بَعْدَ الرَّسُلِ [النساء:165 ]

“(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” (al-Nisa: 165)

Kalau perbuatan manusia terjadi tidak atas kehendak dan ikhtiarnya tentu kerasulan itu tidak dapat menjadi hujjah atas mereka.

Kelima: Setiap orang dalam berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, merasa tidak ada yang memaksanya. Dia berdiri semaunya, dia duduk, masuk, dan keluar, dia berjalan atau tidak berjalan atas kemauannya sendiri, dan tidak merasakan ada seseorang yang memaksanya melakukan itu semua. Dia dapat membedakan antara perbuatan yang dilakukan karena dipaksa orang lain dan perbuatan atas kemauan sendiri. Begitu juga agama Islam, ia membedakan dengan penuh kebijaksanaan antara orang yang berbuat secara terpaksa dan yang berbuat dengan kehendaknya, yaitu dengan tidak menindak orang yang karena terpaksa ia melanggar hal-hal yang berkenaan dengan hak Allah.

Dengan demikian, tidak benar alasan orang yang berbuat maksiat bahwa perbuatan itu sudah merupakan taqdir Allah atas dirinya, karena ia melakukan maksiat itu dengan kehendaknya tanpa ia ketahui bagaimana qadar Allah atas dirinya dan tak seorangpun tahu apa qadar Allah kecuali sesudah terjadi. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَا ذَا تَكْسِبُ غَدًا[ لقمان: 34 ]

“Dan tidak seorang pun mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya esok.” (QS. Luqman: 34)

Maka, tidaklah dibenarkan oleh akal sehat seseorang beralasan dengan qadar (taqdir) yang hal itu tidak diketahuinya saat berani melakukan suatu perbuatan. Allah membatalkan cara-cara beralasan yang demikian dalam firman-Nya:

سَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ أَشْرَكُوْا لَوْ شَاَء اللهُ مَا َأشْرَكْنَا وَلاَ آَبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوْا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ ِعلْمٍ فَتَخْرُجُوْهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُوْنَ إِلاَّ الَّظنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلاَّ تَخْرُصُوْنَ[ الأنعام: 148 ]

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan akan berkata: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukannya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apapun”, Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehinggaa dapat kamu kemukakan kepada kami. Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tiada lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am: 148).

Kita dapat mengatakan kepada orang-orang yang berbuat maksiat dengan alasan sudah taqdir Allah: “Mengapa kalian tidak melakukan perbuatan taat dengan alasan itu juga sudah taqdir Allah Subhanahu wa ta’ala? Sebab, tidak ada bedanya antara perbuatan taat dan maksiat yang belum jelas taqdirnya sebelum engkau lakukan. Untuk itulah tatkala Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam bersabda kepada para sahabatnya bahwa setiap pribadi telah ditentukan tempatnya apakah di syurga atau di neraka, maka salah seorang sahabat bertanya: “Kalau begitu kita pasrah saja kepada qadar yang tertulis itu dan tidak usah berbuat?”, Maka rasulullah menjawab: “Jangan, kamu harus berbuat. Dan masing-masing akan digiring menuju ketentuan yang telah digariskan oleh Allah.”

Demikian juga dapat kita katakan kepada orang yang berbuat maksiat dengan alasan sudah taqdir, bahwa anda bermaksud pergi ke Makkah, dan untuk ke Makkah itu ada dua jalan, anda diberitahu oleh orang yang jujur terpercaya, bahwa jalan yang satu sulit dan menghawatirkan, dan yang satu lagi jalan yang mudah dan aman, maka dalam hal itu pasti anda akan memilih jalan yang mudah dan aman.

Dalam hal ini, jika anda sengaja pilih jalan yang sulit dan menghawatirkan lalu anda mengatakan bahwa jalan inilah yang ditaqdirkan buat anda, tentu anda akan di-cap sebagai orang yang gila.

Sebagaiman jika kepada anda ditawarkan dua jabatan, yang satu kedudukan yang baik dan gaji besar, dan yang satu lagi jabatan yang rendah dan gaji kecil, maka pastilah anda akan memilih pekerjaan yang bergaji besar, dan anda tidak akan memilih pekerjaan yang bergaji kecil. Lalu, mengapa anda, untuk amal akhirat, memilih untuk anda sendiri hal yang rendah nilainya dan kemudian anda berkata, bahwa inilah taqdir (qadar) yang telah ditentukan.

Demikian pula halnya dengan sakit jasmani yang anda derita. Pastilah anda akan mengetuk pintu setiap dokter untuk mengobati anda dan anda sabar atas pengobatannya itu, dan, jika perlu dilakukan operasi sekalipun, anda juga sabar. Dan betapapun pahitnya obat yang harus anda telan, andapun sanggup menelannya. Maka, mengapa hal itu tidak anda lakukan dalam mengobati penyakit hati anda oleh sebab maksiat?!

Sebab itu kita mempercayai, bahwa segala kejahatan dan hal-hal yang tidak baik itu tidak dapat dinisbatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena Allah penuh rahmat dan kasih sayang serta sempurna hikmah kebijaksanaan-Nya. Sebagaiman dikatakan oleh Nabi kita Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam- dalam sebuah do’a istiftah beliau:

( وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ) رواه مسلم

“Kejahatan dan keburukan tidaklah dinisbatkan kepada Engkau.” (HR. Muslim)

Qadha (ketentuan) Allah itu sendiri tidaklah buruk, karena, qadha Allah itu datang dari rahmat dan hikmah dari Allah. (kita tidak mengetahui apa hikmah yang sebenarnya dari qadha Allah yang ditetapkan bagi kita).

Hal yang buruk itu adanya pada ketentuan yang terjadi. Sebagaimana disebutkan dalam do’a yang diucapkan Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam di waktu membaca do’a qunut:

( وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ)

“Dan jauhkanlah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tentukan.”

Hal yang tidak baik itu bukanlah semata-mata tidak baik secara keseluruhan, tetapi dari sisi lain, mungkin ada baiknya. Kerusakan di atas permukaan bumi yang berbentuk ketandusan, kelaparan dan rasa takut adalah hal yang tidak baik, tetapi dari segi lain ada kebaikan. Sebagaiman firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادَ فِي اْلَبِّر وَاْلبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاِس لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ[ الروم: 41 ]

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)

Pemberian hukuman potong tangan kepada pencuri dan hukuman rajam bagi pezina adalah sesuatu yang buruk bagi mereka, karena mereka kehilangan tangan dan nyawa. Tetapi, dari segi lain adalah baik baginya karena hukuman itu menjadi kafarat (penghapus dosanya). Dengan demikian, mereka tidak diadzab lagi di hari kemudian, karena mereka tidak akan menerima dua adzab dalam satu perbuatan (hukuman dunia dan hukuman akhirat). Di samping itu, dari sisi lain juga merupakan kebaikan, karena di dalamnya terdapat upaya untuk menjaga harta dan memelihara kehormatan dan keturunan.

Abu Bakr Jabir al-Jazairi

Qadha’ adalah keputusan Allah Ta’ala sejak zaman azali tentang ada dan tidaknya sesuatu. Sedang, takdir adalah penciptaan Allah Ta’ala terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan di waktu tertentu.

Orang Muslim beriman kepada qadha‘ dan takdir Allah Ta’ala, hikmah-Nya, dan kehendak-Nya. Dia yakin bahwa tidak ada satu pun perbuatan sukarela manusia tanpa pengetahuan Allah Ta’ala dan takdir-Nya, Mahabijaksana dalam semua pengaturan-Nya dan tindakan-Nya, bahwa hikmah-Nya itu mengikuti kehendak-Nya. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki mustahil terjadi dan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Ta’ala. Orang Muslim meyakini itu semua karena dalil-dalil wahyu, dan dalil-dalil akal.

Dalil-Dalil Wahyu

“Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.” (At-Taubah: 51).

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melaikan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Al-An’am: 59).

“Dan kalian tidak akan dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29).

Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (QS. Al-Anbiya’: 101).

“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkata kamu memasuki kebunmu, ‘Sungguh, atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah’.” (QS. Al-Kahfi: 39).

“Dan kami sekali-kali tidak akan mendapatkan petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk.” (QS. Al-A’raaf: 43).

Penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.tentang hal tersebut dalam sabda-sabdanya, seperti sabda-sabdanya berikut ini.

“Sesungguhnya penciptaan salah seorang dari kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (sperma), kemudian berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi mudghah (sepotong daging) selama empat puluh hari, kemudian malaikat dikirim kepadanya kemudian malaikat meniupkan ruh padanya, dan malaikat tersebut diperintahkan empat hal: menuliskan rizkinya, menuliskan ajalnya, menuliskan amal perbuatannya, dan menuliskan apakah ia celaka, atau bahagia. Demi Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, hingga ketika jaraknya dengan surga cuma satu lengan, tiba-tiba ketetapan berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal perbuatan penghuni neraka, dan ia pun masuk neraka. Sesungguhnya salah seorang dari kalian pasti mengerjakan amal perbuatan penghuni neraka, hingga ketika jaraknya dengan neraka cuma satu lengan, tiba-tiba ketetapan berlaku padanya kemudian ia mengerjakan amal perbuatan penghuni surga, dan ia masuk surga.” (HR. Muslim).

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu:

“Hai anak muda, aku ajarkan beberapa kalimat kepadamu: Jagalah Allah (hukum-hukum-Nya) niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah niscaya Allah berpihak kepadamu. Jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika umat bersatu untuk memberi manfaat kepadamu, maka mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu apa pun, kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Jika mereka bersatu untuk memberikan madharat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi madharat kepadamu dengan sesuatu apa pun, kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (Diriwayatkan At-Tarmidzi dan ia men-shahih-kannya).

“Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah Ta’ala ialah pena, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Tuhanku, apa yang harus saya tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takaran (takdir) segala sesuatu hingga hari kiamat.” (Diriwayatkan Ahmad dan At-Tarmidzi dari Ubadah. Hadits ini hasan)

“Musa dan Adam berdebat. Musa berkata, “Hai Adam, engkau ayah kita. Engkau telah merugikan kita dan mengeluarkan kita dari surga. Adam berkata. ‘Engkau Musa, telah dipilih Allah untuk berbicara dengan-Nya dan Allah menulis Taurat untukmu dengan Tangan-Nya, apakah engkau mencelaku karena sesuatu yang telah ditentukan (ditakdirkan) Allah untukku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku?’ Adam pun mengalahkan Musa.” (QS. Muslim)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. ketika mendefinisikan iman:

“Hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, baik buruknya.” (QS. Muslim)

“Berbuatlah kalian, karena semua orang dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya.” (QS. Muslim).

“Sesungguhnya nadzar itu tidak menolak qadha’.” (Diriwayatkan Jama’ah. Hadits ini shahih).

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. kepada Abdullah bin Qais:

“Hai Abdullah bin Qais, maukah engkau aku ajari salah satu kalimat dari khazanah surga? Yaitu ucapan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah (laa hawla walaa quwwata illa billah).” (Muttafaq Alaih).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda kepada orang yang berkata:

“Apa yang dikehendaki Allah dan engkau kehendaki” (maa syaa-allah wa syi’ta), “Katakan: ‘Apa yang dikehendaki Allah saja’ (maa syaa-allahu wahdah).” (Diriwayatkan An-Nasai yang men-shahih-kannya).

Keimanan miliaran ulama-ulama, orang-orang bijak, dan orang-orang shalih dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam., dan umat selain umat Muhammad kepada qadha’ Allah Ta’ala, takdir-Nya, Hikmah-Nya, Kehendak-Nya. Bahwa segala sesuatu itu telah diketahui sebelumnya, bahwa segala sesuatu sebelumnya telah ditakdirkan, bahwa tidak terjadi pada kekuasaan-Nya kecuali apa yang Dia inginkan, bahwa apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi, dan bahwa pena telah menulis takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.

Dalil-Dalil Akal

Sesungguhnya akal sedikit pun tidak memustahilkan adanya qadha’ Allah, takdir-Nya, kehendak-Nya, hikmah-Nya, keinginan-Nya, dan pengaturan-Nya. Bahkan, akal mewajibkannya karena itu semua terlihat pada alam semesta ini.

Beriman kepada Allah, dan kepada kemampuan-Nya menghendaki beriman kepada qadha‘, takdir, hikmah, dan kehendak-Nya.

Jika seorang arsitektur membuat desain salah satu istana, dan menentukan masa realisasinya, kemudian ia membangunnya. Maka, pada saat yang telah direncanakan, istana tersebut dari desain berubah menjadi istana yang sesungguhnya persis seperti yang terlihat dalam desain tanpa mengalami sedikitpun pengurangan atau penambahan. Maka, bagaimana Allah Ta’ala tidak dipercayai tidak menentukan takdir dunia hingga hari kiamat? Kemudian, karena kesempurnaan kemampuan-Nya, dan ilmu-Nya, apa yang telah ditentukan Allah tersebut keluar persis seperti yang telah Dia tentukan takarannya, caranya, waktunya, dan tempatnya. Ini disertai dengan kenyataan, bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 60-65.


Artikel : www.hisbah.net

Ikuti update artikel Hisbah di Fans Page Hisbah
Twitter @Hisbahnet, Google+ Hisbahnet

953 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: