Penyebab Utama  Kedurhakaan Anak

lelah-1.jpg

Tidak diragukan lagi bahwa penyebab utama terjadinya kedurhakaan anak adalah karena kesalahan orang tua dalam mendidik anak dan rusaknya dasar-dasar pendidikan yang diberikan sejak masa kecil, baik dengan cara memanjakan anak maupun dengan cara kekerasan yang berlebihan.

Pola yang paling tepat untuk mencapai pendidikan yang sukses adalah dengan menggunakan cara yang lemah lembut dalam segala sesuatu.

Di mana Allah ta’ala telah memerintahkan kepada Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menggunakan pola ini dalam mendidik para sahabat dan memperingatkan kepada beliau agar menghindari cara kekerasan dan paksaan.

Sebagaimana firman Allah ta’ala,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Qs. Ali Imran : 159)

Diriwayatkan dari Aisyah –semoga Allah meridhainya-, ia berkata, bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

Sesungguhnya sikap lemah lembut itu tidak berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak terlepas dari sesuatu kecuali akan memburukkannya (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)

Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhai keduanya-,ia berkata bahwa Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

مَا أَعْطَى أَهْلُ بَيْتِ الرِّفْقَ إِلَّا نَفَعَهُمْ

Tidaklah sebuah keluarga diberikan sikap lemah lembut kecuali pasti akan bermanfaat bagi mereka. “ (as-Suyuthiy dalam kitab Shahih al-Jami’ (5541), dan menurut al-Albaniy statusnya adalah shahih)

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa sikap lemah lembut adalah pola yang paling tepat dalam pendidikan anak. Dan hendaknya orang tua mengetahui bahwa sifat anak-anak adalah cenderung bersalah.

Oleh karenanya, tidak dibenarkan bagi orang tua untuk tergesa-gesa memberikan hukuman ketika mengetahui anaknya melakukan suatu kesalahan. Akan tetapi, hendaknya menyikapinya dengan bijaksana dan lemah lembut lewat nasehat-nasehat, arahan-arahan, dan petunjuk-petunjuk yang benar …dan seterusnya.

Alangkah indahnya penuturan seorang penyair yang mengatakan,

Siapakah orang yang semua sifatnya dapat diridhai,

          tapi cukuplah seseorang itu dianggap mulia jika celanya dapat dihitung jari  

(Syair Ali bin al-Jahm)

Penyair yang lain melantunkan,

Bersikap sabarlah dan jangan tergesa-gesa mencerca kawan,

                                boleh jadi ketika Anda mencercanya ternyata Ia mempunyai alasan

(Syair Da’bal al-Khuza’i)

Pelopor ilmu sosiologi, Abdurrahan bin Khaldun, memperingatkan para pendidik dari penggunaan cara kekerasan dalam mendidik. Karena, cara tersebut sering kali mendorong kepada kemunafikan, tipuan dan kegagalan.

Ia mengatakan, “Barangsiapa yang dididik dengan cara kekerasan, maka hal itu akan mendorongnya berbuat dusta dan cela, yaitu menampakkan sikap yang menyalahi dhamirnya. Lantaran takut tindakan tangan yang memaksanya, lalu ia pun mengetahui makar dan tipuan untuk menghindarinya. Sehingga, hal tersebut menjadi adat kebiasaan yang mendarah daging dan rusaklah nilai-nilai kemanusiaannya…selanjutnya ia akan menjadi orang yang selalu bergantung kepada orang lain dalam hal itu. Bahkan, membuat dirinya menjadi malas untuk mempelajari nilai-nilai luhur dan akhlak yang mulia.”

Ustad Jamal al-Kasyif mengatakan, “Seorang anak yang diliputi dengan undang-undang pagar dan rel kereta yang keras dalam keluarga, pasti akan mampu menghancurkannya atau mencari-cari celah bagi dirinya untuk lari menghindar darinya, cepat maupun lambat.

Sebaliknya, seorang anak yang diliputi dengan sikap percaya diri, cinta, kasih sayang dan pengertian, jarang sekali melanggar janji yang disepakat. Dan justru ia akan selalu berusaha untuk menikmati sikap percaya diri, cinta, kasih sayang, dan pengertian yang dirasakannya. Dan akan menjadikannya sebagai rem untuk menghentikan dirinya dari membuat pelanggaran dan menerjang larangan, sehingga menguatlah dalam dirinya sikap jujur, terus terang, amanat, dan kelembutan.(Kaifa Tata’amalina Ma’a Abna-ika, Jamal al-Kasyif)

Karenanya, Ibnu Khaldun menganjurkan kepada orang tua agar menggunakan metode pendidikan yang lembut dan kasih sayang dalam mendidik anak-anaknya, karena pola inilah yang terbukti membuahkan hasil yang baik.

Ibnu Khaldun mengatakan, “Hendaknya seorang pendidik dan orang tua tidak menggunakan cara kekerasan dalam mendidik anak asuh dan anak kandungnya (Muqaddimah Ibnu Khaldun)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa pendidikan yang sukses adalah seni yang memiliki dasar-dasar yang harus diketahui oleh setiap orang agar anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi generasi yang shaleh sebagaimana yang mereka harapkan, dan jauh dari kemungkinan menjadi seorang anak yang durhaka.

Wallahu A’lam

Sumber :

Dinukil dari “Nasehat Agar Anak Tidak Durhaka”, Sa’ad Karim al-Fiqqi, dengan sedikit gubahan.

Amar Abdullah bin Syakir

 

 

99 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: