Petunjuk Nabi dalam Berpuasa

Untitled-1-2.jpg

Rasulullah  bersabda,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kalian berpuasa (pada siang hari)nya (HR. Ahmad di dalam al-Musnad, no. 7148).

Bagaimana kita berpuasa ala Nabi ? berikut adalah beberapa petunjuk beliau dalam hal tersebut :

 

  • Niat di Malam Hari Sebelum Terbit Fajar

Termasuk petunjuk Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hal ini adalah niat di malam hari sebelum terbitnya fajar. Hafshah-salah seorang istri Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- meriwayatkan bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya (HR. Abu Dawud, no. 2456).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Barang siapa tidak berniat puasa sejak malam hari maka tidak ada puasa baginya (HR. an-Nasai, no. 2334)

Oleh karena itu, jangan sampai Anda tidak berniat di malam hari sebelum fajar untuk berpuasa. Karena, kata al-Khaththabiy, ketika memahami sabda beliau di atas mengatakan,  “ dan di dalamnya (di dalam hadis ini, riwayat Abu Dawud) terdapat keterangan bahwa barangsiapa yang terlambat niatnnya untuk berpuasa dari awal waktunya (yakni, terbit fajar), maka puasanya rusak (tidak sah). (Aunul Ma’bud, 7/89)

Niat secara bahasa, yaitu, memaksudkan sesuatu tertentu dan keinginan hati untuk melakukan hal tersebut. (al-Majmu, an-Nawawi, (1/360)

 

  • Sahur

Termasuk petunjuk beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- juga adalah Sahur, yaitu mengonsumsi makanan ataupun minuman pada waktu sahar (akhir malam menjelang terbit fajar).

Rasulullah  bersabda,

تَسَحَّرُوْا وَلَوْ بِجُرْعَةِ مِنْ مَاءٍ

Sahurlah meskipun hanya dengan minum seteguk air (HR. Ibnu Hibban, no. 3476)

Beliau  juga bersabda,

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً

Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam “sahur” itu terdapat keberkahan (HR. Al-Bukhari, no. 1923).

Dalam riwayat lain,

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِى السُّحُوْرِ بَرَكَةً

Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam “suhur” (santap makanan di waktu sahur) itu terdapat keberkahan (HR. Muslim, no.2603)

 

  • Mengakhirkan Pelaksanaan Santap Sahur

Termasuk petunjuk beliau juga adalah mengahirkan pelaksanaan santap sahur tersebut.

Anas bin Malik  meriwayatkan dari Zaed bin Tsabit, ia berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُوْرِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِيْنَ آيَةً

kami (para sahabat) pernah santap sahur bersama Nabi  (setelah selesai) kemudian beliau bangkit untuk mengerjakan shalat (Subuh), aku (yakni, Anas bin Malik) bertanya (kepada Zaed bin Tsabit) ,”berapa lama rentang waktu antara (dikumandangkannya) Azan dan proses santap sahur selesai ? Ia (Zaed) menjawab,” sekitar (lamanya dibacakan) 50 ayat  (HR. Al-Bukhari, no. 1921). Dalam riwayat lain,

قَدْرُ خَمْسِينَ أَوْ سِتِّينَ يَعْنِي آيَةً

,” (sekitar (lamanya dibacakan) 50 atau 60, yakni, ayat (HR. Al-Bukhari, no. 575)

 

  • Tidak melakukan Hal yang Dapat Membatalkan Puasa, Seperti Makan, Minum, Jima’, Muntah dengan Sengaja dll.

Ini juga termasuk petunjuk beliau. Allah berfirman,

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam (Qs. Al-Baqarah : 187)

 

  • Menjaga Segenap Anggota Badan dari Kesia-siaan dan Perbuatan Haram

Ini juga termasuk petunjuk Nabi-shallallahu ‘alaihi wasallam-. Siapa yang tidak menjaga anggota badannya dari tindak kesia-siaan apalagi perbuatan haram, niscaya puasanya tidak diterima dan tidak diberi ganjaran. Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya-meriwayatkan dari  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan tindakan dusta dan bodoh, niscaya Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minum (HR. Al-Bukhari, no. 1903).

Ibnu al-Munayyir di dalam al-Hasyiyah sebagaimana dinukil al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari– mengatakan, “Ungkapan, ‘niscaya Allah tidak butuh terhadap tindakannya meninggalkan makan dan minum’ merupakan kinayah bahwa puasa yang dilakukannya tidak akan diterima…sampai perkataannya… maka maksud ungkapan tersebut adalah ditolaknya puasa yang dicampuri dengan kedustaan (dan perkara haram lainnya), diterimanya puasa yang selamat dari perkara kedustaaan (dan perkara haram lainnya) (lihat, Fathul Baariy, 6/142).

Di tempat yang sama Ibnul Arobiy berkata, ‘konsekwensi dari hadis ini bahwa barang siapa melakukan hal yang Nabi sebutkan (yakni, “berkata dusta dan lainnya”) niscaya puasanya tidak diberi ganjaran. (Fathul Baariy, 6/142)

 

  • Segera Berbuka Bila Telah Tiba Waktunya (yaitu, dengan tenggelamnya matahari)

Ini juga termasuk petunjuk beliau. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

Bila malam telah muncul dari arah sana, dan siang telah meninggalkan dari arah sana dan matahari telah tenggelam, maka telah tiba saatnya orang yang berpuasa berbuka (HR. Al-Bukhari, no. 1954)

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka (kala telah tiba waktunya) (HR. Al-Bukhari, no. 1957 dan Muslim, no. 2608, dari Sahl bin Sa’ad). Dalam riwayat lain, beliau a bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ . عَجِّلُوْا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُوْدَ يُؤَخِّرُوْنَ

Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka (kala telah tiba waktunya), segeralah berbuka, karena orang-orang Yahudi selalu mengakhirkannya (HR. Ibnu Majah, no. 1698))

 

  • Berdoa saat berbuka

ini juga termasuk petunjuk beliau. Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhainya- berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ »

Rasulullah  kala berbuka puasa mengucapkan, “ Dzahabadzdzama-u Wab-Tallatil ‘Uruuqu Wa Tsabatal Ajru, Insya Allah (Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah) (HR. Abu Dawud, no. 2359)

Saudaraku…

Itulah beberapa petunjuk Nabi yang dapat penulis tuangkan dalam tulisan ini. Semoga puasa yang akan kita lakukan hingga akhirnya sesuai dengan petunjuk Nabi, sehingga apa yang menjadi maksud atau hikmah dari diwajibkannya ibadah yang mulia ini benar-benar dapat kita raih. Amin

 

Amar Abdullah bin Syakir

193 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: