Profesi Para Nabi dan Rosul “Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar” Kini  Terpikul di Pundakmu !

masjid-7.jpg

­Haruslah diketahui bahwa orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar hakekatnya mereka tengah mengemban tugas para Rasul di tengah-tengah  kaum mereka. Maka, sejauh mana manusia menyambut baik nasehat mereka maka sejauh itu pula potensi keselamatan mereka. Sebaliknya, sejauh mana manusia enggan untuk menyambut seruan mereka, maka potensi kebinasaan tak jauh dari pandangan mata. Bila mana ummat ini meninggalkan profesi ini (amar ma’ruf nahi munkar) niscaya hukuman akan menimpa manusia secara umum. Keselamatan tidak didulang melainkan oleh orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, mengajak manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah serta melarang mereka dari segala bentuk kemunkaran.

­Maka, apabila seorang muslim menginginkan untuk mewujudkan kebaikan dan melihat suatu jalan untuk mewujudkan kebaikan pada dirinya, kebaikan hatinya, kebaikan keluarganya, kebaikan anak-anaknya dan kebaikan dirinya beserta manusia semuanya, serta menginginkan dirinya menjadi sumber kebaikan maka hendaklah ia menempuh jalan terbaik, pendekatan diri kepada Allah, dan ketaatan-ketaatan yang dengannya akan mendekatakan seorang hamba kepada Rabbnya, maka hal itu tidak lain adalah amar ma’ruf nahi munkar.

­Ibnu Qayyim –semoga Allah merahmatinya- berkata :

­Sesungguhnya orang yang bermanfaat adalah yang diberkahi, dan sesuatu yang paling bermanfaat dan paling berkah dan diberkahi dari manusia di mana pun ia berada adalah dialah yang dapat diambil manfaatnya di mana pun keadaannya (Zaadul Ma’ad, 4/141)

­Ayat dan hadis dalam hal itu cukup banyak. Kesemuanya menunjukkan bahwa menjadi keniscayaan atas setiap muslim untuk beramar ma’ruf nahi munkar, membantu orang yang berupaya menegakkan syiar tersebut, masing-masing sesuai dengan kondisinya. Maka, orang yang meninggalkan pengingkaran terhadap kemungkaran padahal ia mampu untuk melakukan pengingkaran terhadap kemungkaran tersebut tak ubahnya seperti pelaku kemungkaran tersebut. Ia termasuk orang-orang fasik yang masuk dalam ancaman. Dan dengan saling tolong menolong dalam upaya melakukan pengingkaran terhadap kemungkaran akan tegaklah agama, sempurnalah kebaikan, dan akan tetap pula beragam kenikmatan, akan tetap ada adab dan akhlak yang baik. Dan, dengan meninggalkan hal tersebut dan pembiaran terhadap pelakunya niscaya akan menyebar kerusakan, akan nampak berbagai bentuk kefajiran dan kekejian, sehingga akan meratalah hukuman (dari Allah). Kita berlindung kepada Allah dari kemurkaan-Nya.

­Kalau begitu, maka wajib atas seorang muslim untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang dan mencegah dari yang munkar karena hal tersebut merupakan profesi islami yang paling mulia, bahkan merupakan profesi tertinggi. Hal tersebut merupakan profesi para Nabi dan para Rasul. Hal tersebut merupakan syiar yang tak terpisahkan dari agama. Dengan hal itu beragam keutamaan terjaga dan hal-hal hina bakal binasa, tangan orang-orang bodoh akan terbelenggu. Dan, meremehkan persoalan itu merupakan perkara yang sangat membahayakan, keburukannya akan tersebar kemana-mana, dan boleh jadi menjadi penyebab hukuman ditimpakan secara merata dan doa-doa yang dipanjatkan tak dikabulkan.

­Tidak boleh ummat ini keluar dari kewajibannya. Bagaimana ummat ini mengosongkan diri dari risalahnya dan mengosongkan diri dari keistimewaannya yang diberikan oleh Allah ta’ala dengan hal tersebut ?! apakah Allah mengeluarkan ummat ini agar berada di belakang sekelompok rombongan orang yang rela menjilat-jilat di belakang hewan tunggangan ?! Apakah Allah mengeluarkan umat ini agar menjadi pengekor bahkan seburuk-buruk makhluk jahiliyah ?! bukankah Allah mengeluarkan ummat ini agar menjadi pemimpin dan terdepan yang menyinari jalan dan sebagai saksi atas semua manusia ?

­Umat islamiyah adalah ummat yang tidak terbatas pada dirinya. Bahkan, ummat islamiyah adalah ummat yang dikeluarkan kepada manusia dengan membawa cahaya al-Qur’an dan Sunnah, suatu ummat yang berjalan dengan membawa cahaya di tengah-tengah manusia seluruhnya, tidak hanya di kalangan kaum muslimin semata. Ummat yang Allah perintahkan untuk berjalan di atas bumi seluruhnya (Lihat, al-Khulashah Fii Fiqhi al-Aqliyat, 1/34)

­Maka dari itu, harus kita ingatkan bahwa umat Islam memiliki tanggung jawab yang sangat besar tentang kerusakan yang terjadi pada hari ini di bumi. Dan, bahwa ummat ini tidaklah Allah keluarkan dan Allah jadikan sebagai sebaik-baik ummat dalam lintasan sejarah agar hidup pada batas wilayah dirinya semata. Bahkan, ia harus menjadi panglima untuk seluruh manusia. Allah ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ ۗ

­Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. (Qs. Ali Imran : 110)

­Kebaikan akan tetap meliputi manusia semuanya ketika ummat ini menegakkan risalahnya, menebarkan cahaya dan petunjuk di seluruh penjuru dunia, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah azza wa jalla.

­Wallahu A’lam

­Sumber :

­Waqafaat Ma-‘a Aayaati al-Hisbah Fii al-Qur’an al-Karim”, ­karya : Abu Abdirrahman Shadiq bin Muhammad al-Hadiy, hal. 67-69

 

 

­Amar Abdullah bin Syakir

 

 

 

 87 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top
%d blogger menyukai ini: